BacaanSamarinda

Banyak Lampu Merah Mati Total karena Alatnya Dicuri: Enggak Kuat Feeling, Berkendara di Samarinda Bisa Celaka

Anda pasti pernah berkendara melintasi jalan-jalan berkeliling Kota Samarinda? Banyak faktor memang yang membuat berkendara menjadi tidak nyaman. Mulai dari debu, jalan berlubang hingga jalan yang tergenang. Ini semua menjadi biang kemacetan. Tapi sebenarnya ada satu lagi yang membuat berkendara di Samarinda menjadi sebuah terapi uji emosi dan pergolakan jiwa yang meronta. Yakni soal pengaturan lampu lalu lintas. Soal yang satu ini kita hanya bisa mengumpat dalam batin.

Lampu yang berwarna merah kuning dan hijau tersebut berfungsi sebagai pengatur lalu lintas otomatis. Tentu saja tujuannya agar alur kendaraan yang melintas bisa teratur. Di persimpangan jalan, fungsi lampu ini sangat vital. Semakin tahun, jumlah kendaraan di Kota Samarinda kian bertambah. Karena itu, kebutuhan lampu lalu lintas sangatlah dibutuhkan. Namun apa yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Di beberapa titik pusat kota, lampu lalu lintas terapantau tidak berfungsi dengan baik.

Dari pantauan Mahakama.co ada beberapa titik persimpangan yang lampu lalu lintasnya tidak berfungsi maksimal. Yakni di simpang empat yang mempertemukan Jalan Pelita, Lambung Mangkurat, Merdeka dan Gerilya. Dari arah Lambung Mangkurat dan Merdeka lampu merah tidak menyala. Kondisi ini menimbulkan kebingungan. Apakah harus berhenti atau boleh melintas.

Di sudut kota lainnya yang bernasib serupa, yakni di persimpangan jalan di samping SMP 2 Samarinda. Lampu lalu lintas dari arah Jalan Arif Rahman Hakim juga mengalami gagal fungsi.

Di tempat lainnya adalah lampu lalu lintas di persimpangan Jalan Awang Long, depan kantor pusat Bankaltimtara. Beberapa kali ketika kami melintasi jalan-jalan tersebut hampir terjadi kecelakaan karena situasi yang bingung antara harus melintas atau berhenti. Nampaknya Samarindans –sebutan untuk warga Samarinda– harus kuat feeling agar terhindar dari kecelakaan.

Untuk mengatasi kendala itu, Dinas Perhubungan Kota Samarinda sudah membuat aplikasi yang tersedia di Google Playstore dengan nama ATCS Kota Samarinda. Aplikasi ini berguna untuk melakukan pantauan terhadap situasi lalu lintas melalui kamera CCTV. Manfaat lain aplikasi ini juga untuk laporan keluhan dan gangguan seputar lalu lintas. Tapi sayang beribu sayang, aplikasi ini pun belum berfungsi maksimal.

Mengutip dari deskripsi aplikasi ini di Google Playstore Area Traffic Control System atau yang lebih dikenal dengan istilah ATCS adalah suatu sistem pengendalian lalu lintas berbasis teknologi informasi pada suatu kawasan yang bertujuan untuk mengoptimalkan kinerja jaringan jalan melalui optimasi dan koordinasi pengaturan lampu lalu lintas di setiap persimpangan.

Review yang didapat terhadap aplikasi cukup mengejutkan. Dengan raihan review 2.3 bintang, dapat disimpulkan bahwa para pengguna kurang puas terhadap aplikasi ini. Apalagi di kolom komentar banyak yang memberikan bintang 1. Seperti komentar dari Syahri Sy yang menulis “Kurang user friendly. Semua CCTV offline.” Lalu ada komentar Rzki R, “fitur pantau untuk semua kamera offline, sangat tidak bagus aplikasinya, uninstall.”

Dari berbagai sumber media dijelaskan bahwa terkait kerusakan lampu lalu lintas ini adalah ulah dari sebagian Samarindans yang bertindak kriminal. Bagian terpenting dari perangkat itu dicuri. Kejadiannya sepanjang Maret dan April lalu.

Mengutip dari Presisi.co, bahwa ada enam titik lampu lalu lintas yang mati akibat ulah tangan jahil. Penanganan pun sudah dilakukan dengan memesan alat yang dicuri tersebut. Tapi karena berada dalam situasi pandemi menjadi alasan bahwa alat tersebut terlambat datang.

Kita sebagai Samarindans tentu berlalu lintas dengan tertib dan lancar di Kota Samarinda. Tetapi apabila fasilitasnya tidak mendukung apalagi dicuri, tentu menjadi kendala. Kalau dibiarkan berbulan-bulan, bukankah hanya menciptakan keserawutan. Semoga situasi ini tidak berlanjut pada bulan-bulan berikutnya. Huhhhh… (*)

Artikel Terkait

Back to top button