BacaanSamarindaSocio Cultural

Ini Aneh, Malam Minggu Kembali Macet saat Samarinda Masuk Fase Bencana dan Zona Merah

Sampai Senin, 20 April 2020, jumlah pasien positif terinfeksi Covid-19 di Kota Samarinda sudah 7 orang. Tapi dua di antaranya sudah sembuh. Di Kaltim, angka di Samarinda masih relatif kecil. Kalau perbandingannya Balikapapan dan Penajam Paser Utara. Di Balikpapan jumlah penderita sudah di atas 20an. Sedangkan di Penajam Paser Utara mencapai belasan. 

Tapi kalau melihat peta risiko yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Samarinda, 20 April 2020, risiko penyebaran di Kota Tepian ini cukup tinggi. Bahkan kategorinya sudah zona merah. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda, dr Osa Rafshodia yang bilang kalau Samarinda memang sudah zona merah. “Seluruh wilayah di Samarinda masuk dalam zona merah. Dan bisa dikatakan Samarinda masuk fase bencana,” terang dr Osa, melalui aplikasi telekonferensi, 20 April 4 2020, seperti dikutip dari presisi.co.

Membaca komentar pejabat di atas memang ngeri-ngeri sedap. Imbauan tetap di rumah jangan disepelekan. “Mucil” tetap keluar rumah biar enggak ada urusan yang penting, bisa-bisa membuat kamu jadi salah satu yang akan dikarantina. Kalau sudah begitu, “titel” Samarinda pun bisa bertambah. Setelah ditetapkan zona merah, Samarinda juga bisa menyandang daerah transmisi lokal. Artinya, ada penderita di daerah ini yang tertular dari warga Samarinda sendiri. Mau tertular?

Nah, kembali soal peta risiko yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Samarinda, terlihat hampir semua daerah di Samarinda masuk zona merah. Memang masih ada yang belum merah —mungkin kuning atau hijau— tapi sedikit. Itu pun yang berada di daerah pinggiran. Perubahan peta risko ini kalau dibandingkan hari-hari sebelumnya memang terasa banget.  Banyak daerah yang dulunya bebas ancaman, sekarang berubah status jadi daerah yang rawan terpapar.

Harusnya data ini harus dipahami semua warga 0541. Karena kenyataannya, suasana kota seperti sudah normal. Memang sih anak sekolah dan pegawai-pegawai masih libur. Tapi acara kumpul-kumpul anak muda sepertinya muncul lagi. Banyak yang sepeda-sepedaan, lalu ngumpul di depan Islamic Center, Jalan Slamet Riyadi, Karang Asam. Malam Minggu kemarin aja —19 April 2020— beberapa jalan di Samarinda sudah ada yang macet. Mungkin para jomblo juga sudah ikutan malam mingguan. Mungkin ya. 

Soal kembali normalnya suasana kota ini juga diiyakan Fajrian Nur Darmansyah. Kata cowok putih nan tinggi ini,  makin banyak zona merah (redzone) di Samarinda, justru semakin banyak juga orang beraktivitas di luar. Pria yang lebih suka disebut pemerhati sosial daripada pengamat sosial ini, mengaku khawatir dengan kondisi tersebut. “Karena bakal ada transmisi lokal kalau begitu keadaannya,” ujar Fajrian yang sehari-hari mengabdi di Universitas Mulawarman (Unmul). 

Kenapa sih banyak yang mucil? Ya, sikap enggak peduli dengan imbauan pemerintah untuk berdiam diri di rumah bisa jadi jadi banyak penyebabnya. Bisa jadi juga warga enggak bisa sepenuhnya disalahkan. Bisa jadi karena pemerintah yang enggak terlalu tegas. Kalau pemerintah tegas mengawasi, bisa jadi zona merah di peta itu akan kembali normal. 

Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Samarinda yang diketuai Wali Kota Syaharie Jaang, memang harus bisa memberikan solusi dan wejangan teraktual ke warganya. Jangan takut tidak didengar warga, karena Samarindans –sebutan untuk warga Samarinda– sebenarnya pernah patuh soal jangan keluar rumah alias stay at home. Hanya saja, kejadian dua kapal dari Parepare, Sulawesi Selatan yang bersandar di Pelabuhan Samarinda akhir Maret lalu, dinilai sebagai penyulut. 

Sjaharie Jaang sebenarnya sudah langsung beraksi dengan menutup akses tersebut. Tapi Bubuhan Samarindans sudah terlanjur apatis. “Untuk apa di rumah kalau akses masuk di kota terbuka untuk umum.” Begitu salah satu keluhan teman. Dari situlah, hari per hari denyut kota yang awalnya sempat tertidur perlahan mulai kembali normal. Plus dengan gejolak konflik sosialnya —antara kaum rebahan dan kaum bebal. “Diperlukan konsep tanggap bencana yang jelas. Jangan terlalu tergantung dengan pemerintah provinsi. Pemerintah daerah harus belajar menghadapi situasi kritis,” kata Fajrian.

Provinsi Papua bisa jadi contoh. Provinsi di paling timur Indonesia ini berani berdaulat dengan keputusan yang mereka konsep sendiri, meski ada intervensi pemerintah pusat. Seharunya, Samarinda khususnya atau Kalimantan Timur umumnya yang memiliki jargon Kaltim Berdaulat juga harus bisa lebih mudah menerapkan konsep kedaerahanya memerangi Covid-19 ini.

“Pemerintah pusat sudah babak belur, harusnya pemerintah daerah jangan berharap dari pusat lagi. Pemerinrah daerah harus berani membiasakan diri dengan situasi sekarang. Jangan seperti pusat yang kesannya setengah-setengah. Justru disitulah peran pemerintah daerah menginisiasi pengendaliannya,” kata Fajrian lagi.

“Tapi kita harus sama-sama bekerja. Dengan pemerintah sudah membuat aturan, masyarakat harus ikut, pemda harus konsisten, dan mencarikan strategi untuk aktifitas perekonomian masyarakat. Kita paham PSBB itu berat, karena bnyak syarat yang harus dpenuhi.” (*)

Artikel Terkait

Back to top button