BacaanEkobisSocio Cultural

Maaf, dari Sudut Pandang Ilmiah Pemerintah Kita Memang Gagal Tangani Pandemi Covid-19

Mahakama.co berkesempatan turut serta dalam terselenggaranya sebuah gawian bertajuk seminar online. Kali ini membahas tentang: “Risiko Bencana Covid-19 dalam Perspektif Pembangunan Sosial.” Menghadirkan Irina Raflina sebagai narasumber. Wanita muda yang juga kandidat PhD di Deutches Institut fur Entwicklungs Politik (German Development Institute), Jerman.

Pembahasannya memang cukup ilmiah. Dalam pengantarnya, Irina mengatakan bahwa konsep risiko di Indonesia merupakan hal yang baru. Konsep ini dikenalkan para ilmuan dan cendikiawan pada awal abad 19. Ketika berbicara risiko di Indonesia, pada umumnya akan terjadi penolakan-penolakan. Padahal konsep risiko ini merupakan hasil daripada kajian ilmiah. Tujuannya untuk mengurangi dampak kerugian dari terjadinya suatu bencana. Baik dari faktor alam maupun non alam. Penolakan yang dimaksud ada keterkaitannya tentang bagaimana ilmu sains dikonstruksikan di Indonesia.

Tepat 100 tahun yang lalu, pernah terjadi pandemi flu Spanyol di berbagai belahan dunia. Indonesia pun terkena dampak langsung terhadap pandemi ini. Namun respons yang diberikan masyarakat Indonesia pada saat itu berbeda-beda. Ada yang mengaitkannya ke dalam hal supranatural, hingga ke ritus-ritus agama. Ini terjadi karena minimnya pengetahuan soal pandemi.

Dalam pemaparan materinya, Irina menjelaskan bagaimana perspektif risiko yang terjadi di Indonesia pada umumnya saat pandemi Covid-19. Kata Irina Indonesia —dalam hal ini pemerintahnya— dirasa kurang siap dalam mengantisipasi risiko pandemi Covid-19. Tentu saja penilaian ini berdasarkan pada kebijakan-kebijakan yang diambil selama pandemi ini terjadi. “Ini yang terlihat dalam kacamata sains.

Irina yang saat ini sedang menyelesaikan studi PhD nya di Jerman, turut membandingkan kebijakan pemerintah setempat dengan yang diambil pemerintah Indonesia. Bagaimana seriusnya pemerintah Jerman dalam mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan mereka hadapi dengan pandemi ini. Intinya dia menekankan bahwa perspektif risiko yang diambil antara negara maju dengan negara berkembang memang sangat berbeda.

Berbeda dengan di Indonesia, respons pemerintah terkesan ingin mengatasi pandemi ini secara senyap dan diam-diam. Mungkin bertujuan untuk tidak membuat kepanikan di masyarakat. Namun hal itu malah membuat keadaan semakin tidak menentu.  Padahal sebelumnya sudah pernah diperingatkan melalui media bahwa Indonesia musti bersiap-siap menghadapi pandemi ini. Tetapi respons para pejabat kebanyakan seperti tidak menanggapi serius. Bahkan pada awal kemunculannya, sempat mengeluarkan kebijakan stimulus pariwisata agar lebih banyak turis yang berkunjung ke Indonesia. 

Pernyataan publik semacam ini dari pejabat-pejabat pemerintahan cukup mempengaruhi bagaimana respons masyarakat. Bisa dilihat bagaimana masyarakat yang sudah diingatkan untuk mematuhi imbauan agar tetap di rumah masih enggan mematuhinya. Salah satu faktor yang membuat masyarakat enggan mematuhi aturan tersebut mungkin saja karena mereka melihat contoh dari pemerintahnya yang terkesan tidak serius dalam menangani pandemi ini sehingga muncul sikap apatis terhadap imbauan pemerintah.

Covid-19 bukan saja menghantam sektor kesehatan, namun juga banyak menimbulkan kerugian baik dari sektor ekonomi, sosial maupun pertahanan dan keamanan sekalipun. Jelas dalam beberapa hari terakhir kita banyak membaca berita bahwa kalangan kelas bawah mulai kesusahan dalam mencari penghasilan akibat terdampak pandemi ini. Kemungkinan meningkatkan jumlah kemiskinan semakin bertambah. Bisa kita prediksi krisis ekonomi global akan segera datang. Bersiaplah. (*)

Artikel Terkait

Back to top button