BacaanSamarindaSocio Cultural

Masih Sangat Rawan, Balikpapaners dan Samarindans Jangan Saling Mengunjungi Dulu

Beberapa hari terakhir, angka penyebaran Covid-19 tak mengalami peningkatan di Samarinda. Hingga Senin, 22 Juni 2020, kasus pasien positif Covid-19 di ibu kota Kaltim ini berjumlah mencapai 65 orang. Dari jumlah itu, 53 diantaranya sudah sembuh dan 1 pasien meninggal dunia.

Angka-angka di atas seharusnya jangan membuat kita terlena. Para Samarindans tetap harus waspada. Sebab, dari kronologi yang sudah-sudah, pasien positif di Samarinda justru kebanyakan datang dari luar kota.

Apa yang terjadi di Balikpapan bisa dijadikan pelajaran. Setelah pelabuhan dan bandara kembali normal, ledakan pun muncul. Ditambah status transmisi lokal yang terus bertambah. Ya, kota yang hanya berjarak 112 km di selatan Samarinda itu melaporkan sejak 19-24 Juni atau dalam rentan waktu dua hari, terdapat tambahan 22 pasien positif.

Angka tersebut menambah kasus positif Covid-19 mencapai 435 orang di Kaltim. Dengan jumlah Pasien Dalam Pantauan (PDP) sebanyak 827 kasus dan 11.870 merupakan Orang Dalam Pemantauan (ODP).

Yang jadi perhatian adalah, terpantau masih banyaknya Balikpapaners maupun Samarindans yang pulang pergi saling mengunjungi kota masing-masing untuk berbagai alasan. Seperti alasan bisnis atau bahkan sekadar jalan-jalan.

Kondisi ini membuat lembaga resmi pemerintah dalam penanganan Covid-19 terus-terusan mengimbau warganya untuk tetap kooperatif dalam melaporkan riwayat perjalanan, terutama dari daerah yang angka penyebarannya tinggi.

“Kami ingatkan sekali lagi, please mohon tolong dengan sangat jika ada warga Samarinda yang baru saja datang dari luar kota Samarinda, tolong segera hubungi call center 112 untuk discreening lebih awal agar tidak ada penambahan kasus lagi di kota kita tercinta ini,” tulis akun twitter @SamarindaSiaga.

Akan tetapi, Kaltim tak termasuk dalam deretan 5 teratas provinsi dengan angka penambahan Covid-19. Jumlah provinsi dengan jumlah kasus terbanyak ialah Jawa Timur (315 kasus), Jakarta (127 kasus), Sulawesi Selatan (111 kasus), Kalimantan Selatan (89 kasus) dan diikuti Sumatera Selatan dengan 60 kasus baru.

Jumlah kasus virus corona di Indonesia, per Senin 22 Juni total bertambah 954 orang, sehingga jumlah keseluruhan orang positif Covid-19 di tanah air mencapai 46.845 pasien.

“Penambahan kasus hari per hari menggambarkan kepatuhan protokol kesehatan belum dilakukan optimal,” kata juru bicara nasional penanganan Covid-19 Achmad Yurianto di Gedung BNPB, Jakarta, Senin (22/6) dalam pers rilisnya.

Ya, rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia dalam menerapkan protokol kesehatan cukup beresiko, terutama setelah diberlakukannya new normal oleh pemerintah. Masih banyak dijumpai, warga yang tak memakai masker. Sikap tak mengidahkan aturan kesehatan inilah yang sangat disayangkan. Namun bagi Pakar Hukum Tata Negara, Bivitri Susanti, tak serta merta kesalahan mereka.

Menurutnya, satu diantara pendiri Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) itu, sikap cuek masyarakat sebagai cerminan dari kebijakan pemerintah yang dianggap lamban dan tidak konsisten.

“Benar enggak peraturan sering berubah? Pandangan saya adalah pemerintah terlambat merespons. Bagaimana indikasi mulai bulan Januari sudah ada indikasi (kasus corona) kajian dari teman UI, tapi kebijakan (pemerintah) baru keluar Maret. Apa tidak ada kepercayaan pada sains,” ujar Bivitri dalam acara Rumpi Hukum yang digelar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) secara daring, akhir Mei lalu.

Dikutip dari Majalah Farmasetika – MIT Technology Review, ada tiga cara jika ingin menghentikan penyebaran Covid-19. Yakni, Lockdown lokal atau di Indonesia dikenal dengan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Lalu pemberian Vaksin dan terakhir Herd Immunity, yakni suatu bentuk perlindungan tidak langsung dari penyakit menular yang terjadi ketika sebagian besar populasi menjadi kebal terhadap infeksi, baik melalui infeksi sebelumnya atau vaksinasi, sehingga individu yang tidak kebal ikut terlindungi.

“Di Indonesia sendiri vaksin belum ditemukan. PSBB juga dianggap tak berjalan semestinya, dan sekarang new normal menurut kami masyarakat awam adalah bahasa lain dari herd immunity, ya mau gimana lagi,” pasrah Robin Setiawan, salah seorang Samarindans. (*)

Artikel Terkait

Back to top button