Bacaan

Guru Zuhdi, Murid Guru Sekumpul yang Paling Sukses: Aktif sebagai Pemadam dan Akrab dengan Sepak Bola

KH Zuhdiannor atau Guru Zuhdi, satu dari beberpa ulama Banjar yang memiliki banyak jemaah. Tidak hanya di seputaran Kalimantan Selatan, tempat kelahirannya, jemaah Guru Zuhdi tersebar di antero negeri. Khusus di Samarinda, popularitas Guru Zuhdi juga cukup tinggi. Lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan 10 Februari 1972 silam, Guru Zuhdi memang berasal dari keluarga dan keturunan para ulama. 

Guru Zuhdi merupakan satu dari banyaknya murid dari KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau yang lebih terkenal dengan sebutan Guru Sekumpul. Kepada Guru Sekumpul, Guru Zuhdi banyak belajar ilmu akhlak. Tak kurang lebih dari tujuh tahun permasalahan etika ini yang dia pelajari dengan Guru Sekumpul. Jangan heran kalau Guru Zuhdi begitu kuat dipengaruhi oleh ajaran gurunya tersebut.

Setiap menghadapi sejumlah permasalahan dan pertanyaan dari jemaah, Guru Zuhdi paling sering merunut kepada guru panutannya itu. Tak hanya dari sisi keilmuan, insipirasi cara berpakaian Guru Zuhdi juga menyerupai Guru Sekumpul. Baju putih dengan surban besar di kepala selalu membalut tubuh dan kepala Guru Zuhdi tat kala mengisi pengajian di berbagai tempat.  Jika kekuatan atau kesuksesan ulama diukur dari banyaknya jemaah dan besarnya pengaruh yang dimiliki, maka tak salah jika Guru Zuhdi disebut sebagai salah satu murid paling sukses yang dimiliki Guru Sekumpul. 

Namun, Guru Sekumpul bukanlah ulama tempatnya pertama kali menimba ilmu agama. Dilansir dari http://ije7.blogspot.com, pendidikan formal yang dijalani Guru Zuhdi hanya sampai sekolah dasar. Tapi beliau melanjutkan ke Pesantren Al-Falah selama sekitar dua bulan. Begitu singkat memang, karena dia sempat sakit dan memutuskan berhenti. Guru Zuhdi merupakan putera dari H Muhammad bin Jafri dan Hj Zahidah binti KH Asli. Muhammad bin Jafri dikenal sebagai ulama yang cukup familiar di Banjarmasin.

Sedangkan kakek beliau dari pihak ibu, KH Asli adalah tokoh ulama yang berdomisili di Alabio, sebuah kawasan di dekat Amuntai, ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Keduanya terlibat secara penuh dalam pendidikan Zuhdi kecil. Guru Zuhdi memiliki sembilan saudara. Guru Zuhdi banyak belajar dari sang kakek. Dengan kakeknya itu, Guru Zuhdi belajar selama satu tahun. Bersama KH Asli, Guru Zuhdi menimba Ilmu Tajwid, Fikih, Tashrif, Tauhid dan Tasawuf. 

Kemudian meneruskan mengaji dengan orangtuanya dengan memperdalam Tauhid, Fikih, Nahwu dan Tasawuf. Beberapa ulama lainnya tempat beliau belajar di antaranya KH Abd Syukur Teluk Tiram. Selain cabang ilmu-ilmu di atas, bersama KH Abd Syukur, Guru Zuhdi banyak menggali tentang Arudh. Sepeninggal KH Abd Syukur, barulah Guru Zuhdi belajar dengan Guru Sekumpul. 

Masih di situs yang sama, aktivitas Guru Zuhdi menjelang akhir hayat yaitu mengisi beberapa pengajian setiap malam di Banjarmasin dan Banjarbaru. Di luar kegiatan keagamaan, Guru Zuhdi juga aktif sebagai relawan pemadam kebakaran dan dekat dengan klub Liga 1 Barito Putra. Tak heran kalau setiap ada acara di luar lapangan bersama Barito Putra, Guru Zuhdi selalu hadir.  Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, 2 Mei 2020, Guru Zuhdi sempat dirawat selama dua hari di Rumah Sakit Medistra, Jakarta.

“Saya ingin menyampaikan bahwa Guru Zuhdi telah dilakukan pemeriksaan rapid tes Covid-19 dan hasilnya adalah negatif,” kata Syaifullah Tamliha, Legislator Fraksi PPP DPR RI yang ikut mendampingi Guru Zuhdi di RS Medistra, saat dilansir dari Dilansir dari banjarmasinpost.co.id. “Selanjutnya juga telah dilakukan Swab PCR dan hasilnya juga alhamdulilah negatif,” tambah legislator asal Kalimantan Selatan itu.

Begitu mendengar kabar duka tersebut, ribuan warga memadati kawasan Perumahan Kota Citra Graha di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Warga menunggu kedatangan jenazah Guru Zuhdi yang akan dimakamkan di samping Masjid Harun Aliah.

Seperti dikutip dari apahabar.com, kebanyakan jemaah asal Banjarmasin sudah berkumpul sejak pukul 10.00. Mereka berbondong-bondong berkendara berangkat menuju Kota Citra Graha. “Terkejut mendengar kabar wafatnya Guru kita, Abah Guru Zuhdi, tadi tau informasi bakal dimakamkan di sini, jadi sama-sama teman menuju ke sini,” ungkap seorang pelayat, kepada apahabar.com.

Rombongan dan jenazah Guru Zuhdi tiba di Banjarmasin pukul 11.00 Wita dan langsung dibawa ke rumah duka. Banyaknya pelayat yang datang, membuat sejumlah petugas mengimbau untuk balik kanan. “Doanya saja. Sekarang tidak boleh berkumpul,” kata seorang petugas keamanan setempat.
Dalam berbagai kesempatan, Guru Zuhdi pun pernah mengisi sejumlah pengajian di Samarinda.  Bahkan dari penulusuran Mahakama.co, antara KH Muhammad Zhofaruddin atau yang dikenal Guru Udin, Pimpinan Majelis Ta’lim Nurul Amin Samarinda dengan Guru Zuhdi, sering dipertemukan dalam sebuah momen. Di antara ulama kharismatik ini, tak jarang keduanya saling memuji. 

Karena itu, kehilangan Guru Zuhdi tidak hanya menjadi duka bagi warga Kalimantan Selatan, tapi juga warga Kalimantan Timur khususnya Samarinda.  Alquran dan sunah adalah sumber penerang dunia. Sebab, wahyu bagi penduduk bumi merupakan cahaya yang akan membimbing manusia ke jalan yang benar. Allah mengingatkan dalam an-Nisa’ ayat 174: Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran). 

Karena itu, kehadiran para ulama dan para pengajar Alquran serta sunah merupakan rahmat bagi penduduk bumi. Melalui jasa mereka, masyarakat menjadi paham tentang hakekat syariat. Dan Allah mencabut ilmu agama bagi penduduk bumi, dengan Allah wafatkan para ulama.

Selamat jalan Guru, semoga ilmumu selalu bermanfaat…

Artikel Terkait

Back to top button