BacaanSamarindaSport

Borneo FC Beberkan Alasan Pemecatan Edson Tavares

Edson Araujo Tavares, pelatih sepak bola berkebangsaan Brazil angkat suara usai klubnya Borneo FC resmi memecatnya dari kursi pelatih kepala, Selasa (11/8) lalu.

Disebutkannya, ia menyesal telah memilih klub Borneo FC. Sebab, Pesut Etam dianggapnya memiliki manajemen yang tak bagus.

Ungkapan itu pun mendapat reaksi keras sejumlah pihak di Borneo FC. Mulai dari head media officer hingga presiden klub menanggapi ocehannya tersebut.

Hal ini berbanding terbalik jika melihat rilisan resmi official klub sebelumnya. Dalam pengumuman itu, Borneo FC memilih redaksi yang soft dalam pengumuman pengakhiran kerjasama. Edson Tavares disebutkan dibebastugaskan. Tidak ada kalimat memecat, yang dianggap sebagian orang merupakan kalimat kasar.

Namun setelah kicauan eks pelatih Yokohama FC dan Sepahan FC itu tersebar hingga terdengar di telinga manajemen Borneo FC. Kalimat “Ada hati yang perlu dijaga” tak lagi berlaku. Borneo FC lantas turut buka-bukaan soal kelakuan buruk Edson.

Edson Tavares disebutkan hampir tidak disukai mayoritas pengurus Borneo FC, bahkan juga para pemain. Selain sikapnya yang dinilai egois, dia juga dianggap sulit bekerjasama dengan orang-orang di dalam tim dan manajemen.

“Sebenarnya banyak enggak cocoknya sama kita, selalu masalah. Kalau dikasih tahu juga keras kepala. Contoh nih, sama anak media aja ribut soal foto,” urai Nabil Husien.

Seperti diketahui, setiap musim skuad Pesut Etam diharuskan mengirim pas foto baru pemain dan official sebagai persyaratan pendaftarkan ke PT Liga Indonesia Baru, selaku operator kompetisi. Namun, hal kecil itu disambut dingin Edson Tavares.

Dengan berbagai alasan, dia selalu menolak ketika ingin difoto. Pada akhirnya, proses registrasi ke operator berjalan lancar meski melewati serangkaian cerita bak drama korea.

“Enggak ingat dia gimana susahnya dimintain waktu buat ambil foto yang digunain registrasi di Liga. Enggak terlalu suka diwawancara wartawan, giliran dipecat kayak burung beo. Kacau,” sahut Brillian Sanjaya, head media officer Borneo FC.

Edson masih turut berulah, ketika Borneo FC memperkenalkan pelatih di awal musim 2020 lalu. Borneo FC yang mengusung gaya ala tim-tim eropa, mewajibkan pelatih dan pemainnya memakai jas, hal ini sebagai bentuk respect mereka terhadap sepak bola. Namun hal itu, lagi-lagi tak disambut baik. Entah karena ribet harus berganti pakaian, Edson terus mengerutu. Ia juga mempertanyakan terus menerus soal durasi waktu.

Tak sampai disitu, sikap arogan pelatih kelahiran Rio De Janerio itu juga diperlihatkan saat post match press conference Borneo FC usai ditahan imbang 2-2 Sulut United di Stadion Segiri, Samarinda. Kala itu, Edson sempat terlibat argumen dengan seseorang yang diduga panitia pelaksana setempat sebab Edson mengeluhkan bau asap rokok di ruangan konferensi pers.

Padahal saat itu, ruangan yang dipadati awak media (termasuk wartawan Mahakama.co), tidak ada satupun orang yang tampak merokok. Terlebih ruangan tersebut ber-AC.

“Sebelum konferensi pers, di hadapan anak wartawan. Dia sempat menegur jangan merokok. Padahal disana waktu itu tidak ada yang merokok,” terang Brilian. Sehari sebelumnya, Edson juga mempertanyakan, kenapa pertandingan uji coba harus ada jumpa pers. Pelatih berusia 64 tahun ini diketahui tak terlalu menyukai wartawan.

Di Indonesia, ini adalah kali kedua usai dipecat, Edson Tavares menjelek-jelekkan mantan klubnya. Dulu saat diputus kontraknya oleh tim Persija Jakarta, Edson turut menyerang Persija lewat media tertentu. Bahkan ia membawa nama Nirwan Bakrie, yang diduganya memiliki peranan sehingga ia dipecat dari Macan Kemayoran.

Dan kini, usai dipecat Borneo FC, Edson juga kembali bersikap sama. Serangkaian kalimat menyerang untuk manajemen Pesut Etam ia lancarkan. Termasuk mengeluhkan perihal tidak pernah dianggap bernegosiasi perihal pemotongan kontrak. Sebuah ironi, sebab Borneo FC selama ini tak pernah tersangkut soal polemik gaji dengan pemain beserta official. Hmmmm… (*)

Artikel Terkait

Back to top button