BacaanSocio Cultural

Ganjaran Keikhlasan Nenek Petugas Kebersihan di Tenggarong yang Nabung Puluhan Tahun agar Bisa Berkurban: Dihadiahi Umrah

Ada momen mengharukan sekaligus bahagia pada Iduladha tahun ini. Berita yang datang dari kota tetangga kita, Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), tentang keteguhan dan keikhlasan hati dari seorang nenek berusia 71 tahun bernama Sumiati.

Apa yang dilakukan Sumiati patut diapresiasi. Seorang nenek yang sehari-harinya bekerja sebagai tenaga kebersihan di Kukar ini menyumbangkan seekor sapi dan kambing hasil jerih payahnya menyapu jalanan di Kota Raja.

Untuk sebagian orang yang mampu secara finansial, mungkin hal ini terlihat biasa saja. Namun melihat usaha nenek Sumiati yang rela menyisihkan sebagian penghasilannya selama 15 tahun untuk membantu sesamanya di Hari Raya Qurban ini sungguh sangat mulia. Apalagi melihat kesehariannya yang hanya bekerja sebagai tenaga kebersihan di usia yang sudah tidak muda lagi. Hal ini seakan menjadi tamparan untuk kita yang masih muda dan sanggup mencari rezeki lebih agar bisa melakukan hal yang sama dengannya.

Selain sebagai tenaga kebersihan, ia juga berjualan kecil-kecilan di warung miliknya yang terletak di Jalan Dipenogoro, Tenggarong. Cara ini ditempuh guna menambah penghasilannya sehari-hari. Sebelum bergabung bersama pasukan kuning —sebutan petugas kebersihan— nenek Sumiati bercerita bahwa ia juga sempat menjadi pemulung barang bekas tak terpakai.

“Saya merantau ke Tenggarong sendirian sejak tahun 1989. Sempat mengumpukan botol dan kardus untuk bisa dijual ke pengepul,” ujarnya.

Selain dari gajinya sebagai tenaga kebersihan dan berjualan di warung, ternyata momen kenaikkan harga emas belakangan ini juga ia manfaatkan untuk menjual emas simpanan miliknya untuk membeli seekor sapi dan kambing. Selanjutnya hewan kurban itu ia sumbangkan ke Langgar An-Nur yang terletak tak jauh dari rumahnya.

“Saya mengumpulkan uang dari hasil kerja dan berjualan. Selanjutnya uang tersebut saya gunakan untuk membeli emas sebagai simpanan yang akhirnya saya jual kembali untuk membeli hewan kurban,” pungkas nenek Sumiati.

Ia pun mengisahkan bahwa alasan mulianya untuk berkurban semata-mata agar bisa menjadi bekal untuk hidupnya di hari akhir nanti. Karena sejujurnya sudah tidak ada lagi hal yang ia inginkan di dunia.

“Saya sangat senang bisa membeli sapi untuk kurban. Karena sudah tidak ada lagi yang saya kejar di dunia ini,” tambahnya.

Benar saja, kisah nenek Sumiati ini akhirnya sampai juga ke Bupati Kukar, Edi Damansyah yang sangat terkesan dengan sikap nenek Sumiati.

“Ini luar biasa. Pribadi seperti ini bisa menjadi contoh bagi kita semua. Apalagi kondisi beliau sudah masuk usia sepuh. Beliau punya semangat untuk berkurban, walau harus menabung dalam waktu yang lama,” ujar Edi Damansyah.

Untuk itu ia pun menghadiahi nenek Sumiati ibadah umrah ke tanah suci Mekkah dalam waktu dekat. Tak lupa ia pun berharap agar banyak pihak turut mendoakan kesehatan nenek Sumiati supaya bisa terus melakukan rutinitas sehari-hari dan beribadah di sisa usianya. (*)

Back to top button