BacaanSocio Cultural

Maaf, bagi yang Suka Nyinyirin Kebijakan Jokowi: Mudik dan Pulang Kampung Itu Memang Beda Banget

Pandemik corona yang tengah menyerang penduduk bumi, membuat hampir semua negara melakukan aksi bertahan atau pencegahan. Di Indonesia, warga dilarang mudik untuk merayakan Lebaran Idulfitri 1441 H di kampung halamannya. Penegasan itu disampaikan Presiden Joko Widodo.

Ini keputusan berani bagi seorang Jokowi. Karena mudik adalah tradisi tahunan yang sudah sangat identik dengan masyarakat Indonesia. Tak mudah bagi Jokowi mengumumkan keputusan itu. Mengingat statusnya juga sebagai pendatang di ibu kota Jakarta dengan kampung halamannya di Solo, Jawa Tengah. Para pakar menilai, ekspresi dan gestur Jokowi saat mengumumkan keputusan itu begitu berat. Seolah ingin menangis. 

“Dan pada rapat hari ini saya ingin menyampaikan bahwa mudik semuanya akan kita larang. Oleh sebab itu saya minta persiapan-persiapan yang berkaitan dengan ini disiapkan,” kata Jokowi seperti dilansir Kompas.com.

Selanjutnya, Polisi akan mengambil peran penting untuk merealisasikan keputusan sang Presiden. Sebagai alat negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, Polri sudah menyiapkan upaya teknis. Salah satunya dengan mempercepat pelaksanaan Operasi Ketupat 2020 di seluruh Indonesia. Padahal biasanya operasi ini digelar dua pekan sebelum Lebaran. Tapi kini mulai digelar sejak 1 Ramadan.
 
Di Kalimantan Timur, pelaksanaan Operasi Ketupat dikenal dengan nama Operasi Ketupat Mahakam. Artinya, pada tahun ini Operasi Ketupat Mahakam akan digelar efektif selama 37 hari. Mulai hari pertama Ramadan hingga seminggu setelah Lebaran. Di berbagai titik wilayah, sudah tampak posko yang didirikan. Operasi Ketupat Mahakam ini nantinya akan dibarengi dengan Operasi Simpatik.

Bahkan, di wilayah hukum Kutai Kartanegara (Kukar) sudah menyiapkan langkah untuk memulangkan para pemudik yang memasuki wilayahnya. “Pos jaganya lagi kita proses (bangun). Untuk sistemnya masih kita bahas bersama. Tapi rencananya bagi yang mau mudik keluar atau masuk Kukar akan disuruh kembali. Demi keamanan bersama selama COVID-19,” tegas Kapolres Kukar AKBP Andrias Susanto Nugroho, melalui Kasat Lantas AKP Wisnu Dian Ristanto dikutip dari Disway Kaltim.

Kebijakan ini diikuti dengan pernyataan menggelitik Jokowi yang membedakan secara tegas antara mudik dengan pulang kampung. Kata Jokowi saat diwawancarai Najwa Shihab, mudik dan pulang kampung itu berbeda.

Dalam acara Mata Najwa bertajuk: “Jokowi Diuji Pandemi, Jokowi: Mudik dan Pulang Kampung Itu Beda (Part 2)” kini menjadi topik paling tren di situs berbagi video, YouTube. Video ini bahkan sudah ditonton lebih dari 3,7 juta orang per 25 April 2020.
Jokowi yang saat itu dikonfirmasi perihal data Kementerian Perhubungan RI bahwa terdapat hampir satu juta orang mencuri start untuk mudik, namun orang nomor satu di Indonesia itu membantahnya. Baginya, itu bukan mudik, melainkan pulang kampung.

“Di sini (Jakarta) sudah tidak ada pekerjaan, ya mereka pulang karena anak istrinya ada di kampung,” kata Jokowi menjelaskan. “(Mudik) untuk merayakan Idulfitri, kalau yang namanya pulang kampung itu bekerja di Jakarta tetapi anak istrinya ada di kampung,” terang mantan Walikota Solo itu.

Pernyataan Jokowi itu juga dibenarkan oleh ahli bahasa dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rahayu Surtiati Hidayat. Wanita yang juga merupakan Guru Besar Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia ini berpendapat mudik dan pulang kampung memang berbeda arti. Bukan sama arti seperti ditulis di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). “Memang beda arti mudik dengan pulang kampung. Biasanya pembaca kurang cermat. Di KBBI tertulis v cak. Cak itu berarti percakapan,” ujar Prof Rahayu seperti dikutip dari detikcom.

Diterangkan Prof Rahayu, bahasa percakapan anti kaidah karena arti pulang kampung beda dengan mudik namun kerap dipakai dalam bahasa percakapan. Mudik sendiri artinya pergi ke udik atau hulu, sedangkan arti pulang kampung yakni kembali ke kampung halaman. “Mungkin karena dahulu sebagian besar wilayah Indonesia berbentuk kampung, banyak warga lahir di kampung (halaman). Dan memang banyak pekerja di Jakarta yang meninggalkan keluarganya di kampung,” pungkasnya. 

So, yang suka nyinyir dengan kebijakan Jokowi, kali ini enggak bisa menjadikan persoalan mudik dan pulang kampung sebagai bahan “menyerang.” Karena faktanya, para ahli Bahasa justru sepakat dengan pernyataan Presiden ke-7 tersebut. 

Artikel Terkait

Back to top button