BacaanSamarindaSport

Liga 1 Dilanjutkan, Kebijakan Ridwan Kamil Bikin Presiden Borneo FC “Iri”

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) melalui surat keputusan bernomor SKEP/53/VI/2020 perihal Kelanjutan Kompetisi dalam Keadaan Luar Biasa tahun 2020, memutuskan kompetisi Liga 1 2020 akan kembali dilanjutkan pada bulan Oktober mendatang. Pun demikian dengan Liga 2 dan Liga 3 yang akan turut akan diputar kembali.

Yang menarik, khusus untuk Liga 1 diterapkan sistem tanpa degradasi. Ini artinya, untuk musim berikutnya akan bertambah dua klub baru menjadi total 20 klub. Sebab ada dua klub lagi dari Liga 2 yang akan promosi.

Namun, sebelum menggelar kompetisi ini, beberapa kendala telah mengadang. Ini disebabkan oleh belum terlalu normalnya fase relaksasi yang sudah diterapkan di berbagai daerah. Meski sebenarnya dalam hal ini, PSSI sudah mengambil kebijakkan untuk memainkan seluruh pertandingan di Pulau Jawa. Namun tetap saja diselimuti kekhawatiran tinggi terjangkit virus corona.

Setidaknya ada sejumlah klub yang menolak melanjutkan kompetisi, mereka adalah Barito Putera Banjarmasin, Persebaya Surabaya, Persita Tangerang dan Persik Kediri. Meski demikian, seperti dilansir situs resmi federasi, Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan menerangkan akan berkomunikasi dengan klub-klub tersebut agar semuanya satu persepsi.

“Wajarlah kalau ada perbedaan pendapat. Nanti kami akan berdiskusi. Pemimpin-pemimpin klub itu kan teman-teman kami juga,” urai pria yang akrab disapa Iwan Bule itu.

Angka penyebaran Covid-19 di Indonesia pun terus bertambah hari ke hari. Hal inilah yang menjadi alasan utama ke empat klub Liga 1 itu menolak ikut serta dalam kompetisi. Pada Sabtu, 4 Juli 2020 saja, terhitung ada 1.447 orang yang dinyatakan terjangkit virus asal Wuhan, Tiongkok tersebut. Hingga kini total orang Indonesia yang positif virus corona mencapai 62.142 orang di seluruh nusantara. Atau tertinggi di Asia Tenggara.

Borneo FC Samarinda sebagai salah satu peserta di kasta tertinggi sepak bola Indonesia, sejauh ini tetap dalam argumen awal mereka, bahwa Pesut Etam tetap akan mengikuti keputusan PSSI, sebagai induk sepak bola tanah air. Namun Borneo FC, sebagai suatu kelompok yang memiliki ikatan batin luar biasa dengan Benua Etam, sekaligus satu-satunya wakil dari Kota Samarinda di pentas akbar sepak bola tanah air, jelas tak bisa berjalan sendirian menghadapi fenomena serangan pandemi ini. Meski demikian, semangat menggaungkan rasa kedaerahan tak pernah sedikit pun menyusut di tengah pandemi. Terbukti, pada 10 Agustus nanti, skuad mereka akan dikumpulkan, ini sebagai bentuk persiapan jelang bertempur dengan klub lain Oktober mendatang.

PSSI sendiri akan menerapkan protokol kesehatan yang ketat kepada seluruh klub Liga 1 yang akan terlibat di kompetisi Liga 1 2020. Klub-klub yang berkompetisi harus terbebaskan dari Covid-19. Caranya, setiap klub di wajibkan melakukan rapid test (darah) tanpa terkecuali. Keputusan ini merujuk dengan protokol kesehatan yang berlaku di Indonesia.

Sayangnya, untuk melakukan pengetesan tersebut kini tak gampang. Diperlukan biaya tak sedikit saat rapid test maupun swab test dengan PCR. Di sejumlah daerah, biaya rapid test mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Ini jelas bukan kabar baik bagi klub, yang kini tak lagi menyusu APBD. Sehingga diperlukan sinergi yang positif bagi klub dan pemerintah.

Pertanyannya, susahkah kemesraan itu di lakukan di Indonesia? Jawabannya tentu tidak. Sebab, banyak daerah di tanah air yang begitu peduli dengan sekelompok orang yang membawa nama besar daerahnya. Di Bandung, Jawa Barat contohnya, pemkot dan pemprov mereka begitu peduli.

Yang terbaru, Tim Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jawa Barat sebagai kepanjangan dari Pemprov Jawa Barat turut memberikan fasilitas swab test dengan metode PCR kepada tim Persib Bandung.

“Kami memfasilitasi pengetesan PCR yang diajukan oleh PT Persib Bandung Bermartabat sehubungan pemain sudah siap untuk latihan.” ujar Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat, kepada sejumlah media.

Kegiatan ini dilakukan di Graha Persib Bandung, pada Jumat (1/7) lalu. Dan fasilitas tes usap ini di ikuti oleh seluruh skuad Maung Bandung yang berada di Indonesia. Sedangkan untuk pemain Persib yang masih di luar negeri, akan menyusul setibanya mereka di Indonesia.

Kembali ke Borneo FC, Presiden Klub Nabil Husein Said Amin pun berharap para pemangku kebijakkan daerah mengulurkan bantuannya. Sebab diingatkannya, selama ini dia dan Borneo FC selalu berjuang sendiri mengenalkan sepak bola daerah, hingga akhirnya menjadi klub hebat melawan determinasi tim dari berbagai pulau, baik itu Sumatera, Sulawesi, Papua dan Jawa.

“Disini kita harus saling bantu membantu. Jujur saya iri dengan pemerintah daerah lain yang begitu peduli dengan klub sepak bola di daerah mereka. Kami tahu ini semua sulit. Namun daerah lain bisa kok, kenapa kita nggak bisa,” ujar Nabil.

Pengusaha muda itupun mengajak perlunya kesadaran banyak pihak, bahwa Borneo FC berjuang untuk daerahnya, demi nama baik Kalimantan Timur dan Samarinda pada khususnya. “Sehingga menurut hemat saya, sinergi dengan para pejabat-pejabat publik ini wajib dilakukan. Kami sangat menanti kerjasama dengan pihak-pihak lain untuk membesarkan klub ini, sekali lagi saya katakan, Borneo FC ada untuk membanggakan daerahnya, dengan prestasi yang ditorehkan jelas Kaltim dan Samarinda akan bangga sekali,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait

Back to top button