BacaanSeni

Drakor Berjudul The World Of The Married: Boleh Gemas, Tapi Tetap Waras Yah…

Sadar atau enggak, negara kita sedang diserang. Khusunya oleh budaya Korea. Tentu saja Korea Selatan. Beberapa tahun terakhir, budaya Korea di negeri +62 ini memang berkembang pesat. Mulai dari musik, drama dan film. Kalau barang elektronik dan perangkat telekomunikasinya, tentu sudah lama menjajah negara kita.

Siapa dari kalian yang tidak tahu boyband seperti BTS, Super Junior, atau EXO? Juga beberapa film seperti ‘Miracle On Cell no. 7’ dan si fenomenal ‘Parasite’ yang baru saja menorehkan sejarah baru di industri perfilman dunia. Belum lagi deretan drama yang sepertinya sangat hobi mencampuradukkan perasaan para penontonnya, seperti ‘Goblin’, ‘Crash Landing On You’. Juga yang sedang hangat di perbincangkan khalayak: ‘The World of the Married.’

Khusus untuk judul terakhir yang disingkat TWOTM, pasti kalian sadar sedang banyak bermunculan di lini masa media sosial. Beragam opini merespons serial yang pertama mengudara pada 27 Maret 2020 ini. Berkisah tentang perselingkuhan yang dilakukan seorang suami kepada istrinya yang seorang dokter.

Hubungan mereka memang terlihat sempurna, namun ternyata menyimpan sebuah prahara rumah tangga. Plot yang ditawarkan sebenarnya klise. Bbanyak di temukan pada sinetron atau FTV yang tayang di televisi lokal negara kita. Tetapi karena ini berasal dari Negeri Ginseng yang notabene sudah punya pasar tersendiri di sini, maka jadilah serial ini berbeda —apalagi jika harus dibandingkan dengan produk lokal kita.

Bahkan, serial adaptasi ini pun bisa mengalahkan kepopuleran serial aslinya berjudul: ‘Doctor Foster’ yang tayang di BBC One pada 2015 silam. TWOTM direncanakan tayang untuk 16 episode. Sampai saat ini, serial itu sudah menduduki urutan ketiga drama dengan rating tertinggi sepanjang sejarah TV kabel di Korea Selatan, setelah ‘Sky Castle’ dan ‘Crash Landing On You’.

Patut menjadi perhatian adalah, banyak penonton yang ternyata bereaksi terlalu berlebihan setelah menonton serial tersebut. Baru-baru ini akun instagram pemeran “pelakor” alias si wanita idaman lain sang suami, dibombardir banyak komentar negatif dari netizen negara kita. Kenapa negara kita? Karena mayoritas tulisan di sana memakai Bahasa Indonesia. Ada yang berkomentar “Pelakor Anjing”, lalu “Cantik-cantik kok pelakor? Cuih”, dan ada juga yang menulis “Mbak, apa enggak capek jadi pelakor?”

Lucu memang jika menanggapi komentar-komentar tersebut, ini menjadi bukti bahwa beberapa netizen kita memang gampang tersulut api. Apalagi jika berhubungan dengan sesuatu yang sensitif seperti isu perselingkuhan yang melibatkan “pelakor.” Tetap saja drama hanyalah drama,  yang disajikan sekedar untuk menghibur penonton dengan segala bumbu-bumbunya. Bukan untuk membuat kalian menjadi barbar.

Apalagi sampai menyerang ranah pribadi si pemeran yang hanya menjalankan tugasnya sesuai naskah. Belum tentu di kehidupan aslinya memiliki sifat yang sama seperti tokoh yang ia perankan. Marilah lebih bijak memilih tontonan. Tidak ada yang melarang kebebasan kalian untuk berpendapat. Tetapi tetap perhatikan norma kesopanan. Jika sebuah serial saja bisa membuat akal kalian meradang, apa tidak malu jika hal ini sampai disorot media lokal mereka nantinya? (*)

Artikel Terkait

Back to top button