BacaanEkobis

Beda Krisis Ekonomi dari Sebelumnya: Inflasi Masih Separah 1998 dan 2008

Pandemi Coronavirus sudah berlangsung selama lebih dari enam bulan. Dampaknya mengglobal dengan jumlah kasus jutaan di seluruh dunia. Sektor ekonomi yang paling babak belur akibat virus jahat dari China ini.

Pertumbuhan ekonomi menunjukkan angka -5,32 persen pada kuartal II tahun 2020. Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali minus pada kuartal III nanti.

Pemerintah pun diprediksi akan mengalami guncangan resesi ekonomi. Namun upaya pemulihan perekonomian hanya bisa dilakukan jika ada upaya serius untuk menahan laju penyebaran Covid-19. Hal ini sangat penting dilakukan karena krisis ekonomi kali ini diawali dengan pandemi Covid-19 yang menyebar ke seluruh dunia.

Hal ini disampaikan oleh ekonom Australian National University (ANU), Arianto Patunru. Kata Arianto, pemerintah Indonesia perlu upaya ekstra keras mengembalikan pertumbuhan ekonomi positif di kuartal III tahu ini jika ingin menghindari resesi.

Krisis pada tahun 2020 ini berbeda dengan krisis yang pernah dialami Indonesia pada 1998 dan 2008. Karena krisis keuangan kali ini diawali dengan krisis kesehatan. Melemahkan permintaan (demand) juga penawaran (supply). Pada akhirnya berlanjut menjadi krisis ekonomi. Krisis Covid-19 memengaruhi permintaan masyarakat (tidak bisa belanja, tidak berani belanja hingga adanya penurunan pendapatan) dan penawaran (adanya pembatasan dan tidak ada kegiatan yang menyebabkan turunnya output).

Namun inflasi kali ini diprediksi tidak akan setinggi pada krisis sebelumnya. Tapi tetap ada kemungkinan barang-barang tertentu yang karena langka, akan mengalami kenaikan harga. Ini akibat ada penimbunan dan tidak meratanya akses ke seluruh masyarakat.

Oleh karena itu pemerintah harus tetap waspada terutama distribusi bahan esensial seperti pangan tetap terjaga. Stimulus dari pemerintah lewat bantuan sosial bertujuan untuk menjaga daya beli untuk konsumsi pokok masyarakat.

Arianto Patunru juga menekankan pada poin memulihkan perekonomian tidak bisa dilakukan tanpa berusaha memulihkan kesehatan. Yang artinya, pemerintah seharusnya lebih memfokuskan perhatian kepada upaya mengurangi laju penyebaran virus Covid-19 di Indonesia dan menurunkan kurva.

Hal ini dapat dilakukan, diantaranya dengan memperbanyak tes, mempertegas aturan jaga jarak dan menggalakkan kebijakan pembatasan. Baru kemudian perekonomian bisa berangsur dipulihkan. (*/nha)

Back to top button