BacaanEkobisSamarinda

Adaptasi UMKM Samarinda Lewati Krisis: Omzet Justru Naik saat Pandemi

Pandemi Covid-19 membuat hampir semua sektor ekonomi melambat. Tak sedikit yang akhirnya harus gulung tikar. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dianggap sektor yang paling terpukul dari pandemi ini.

Pemerintah sebenarnya tidak tinggal diam melihat situasi ini. Menteri Keuangan Sri Mulyani sudah menyiapkan skema bantuan modal kerja untuk para UMKM untuk menghadapi krisis ini. Seperti dikutip dari Republika.co.id, pemerintah sudah menyiapkan berbagai skema bantuan. Di antaranya melalui penjaminan atau pembayaran premi asuransi untuk kredit macet UMKM. Opsi lainnya adalah penempatan dana ke BUMN yang terkait dengan pemberian jaminan kredit melalui bentuk Penyertaan Modal Negara (PMN).

Meski nantinya akan mendapat beberapa bantuan dari pemerintah, tentu para pengusaha tidak tinggal diam menunggu bantuan datang. Mereka dituntut untuk berfikir dan bekerja lebih keras agar dapat bertahan menghadapi masa krisis ini.

Mahakama.co berkesempatan berbincang dengan salah satu pengusaha kecil di Kota Samarinda dan mencari tahu cara mereka tetap bisa bertahan.
Pengusaha pertama adalah Rahmi, pedagang pakaian muslim wanita di daerah Gang Mesjid, Jalan Lambung Mangkurat. Rahmi mengakui bahwa memang omzet pendapatan tahun ini mengalami penurunan dibandingkan dengan Ramadan tahun lalu.

“Kalau bulan puasa 2019 sih, gampang banget untuk menutupi biaya modal usaha. Apalagi di daerah Gang Mesjid memang tempat orang-orang cari pakaian baru untuk Hari Raya Idulfitri. Tapi tahun ini, omzet sangat menurut. Bahkan pernah beberapa hari pendapatan toko cuma Rp 100 ribu,” keluh Rahmi.

Permasalahan ini pula yang membuat ia berfikir lebih kreatif agar barang-barang jualannya tetap laku. Salah satunya adalah dengan melakukan jualan secara virtual (live) di Facebook.

“Jadi dua bulan terakhir ini saya lebih rutin untuk live di Grup Facebook. Dari yang biasanya hanya live seminggu 4 kali, sekarang saya live setiap hari. Bahkan setiap akhir pekan saya live 2 kali sehari. Selain itu saya juga buat lebih banyak promo selama live. Salah satunya kalau ada yang beli di atas Rp 150 ribu, akan free ongkir untuk daerah kota. Alhamdulillah melalui cara itu, banyak membantu mendapatkan pembeli,” paparnya.

Hal serupa juga disampaikan Putri yang mempunyai usaha kuliner rumahan. Selain lebih memanfaatkan teknologi dengan rutin membuat promo di berbagai sosial media, ia juga sering meminta bantuan relasi untuk bisa mempromosikan dagangannya.

“Dengan metode itu begitu saya banyak menerima order. Kalau dihitung-hitung omzet saya bahkan meningkat selama ada virus Corona ini,” jelasnya. Pada akhirnya pengusaha tidak hanya harus dituntut bekerja lebih keras, tapi juga harus bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi apapun.

Meminjam kata-kata pemikir dunia Charles Darwin bahwa: “Bukanlah spesies yang paling kuat atau paling cerdas yang mampu survive, tapi mereka yang paling mampu beradaptasi terhadap perubahan.” Mungkin inilah momen bagi pengusaha untuk bersiap menghadapi new normal. (*)

Artikel Terkait

Back to top button