BacaanE-SportTekno

Buah Bolo, Tim E-Sport dari Samarinda yang Disegani di Nasional: Para Gamers Kaltim Dikenal Barbar

Geliat olahraga elektronik dalam satu dekade terakhir cukup signifikan peningkatannya di Indonesia. Tak ketinggalan pula di Samarinda. Mahakama.co berkesempatan berbincang-bincang dengan salah satu tim e-sport asal Samarinda yakni Buah Bolo E-Sport. Dijelaskan oleh Aris Susanto yang didapuk sebagai manajer dari tim Buah Bolo saat berbincang dengan Mahakama.co menceritakan tentang awal mula terbentuknya tim e-sport ini.

“Awalnya kami terbentuk dari komunitas kecil penggemar mobile game pada 2017. Saya melihat potensi dari teman-teman cukup besar. Sehingga saya berinisiatif untuk membentuk tim serius untuk mengikuti kompetisi lokal di Samarinda saat itu,” kata Aris memulai cerita.

Seiring berjalannya waktu, diam-diam potensi dari tim yang dikembangan Aris mendapat atensi dari H Abdurrasyid Rahman yang juga gemar bermain mobile game. Ia melihat bahwa ada potensi yang bisa dikembangkan untuk menjadi lebih baik lagi. Hingga pada 2019, Haji Rasyid —sapaan Abdurrasyid Rahman—“becabur” total di tim e-sport binaan Aris ini. Bahkan Haji Rasyid sendiri yang memberikan nama Buah Bolo E-Sport. Pemberian nama Buah Bolo bukan tanpa alasan. Nama ini memiliki makna yang dalam bagi yang memahaminya. Terlebih Haji Rasyid ingin membawa tim ini bisa dikenal secara nasional. Maka pemilihan nama Buah Bolo dirasa cukup tepat, karena merupakan buah khas Kaltim.

Haji Rasyid sendiri dikenal sebagai pengusaha muda di Kaltim yang saat ini didapuk sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Samarinda.

Walaupun e-sport sudah menjadi hal yang familiar bagi para gamers, namun bagi masyarakat awam masih belum terlalu mengerti tentang e-sport ini. Bagaimana mungkin bermain game bisa dikategorikan sebagai olahraga? Ditanyakan mengenai hal ini, Aris menjabarkan dengan gamblang tentang perbedaan mendasar antara “main game” dengan “e-sport”. Apabila seseorang melakukan kegiatan bermain game dengan tujuan hiburan dan sekadar melepas stres maka bisa dikategorikan sebagai “main game”.

“Sedangkan e-sport di mana sebuah tim atau player itu memiliki visi misi dan target tertentu. Para player-nya menekuni beberapa divisi game untuk menjadi juara di event-event tertentu. E-sport ini secara tidak langsung adalah sebuah industri di mana para pelakunya biasa disebut pro player. Biasanya para pro player mendapatkan benefit atau profit tertentu.“

Aris Susanto. Manajer tim Buah Bolo E-Sport

Di tim Buah Bolo sudah berdiri 8 divisi game dengan jumlah keseluruhan anggota di tim ini mencapai 56 player. Itu belum termasuk anggota yang tim divisinya masih belum lengkap. Delapan game yang sedang ditekuni itu meliputi PUBG Mobile, COD Mobile Multi Player, COD Mobile Battle Royale, FIFA/PES, Auto Chess/Magic Chess/Chess Rush, Free Fire, Mobile Legend dan AOV.

Untuk tetap eksis dan menjaga performa ketangkasan, Buah Bolo kerap ikut dalam berbagai turnamen baik itu di Kaltim maupun di tingkat nasional. Persaingan di tingkat daerah pun dirasa sangat keras. Karena banyak player asal Kaltim yang menekuni game secara serius dengan tujuan agar bisa bergabung dengan tim e-sport idaman mereka, baik yang skala daerah maupun nasional. Bahkan para player asal Kaltim sudah lumayan terkenal dengan gaya bermain yolo atau barbar. Artinya player-nya nekat-nekat.

Apabila ditarik secara nasional, pandangan orang luar terhadap perkembangan e-sport di Benua Etam cukup mendapatkan apresisi yang tinggi. Bahkan tim Buah Bolo terkadang menjadi momok yang menakutkan apabila mereka turut serta dalam sebuah turnamen yang mereka ikuti. Selain berkompetisi tim Buah Bolo juga membangun jejaring dengan tim e-sport lainnya dengan melakukan sparing/friendly match untuk sekadar mengasah skill dan menjalin silaturahmi.

Saat ditanya tentang masa depan e-sport di Kaltim, Aris menuturkan bahwa potensinya sangat menjanjikan.

“Menurut saya sangat menjanjikan, karena saya melihat bidang tim e-sport ini sudah hampir sama dengan bidang olahraga-olahraga besar lainnya seperti sepak bila dan lainnya. Saya juga mendengar kabar bahwa e-sport akan dijadikan cabang olahraga eksibisi PON, bahkan tahun lalu sudah menjadi salah satu cabang pertandingan di Fornas.”

Aris Susanto. Manajer tim Buah Bolo E-Sport

Fornas adalah akronim dari Festival Olahraga Rekreasi Nasional. Pada November 2019 lalu, Kaltim sebagai tuan rumah ajang empat tahunan ini. Seluruh kegiatan Fornas saat itu dipusatkan di Stadion Madya Sempaja, Samarinda.

Pada ajang Asian Games di Jakarta-Palembang 2018 lalu, e-sport justru sudah menjadi pertandingan resmi yang raihan medalinya masuk hitungan.

Dalam tim e-sport lumrahnya para player diikat dalam sebuah kontrak yang memuat tentang gaji mereka. Aris menuturkan bahwa kisaran gaji yang diterima player tergolong relatif mengikuti UMR domisili timnya berada. Namun pengecualian bagi pro player, biasanya gaji mereka mencapai 10 hingga 20 kali lipat dari player biasa.

Bukannya hanya fokus pada game semata, namun juga fokus pada pendidikan, karena rata-rata anggota dari tim Buah Bolo masih mengenyam jenjang pendidikan sehingga para player tidak boleh ada yang putus sekolah dan tidak terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Apabila ditemukan salah satu player yang menggunakan narkoba, maka hukumannya adalah pemutusan kontrak saat itu juga. Selain mencari player yang andal, tim Buah Bolo juga memiliki rencana jangka panjang. Mereka berencana untuk membuat akademi bagi kelangsungan tim e-sport ini agar ekosistem dunia game tetap terjaga dan potensi gamers Indonesia terus berkembang ke arah yang benar.

E-sport sudah menjadi salah satu profesi yang popular, namun tim-tim e-sport yang ada di Kaltim maupun Samarinda khususnya, para gamers masih mengharapkan adanya keterlibatan pemerintah dalam pembinaan atlet-atlet e-sport ini. Seperti atlet olahraga lainnya, mereka pun mendamba fasilitas dan perhatian khusus. Karena banyak atlet e-sport yang sudah termasuk pro player asal Kaltim, namun tidak bisa membela daerah asalnya karena sudah terikat kontrak dengan tim e-sport yang berada di luar provinsi ini. Ini tentu akan menjadi masalah ketika diselenggarakannya PON, karena atlet yang aslinya berdomisili di Kaltim justru membela provinsi lain hanya karena tidak ada perhatian terhadap atlet e-sport di daerah ini. Semoga e-sport tidak lagi dipandang sebelah mata sebagai olahraga yang “cuma main game”. (*)

Artikel Terkait

Back to top button