BacaanSamarindaSocio Cultural

Memahami Mahasiswa Unmul yang Bunuh Diri karena Skripsi: Dampak Depresi Akademis Setara dengan Pelecehan Seksual

Kabar duka datang dari Universitas Mulawarman (Unmul). Seorang mahasiswanya yang berasal dari jurusan Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) berinisial BH ditemukan tewas gantung diri di kamar kosnya Sabtu petang, 11 Juli 2020. Meski belum dapat dipastikan, namun kuat dugaan jika BH memilih mengakhiri hidup karena depresi akibat skripsi yang terkatung-katung.

Jika benar adanya, kasus ini menambah daftar mahasiswa bunuh diri akibat stres karena skripsi. Tidak hanya pemberitaan tentang pentingnya kesehatan mental, perlu langkah nyata dari pihak kampus untuk mencegah dan menolong mahasiswa soal kesehatan mental.

Skripsi sebagai syarat kelulusan di tingkat strata 1 dalam dunia kampus memang menjadi beban. Oleh karena pengerjaannya yang tidak sederhana, skripsi menjadi tantangan bagi setiap mahasiswa semester akhir. Satu penelitian pada 2018 berjudul: “Pengaruh Penulisan Skripsi terhadap Simtom Depresi dan Simtom Kecemasan pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Angkatan 2013” yang ditulis Muhammad Solih Nasution menunjukan bahwa ada 76 orang yang mengalami gejala atau simtom kecemasan dengan level sedang dan ringan dari total 84 subjek penelitian. Terdapat pula enam laki-laki dan 14 perempuan yang mendapat simtom depresi.

Tidak dimungkiri, isu kesehatan mental masih tabu dibicarakan. Sayangnya, hal itu menyuburkan stigma terhadap pengidap gangguan mental. Adanya stigma menjadi penghambat besar dalam proses pemulihan para pengidap. Di antara lingkungan yang diharapkan menjadi pencegah gangguan mental dalam hal ini adalah level institusi yaitu kampus. Kampus harus menjadi safe space bagi mahasiswa. Iklim sosial, praktik pengajaran, kurikulum, dan tuntutan akademik menjadi kontributor terhadap kondisi psikis mahasiswa, seperti yang ditemukan peneliti asal University of California, DeAnnah R. Byrd dan Kristen J. McKinney, dalam “Individual, Interpersonal, and Institutional Level Factors Associated with the Mental of College Students” (2012).

Memang, stressor atau pemicu seseorang dalam mengalami depresi tidak sesederhana disebabkan satu faktor. Depresi yang selalu diabaikan pemulihannya cenderung menghasilkan suicidal thought atau pikiran bunuh diri. Seperti yang dikutip dalan tirto.id, di antara faktor-faktor yang berkaitan dengan pikiran bunuh diri yaitu pengalaman pelecehan seksual, terlibat perkelahian fisik, masalah akademis, dan masalah sosial-lingkungan.

Di masa pandemi seperti ini, kampus memang mendapat tantangan baru untuk mengatur normal baru dalam proses administrasi, belajar mengajar, bimbingan skripsi, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Namun tidak ada salahnya, pihak kampus lebih aware dan melakukan usaha lebih lanjut terkait kepedulian terhadap kesehatan mental. Hal itu bisa dimulai dengan kampanye tentang pentingnya kesehatan mental untuk menghapus stigma yang ada di lingkungan kampus dan masyarakat.

Kaprodi Hubungan Internasional Unmul, Rahmadaniah, saat dikonfirmasi terkait kabar ini juga belum merespon pertanyaan yang diajukan Mahakam.co perihal ini. Melalui akun Facebook, Program Studi Hubungan Internasional Unmul menulis ucapan belasungkawa untuk BH.

Sebagaimana dikutip dari korankaltim.com BH merupakan mahasiswa yang berasal dari Penajam Paser Utara (PPU) berusia 25 tahun. Di Samarinda, BH tinggal dengan kakak angkatnya di Jalan Pemuda, Kecamatan Sungai Pinang. Meski memiliki rumah di Pemuda, namun kakak angkat BH itu justru bekerja di Bontang. Keterangan dari kakak angkatnya yang menguatkan dugaan bahwa BH depresi akibat masalah kuliah.
“Saat dia ngajukan skripsi, selalu ditolak oleh dosennya, makanya dia stres dan sempat curhat ke kakak angkatnya,” ucap Kanit Reskrim Polsek Sungai Pinang, Iptu Fahrudi, Minggu, 12 Juli 2020. (*)

Back to top button