BacaanSocio Cultural

Ketika Penimbun Masker Keluar dari Sarang: Tahan Sumpah Serapah Netizen demi Butuh Uang

Jagat Twitter memang enggak pernah sepi. Kali ini, Rabu lalu (29/4) diramaikan oleh kemunculan penimbun masker yang mengobral masker jualannya. Berbekal kalimat Twitter please do your magic: Bukannya dibeli, malah di-bully.

Engagement —yang tertarik— sih banyak, tapi isinya negatif semua. Bener-bener jadi ajang pelampiasan emosi. Para netizen yang terhormat menuding karena ulahnya, masker jadi langka dan mahal. Menurut pengakuan si penjual sih, dia lagi BU alias butuh uang. Semoga benar dan enggak ada kaitannya sama pasokan dan harga masker yang mulai normal di toko-toko ritel.

Yang bikin kagum adalah kuatnya pertahanan si penjual. Banyak argumen yang dijadikan senjatasebagai pertahanan dirinya. Mulai jual rugi, tagar salahsayaapa?, membandingkan harga dengan penjual lain, hingga pengingat bagi yang sudah memaki untuk banyak-banyak istigfar di bulan puasa ini.

Mahakama.co
Hmmm, tapi mungkin dia enggak sadar kalau yang dihadapi adalah netizen dengan segala kebenarannya. Karena kalau sudah berhadapan dengan netizen, enggak sedikit yang besok-besok tutup akun.

Sebagai contoh, ada netizen yang bilang: gantian, kami yang nimbun duit dan enggak beli dagangan lo. Atau pesan lain: enggak ada yang salah dengan jual masker, tapi menimbun dan menjual dengan harga enggak wajar di tengah pandemi demi keuntungan pribadi itu yang salah.

Mahakama.co

Praktik bisnis yang dilakoni para penimbun tergolong dalam taktik bisnis kotor. Mengutip Jenna Brandon dalam articles.exactseek.com, taktik bisnis kotor bisa diartikan penggunaan ketidakjujuran, tipuan, atau strategi manipulatif untuk meraih keuntungan dalam persaingan pasar. Selain tidak etis, dalam ranah legal, praktik ini mendapat ancaman hukuman 5 tahun penjara dan denda Rp 50 miliar (CNN Indonesia, 5/3).

Mahakama.co
Penimbunan masker dan hand sanitizer yang sekarang sedang terjadi nampak mencapai titik akhirnya. Barang subtitusi yang mulai bermunculan dengan harga yang wajar jadi penyebabnya. Saran netizen ke penimbun: lebih baik didonasikan.

Meskipun membangun bisnis dadakan, penting bagi kita untuk enggak melupakan nilai-nilai etika bisnis. Apa saja etika itu? Bisa dimulai dari menjaga kepercayaan, dapat diandalkan, menjaga hubungan, bertanggungjawab, bermoral, memiliki prinsip, menjaga perilaku, dan memberikan pilihan. Masih mau kamu berbisnis tapi egois?

Artikel Terkait

Back to top button