BacaanSocio Cultural

Lima Kesalahan Food Reviewer: Hmm Seenak Itu!

Zaman sekarang, siapapun boleh jadi food reviewer. Sekadar membantu teman promosi jualan makanan, bikin kamu harus mikir dikit gimana caranya biar konten kamu menarik. Nyatanya, banyak ulasan yang bikin orang malas nonton. Sebelum nge-review makanan, Ini 5 hal ini penting kamu pertimbangkan:

  1. Enggak mendeskripsikan makanan

Kalian pasti pernah melihat reviewer yang cuma bilang “enak banget” tanpa menjelaskan rasa apa aja yang muncul saat menyicip makanan, tekstur, isi, bumbu, topping, tingkat kematangan, dan detil lainnya. Hal ini berkaitan dengan fenomena lazy thinking dalam dunia psikologi. Di mana otak kita, menurut Herbert Simon (1957), suka dengan keputusan atau solusi yang sederhana dan memuaskan. Nah, kita bisa lawankan hal ini dengan yang namanya creative dan critical thinking. Pemikiran kreatif berkaitan dengan hal baru dan beragam, sedangkan critical atau kritis berkaitan dengan cara kita menilai sebuah ide, sudah logis atau tidak.

  1. Enggak tahu sama sekali tentang makanan yang direview

Akan jadi poin lebih, apabila seorang reviewer tahu mengenai cara pembuatan, juga yang lebih menarik yaitu khasiat dari makanan yang sedang diulas. Untuk bisa melakukan ini sebenarnya enggak harus menunggu kamu menjadi expert dulu. Seperti yang dilakukan JWest Brothers di Youtube: mereka yang bertanya kepada ahli tentang tekstur seafood yang masih fresh.

  1. Berbicara saat mengunyah

Bagi sebagian orang, hal ini dianggap disgusting atau menjijikkan. Menyelesaikan kunyahan tidak hanya nyaman dilihat, kamu juga bisa merasakan sensasi makanan tersebut dengan lengkap, sebelum akhirnya melakukan penilaian.

  1. Fake expression

Ini salah satu kenapa penonton jadi makin kritis sama review makanan. Penonton bisa ngecap bohong untuk reviewer yang menggunakan ekspresi palsu. Review yang jujur tidak hanya berguna bagi penonton, tapi juga bisa jadi masukan untuk pengusaha makanan untuk meningkatkan kualitas produknya.

  1. Enggak bisa bedain iklan & review

Sering munculnya kalimat semacam “seenak itu”, “jujur enak banget, enggak ngerti lagi”, “kalian harus coba ini”, “bumbunya kerasa”, “rasa ayamnya ayam banget”. Menjadikan kalimat-kalimat catchphrase ini bak template. Padahal review bukan iklan, lho, yang kalimatnya sudah ditentukan dan enggak bisa diimprovisasi.

Review yang kurang baik itu bukan cuma mubazir buat makanan yang asli enak, tapi juga bikin penonton malas melihat konten kamu lagi. Jadi, pastiin experience-mu dalam menyantap dan mereview makanan bermanfaat untuk yang melihat, ya. (*)

Artikel Terkait

Back to top button