BacaanKomunitasSamarinda

Belajar dari Giseli yang Enggak Membedakan Merek, Kini Anggotanya Tembus Ratusan Orang

Sekarang, enggak ada yang lebih membahagiakan selain bisa berkumpul dengan teman. Di tengah kampanye social distancing, ngumpul bersama teman-teman sekumpulan adalah hal yang paling berharga saat ini. Apalagi ngumpulnya bisa sambil bersepeda riang gembira, sambil menikmati keindahan kota. Hmmm…

Nah, kali ini Mahakama.co mengulas salah satu komunitas sepeda di Kota Samarinda yang konon jumlah membernya sudah lumayan banyak. Padahal komunitas ini baru terbentuk beberapa waktu lalu.

Ngomongin hobi sepeda sebenarnya sudah ada sejak zaman orangtua kita belum menikah. Bedanya, setiap zaman pasti punya spesifikasi jenis sepeda yang sedang digandrungi. Nah kalau sekarang, sepeda lipat (Folding Bike) kini peminatnya semakin banyak. Khususnya di Samarinda. Tak jarang, banyak dari aktivitas warga 0541 —sebutan lain Samarinda— berseliweran dengan sepeda lipatnya dijumpai di tengah hiruk-pikuk geliat Kota Samarinda.

Kali ini Mahakam.co mengulas salah satu komunitas sepeda lipat di Samarinda yang Namanya: Giseli Samarinda.  Giseli adalah singkatan dari Gila Sepeda Lipat. Komunitas ini tergolong masih baru. Nama  Samarinda melekat sebagai penguat identitas bahwa komunitas ini berasal dari ibukota Provinsi Kalimantan Timur.

Giseli Samarinda didirikan 20 Februari 2020 lalu. Berarti usianya belum tiga bulan gaes. Ferza Agustia Darma ditunjuk sebagai ketua. Basecamp-nya di TC Depan Rumah, Jalan Ir Juanda, Samarinda Ulu.  Meski masih baru, namun anggota yang terdaftar telah mencapai ratusan orang. Dari ratusan member, pasti mereka memiliiki merek seli yang beragam.

“Jadi komunitas ini adalah tempat bagi pecinta sepeda lipat yang ada di Kota Samarinda dengan merk sepeda bermacam-macam. Meski begitu, anggota Giseli  juga datang dari daerah lain. Ada yang dari Bontang, Tenggarong, Berau dan kota lainnya,” ujar Ferza.

Mengedepankan rasa kekeluargaan adalah hal yang ditanamkan Giseli Samarinda. Mulia banget kan? Nah, makanya tidak ada perbedaaan sepeda mahal maupun sepeda jenis ciki-cikian —sepeda murah.

“Semua di sini sama saja. Di Giseli itu apapun mereknya kita sama. Jadi kami di sini itu tidak membedakan-bedakan. Mau mahal atau murah. Engggak apa-apa. Gabung saja,” timpal Abdul Giaz, pria yang menjabat Sekjen —sebutan keren sekretaris— di Giseli Samarinda.

“Bahkan awal-awal terbentuk, ada anggota yang tidak pakai sepeda lipat. Enggak masalah. Kami tidak larang bergabung. Toh akhirnya lambat laun, mereka akan seli pada waktunya. Itu terbukti,” timpal pria yang juga dikenal sebagai selebgram itu.

Giseli Samarinda setiap minggunya memiliki agenda rutin bergowes ria. Yakni pada Minggu pagi, Sunmori (Sunday Morning) dan Rabu malam, Raul Gowes (Rabu Gaul Gowes). Rute dari setiap jadwal rutin beragam. Ada yang mengitari area perkotaan Samarinda, ada pula yang menjelajah pinggiran kota Samarinda.  “Selain untuk menjaga kebugaran tubuh, kami ingin aktivitas bersepeda ini menimbulkan hal yang positif,” jawab Ferza.

SERIUSI MEDSOS DAN MERCHANDISE
Suasana mengitari keindahan permukiman, alam dan geliat Kota Samarinda adalah momen yang paling menyenangkan. Sayang jika tak terdokumentasikan dengan baik. Berangkat dari alasan itu, Giseli Samarinda pun memiliki divisi khusus untuk mengabadikan segala kegiatan.

Makanya pengelolaan media sosial (medsos) dan merchandise juga tak kalah penting. Untungnya dari ratusan anggota Giseli, beberapa di antaranya merupakan pekerja konten kreatif dan konveksi.

“Sehingga di Giseli ini, diskusi yang muncul tak melulu soal sepeda. Ini kombinasi yang sangat baik, dan tak menutup kemungkinan ini akan lebih jauh dikembangkan nantinya,” terang Ferza.

DIGANGGU VIRUS CORONA 
Covid-19 yang tengah melanda lebih dari 150 negara di dunia menjadi momok menakutkan bagi banyak orang. Wabah yang dikenal dengan sebutan virus corona ini juga berimbas kepada kegiatan komunitas sepeda. Imbauan pemerintah untuk melakukan physical distancing memaksa perkumpulan orang dengan jumlah ditiadakan.

“Hal itu juga terjadi di Giseli. Jadi kami sementara waktu ini tetap dirumah saja dulu. Tapi nanti kalau pandemik ini sudah tuntas tertangani, kita bakal ramai-ramai genjot sampai berot lagi. Jadi untuk sementara, jaga diri masing-masing dulu, pokoknya dirumah saja,” pesan Ferza. Genjot sampai berot adalah tagline komunitas ini. Berot adalah Bahasa khas Samarinda. Biasa dikenakan untuk menggambarkan raut muka seseorang yang begitu keras dalam bekerja.

UPGRADE JADI HOBI 
Di tengah pandemi Covid-19, aktivitas jelajah kota untuk sementara ditiadakan. Mengisi kekosongan waktu tersebut, rupanya digunakan anggota Giseli Samarinda untuk mempermak sepeda lipat kesayangan mereka.  “Jadi ini selama anjuran pemerintah soal dirumah saja, anggota banyak mengisi kegiatan dengan meng-upgrade sepeda mereka,” ujar Ferza.

Ferza yang juga pembalap slalom nasional kerap menjuarai berbagai event skala nasional menambahkan bahwa Giseli Samarinda tak hanya sekedar bergowes ria di Kota Tepian. Diungkapnya, Giseli sudah menjelahi beberapa kota di Kaltim, diantaranya Balikpapan dan Tenggarong.

Di sana tentu bersilahturahmi dengan pecinta seli setempat. Rencananya Giseli juga mengagendakan menjelajah wilayah lain di Indonesia. Ada usulan terdekat ke Maratua, Bali dan Singapora. Cuma agendanya dipending dulu. “Corona wal ai..,” pungkas mantan anggota DPRD Kaltim ini sembari melempar senyum lebaaaarrr. (*)

Artikel Terkait

Back to top button