BacaanSamarindaSocio Cultural

Hatiku Galau, Aku Memilih Salat Tarawih Sendiri saat Suara Imam dari Masjid Terdengar di Rumahku

Covid-19 yang hadir di awal 2020 mengubah tatanan dunia yang drastis dan dramatis. Salah satu dampaknya mengubah cara masyarakat Muslim dunia dalam menjalankan ibadah Ramadan yang dimulai pada 24 April 2020. Di Samarinda, jauh sebelum Ramadan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kementerian Agama (Kemenag) dan Pemkot Samarinda sudah mengeluarkan surat edaran bersama.

Isinya meminta warga Muslim untuk tidak melaksanakan ibadah Ramadan secara berjemaah di masjid. Ketua MUI Samarinda KH Zaini Naim dengan tegas mengatakan bahwa hal itu bukan lagi sekadar anjuran. Tapi sudah menjadi larangan. Wuih, keras juga ya. Nah, penyampaian Zaini ini pun didukung oleh pernyataan Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang.

Trus, bagaimana realitanya di lapangan? Kita harus akui kalau pelaksanaan surat edaran itu enggak dilaksanakan merata. Akhirnya masyarakat pun terbelah. Sebagian besar masjid-masjid besar memang sudah enggak salat Tarawih dan salat rawatib lainnya secara berjamaah. Tapi sebagian kecil lainnya juga tetap melaksanakan. Mungkin enggak sebagian kecil. Bisa saja jumlahnya sama banyak. Antara yang sudah menutup atau masih ibadha seperti biasa. Yang masih buka pun masih dengan pengeras suara yang cukup menggelegar.

Lalu bagaimana kalau kamu termasuk pro salat di rumah, tapi di saat bersamaan mendengarkan lantunan suara imam dari langgar atau surau di dekat rumahmu? Bisa jadi kamu galau. Hatimu mungkin bercampur aduk. Bisa juga ada rasa bersalah. Kenapa ya, enggak bisa hadir di rumah Allah. Tapi di sisi lain, rumah Allah masih ada yang buka seperti biasa.

Kamu yang pro MUI siap-siap memendam rindu. Enggak bakal bisa merasakan suka cita nuansa Ramadan seperti biasa, meski sebenarnya kamu sudah hadir di tengah-tengah Ramadan itu sendiri.  “Saya memilih di rumah saja. Tapi saya masih dengar dari beberaa masjid dan langgar, ada yang tetap menjalankan ibadah secara berjamaah. Rindu juga mau ibadah di masjid. Tapi saya enggak bisa keluar karena saya ikut anjuran MUI. Cuma kalau begini, ya sedih saya berlipat ganda. Sedih enggak bisa ibadah seperti biasa. Sedih masih banyak orang yang kurang peduli dengan bahayanya virus Corona,” ujar Muhammad Fahrizal, warga yang tinggal di Jalan Damanhuri, Samarinda.

Namun, tidak semua masjid di Samarinda tak mematuhi anjuran pemerintah. Seperti yang disampaikan Gerald Aditya, warga Jalan Sentosa, Kecamatan Sungai Pinang Luar. “Di wadahku (tempatku) ada dua masjid dan satu langgar yang tidak melaksanakan salat Tarawih berjamaah. Satu mesjid belakang ( Jalan Nusantara), satu lagi mesjid depan. Ini mantap,” urainya.

Samarinda memang unik. Angka masyarakatnya yang peduli dengan yang acuh berimbang. Aksi saling sindir pun mudah dijumpai di laman media sosial. Perang kata pun beragam. Ada yang bijak. Ada yang sarkas. Ada pula yang keras terang-terangan. “Di Samarinda ini bahkan masih ada balapan liar, warga kumpul juga banyak. Ini memberikan gambaran bahwa sedikit tidak ada wibawa, ataukah pemkot frustasi menghadapi stuasi yang tidak menentu ini?,” ujar pemerhati sosial, Fajrian Nur Darmansyah.

“Polisi dalam hal ini sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Mereka sering turun mengimbau berpatroli untuk mengingatkan warga. Namun polisi juga perlu dibantu oleh aparatur pemkot melalui lingkup kelurahan dan kecamatan. Kalau Pemkot konsisten masyarakat pasti ngikut,” pungkasnya memberi saran.

Sikap tegas pemerintah memang harus diambil. Kerumunan dalam bentuk apapun dilarang, kendati itu berkaitan soal hubungan kita dengan sang khalik. Sebagai penduduk Muslim terbesar di dunia, sangat wajar jika suasana Ramadan menjadi hal yang paling dinantikan, seperti Tarawih bersama di masjid. Namun di sisi lain negara kita juga sedang mengalami pandemi.Covid-19 sudah menyebar di 267 kabupaten/kota dari 34 provinsi.

Artinya hampir  dalam sehari perkembangan kasusnya cukup tinggi. Per 23 April 2020 saja bertambah 357 orang yang positif terinfeksi. Angka yang cukup fantastik. Total kini 7.775 orang. 647 diantaranya meninggal dunia. Baru 960 yang sembuh. Khusus di Kaltim, angkanya juga terus naik. Per 23 April 2020 sudah 65 orang. 10 di antaranya di Samarinda.

Artikel Terkait

Back to top button