BacaanSamarinda

Banjir “Bandang” dan Berdendang ala Pak Jaang

Samarinda kembali mengalami polemiknya paling khas: banjir. Sudah 2 kali Lebaran, sebagian wilayah di Kecamatan Samarinda Utara dan Kecamatan Sungai Pinang serta sekitarnya “calap.” Tepat di momen hari besar Idulfitri. Di perkirakan ratusan hingga ribuan kepala keluarga mengalami kerugian moril dan materiel akibat luapan air yang diperkirakan berasal dari bendungan Benanga di Lempake.

Tak hanya rumah warga, beberapa wilayah perkantoran, pusat perbelanjaan, hingga area rumah dinas wali kota pun tak luput dari terjangan air bah. Menarik memang, apabila sudah bencana menerjang, warga biasa ataupun pejabat penting sekalipun sama: sama-sama merugi.

Proyek pengerukan Sungai Karang Mumus (SKM) serta normalisasi gorong-gorong dan peninggian medan jalan pun seakan sia-sia. Karena tidak berdampak banyak saat banjir datang.

Berbicara tentang wali kota, ada hal menarik dari sosok yang telah memimpin Kota Tepian selama 20 tahun terakhir —10 tahun wakil wali kota dan hampir 10 tahun wali kota. Bagaimana tidak, jika sebagian warga yang emosi dengan nihilnya kinerja pemerintah yang selalu kecolongan dalam mengantisipasi bencana banjir, ada yang mengkritik melalui status media sosial ataupun akun berbagi informasi publik seperti Bubuhan Samarinda (Busam). Tetapi ada pula dari mereka yang menjadikan lagu milik Pak Jaang sebagai kritikan dari kekecewaan mereka selama ini.

Ya, pada tembang berjudul Pujaanku juga Mama & Papa yang berdurasi sekitar 4 menit tersebut sebenarnya bukanlah lagu baru. Dari video yang kami temukan di YouTube, lagu-lagu itu diunggah lima tahun lalu. Masuk dalam kompilasi lagu pop khas Kalimantan yang diisi bersama para musisi daerah Kalimantan Timur lainnya. Pada lagu Pujaanku ciptaan Theresia Hosanna Djeffrey itu, ia mengkisahkan tentang keyakinan hati seseorang terhadap pujaannya tanpa sedikitpun rasa ragu dan bimbang, hal yang mustahil ditemukan dalam 20 tahun masa jabatannya sebagai wakil wali kota dan wali kota saat mengatasi bencana ini. Jaang sukses membuat siapapun yang mendengarnya akan mengernyitkan dahi. Nada datar sedikit sumbang seakan tidak membuatnya peduli dengan cemoohan warga yang terlanjur menjadikan tembang tersebut sebagai “anthem” kala banjir melanda.

Di tembang selanjutnya berjudul Mama & Papa, ia menjadikan lagu ini sebagai dedikasi kepada kedua orangtuanya yang telah berjasa membuatnya seperti sekarang dengan karir serta jabatan yang ia peroleh. Terlihat dari latar video klip yang menampilkan foto keluarganya lengkap dengan raihan penghargaan yang telah ia raih sebagai pejabat. Jika menilai sisi artistik kedua video klip lagu tersebut sebenarnya jauh dari kata indah secara sistem indera, namun sekali lagi sepertinya ia tidak peduli untuk tetap percaya diri menyumbangkan suara emasnya untuk lagu-lagu tersebut.

Sebenarnya tidak ada korelasi apapun antara lagu-lagu itu dengan bencana musiman yang selalu terjadi ketika intensitas curah hujan di Samarinda meningkat. Tetapi inilah cara warga mengkritik pemimpin saat ini. Sudah sangat tepat dan cerdas dan sedikit jenaka. Karena mereka paham, jika cara “bekaisan” tidak memberikan hasil apapun, maka kritik unik seperti inilah yang mereka harap bisa menjadi solusi agar keluhan mereka segera mendapat perhatian. Ya, semoga genangan itu cepat berlalu dan lagu Pak Jaang bisa menghibur kegundahan warga korban banjir. (*)

Artikel Terkait

Back to top button