BacaanEkobisSamarindaSocio Cultural

APT Pranoto dan SAMS Kembali Beroperasi Normal: Itu Keputusan yang Bercanda

Tidak ada deru mesin jet hilir mudik mengudara di langit Kalimantan Timur. Ya, dalam beberapa hari terakhir dua bandara besar di Kaltim: Bandara APT Pranoto Samarinda dan Bandara Sepinggan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Balikpapan memang ditutup. Kebijakan ini berlaku sejak 24 April 2020 hingga 1 Juni 2020. Keputusan pemerintah menutup semua jalur penerbangan merupakan langkah untuk menekan angka penyebaran Covid-19. Totalnya, ada 19 Bandara yang ditutup, 103 perjalanan kereta api juga disetop. Pun demikian dengan moda transportasi lainnya di darat dan laut.

Namun dalam perjalanannya, pemerintah pusat justru merevisi keputusannya. Dan bakal kembali membuka seluruh moda transportasi dengan mentaati protokol kesehatan. Hal itu diterangkan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat melakukan virtual meeting bersama Komisi V DPR RI, Kementerian PUPR dan Kakorlantas Polri, Rabu (6/5) sore.

Namun bagi anggota Komisi V DPR RI Dapil Kaltim, Irwan Fecho, hal itu justru menegaskan bahwa pemerintah pusat tidak fokus dalam penyelamatan manusia. Padahal menurutnya presiden dalam pidatonya jelas melarang mudik, namun di lapangan justru berubah-rubah yang membuat bingung pemerintah daerah. “Di daerah semangatnya bagaimana memutus pandemi Covid-19, bahkan jalan-jalan tikus ditutup. Namun hari ini kita dipertontonkan lagi bagaimana tanggung jawab pemerintah terhadap penanganan Covid-19 betul-betul tidak serius,” ujarnya.

Irwan lantas menyakini dalam dua bulan kedepan, dimana disebut-sebut sebagai puncak pandemi Covid-19 adalah situasi yang sangat rawan bagi Indonesia. Relaksasi transportasi yang rencananya bakal diberlakukan tersebut dianggap sebagai keputusan yang tidak tepat, dan terlalu percaya diri. 

“Transportasi ini bukti bahwa penyebaran di luar pulau Jawa karena longgarnya transportasi ini,” ucapnya lagi berapi-api.

Dirinya lalu mengambil contoh di Kalimantan Timur, semua pasien yang positif terjangkit Covid-19 awalnya berasal dari luar daerah. Tidak ada klaster lokal yang dijumpai di Benua Etam. “Ini pemerintah mau apa sebenarnya. Ekonomi memang penting tetapi penyebab ekonomi seperti ini juga karena pandemi Covid-19, saya berharap pemerintah benar-benar fokus. Sesuai kata dan perbuatan,” terang Irwan lagi.

Pria yang juga dikenal memiliki klub sepak bola Tholere FC di Sangkulirang, Kutai Timur (Kutim) itu, berharap pemerintah tidak bercanda dan bertanggung jawab sehingga tidak menimbulkan kebingungan di daerah. Apalagi pemerintah daerah sudah habis-habisan, seperti APBD yang dikurangi untuk penanganan Covid-19. 

“Kita sudah berbulan-bulan di rumah, tetap keputusan selalu berubah-rubah, tidak ada teladan untuk di contoh bagi pemerintah dan masyarakat di daerah. Saya berharap bangsa ini bisa melewati karena kita ini masih di lereng belum melewati puncak. Kalau relaksasi ini kemudian berjalan, saya tidak tahu bagaimana lagi ada penambahan-penambahan pasien yang positif, tentuya yang korban adalah daerah-daerah di luar Jakarta,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait

Back to top button