BacaanSport

Menguji Kesetiaan Ahmad Amiruddin bersama Borneo FC, Dipercaya Sang Presiden Memantau Pemain Muda

Berbicara juru taktik Borneo FC Samarinda, sudah pasti nama-nama tersohor pelatih top dunia berseliweran dalam ingatan. Namun, dalam beberapa musim terakhir ada seorang sosok yang tergolong sangat setia mendampingi perjalanan tim.

Yupsss, dia adalah Ahmad Amiruddin. Namanya begitu melekat dengan skuad Pesut Etam. Pria kelahiran 3 Oktober 1982 ini telah empat musim menjadi asisten pelatih di Borneo FC. Menariknya, meski sang alenatore terus berganti hampir setiap musim, Ahmad Amiruddin tetap selalu dipercaya mengisi posisi sebagai pendamping pelatih kepala.

Secara kemampuan, mantan bomber Arema FC itu pun bukan kaleng-kaleng. Maklum, dia banyak mendampingi pelatih ternama. Diantaranya Iwan Setiawan (Indonesia), Kas Hartadi (Indonesia), Dragan Djukanovic (Montenegro), Dejan Antonic (Serbia), Fabio Lopez (Itali), Mario Gomez (Argentina) dan terakhir Edson Tavarez (Brazil).

Deretan pelatih top itu secara otomatis membuatnya kaya akan pengalaman. Apalagi, Ahmad Amiruddin pernah didapuk sebagai caretaker ketika pelatih kepala berhalangan hadir mendampingi tim di beberapa pertandingan.

“Bagi saya semua pelatih berkesan. Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik selama mendampingi mereka,” kata membuka obrolan dengan Mahakama.co.

“Saya merasa sangat beruntung diberi kesempatan bekerja sama dengan mereka,” tambah Amiruddin.

Diberikan kepercayaan mengabdi sembari menimba ilmu bersama Borneo FC membuat pria yang akrab disapa Aming ini tak lupa bersyukur. Terlebih dukungan penuh Presiden Borneo FC, Nabil Husien Said Amin terhadap jenjang karirnya juga membuat pria asal Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) ini merasa betah.

“Alhamdulillah, terima kasih banyak kepada presiden klub atas support-nya. Semoga ilmu yang didapat nantinya bisa berguna untuk Borneo FC kedepannya,” kata coach Aming.

Ahmad Amiruddin juga kerap menjadi salah satu teman diskusi pemilik klub, Nabil Husien. Terutama perihal pengembangan pemain muda. Sebab, Borneo FC memiliki visi-misi mengorbitkan talenta muda di skuadnya. Sehingga, Ahmad Amiruddin terkadang diamanatkan untuk mengamati perkembangan pemain tersebut.

Penyerang timnas Indonesia dengan koleksi 2 caps itu bercerita, pada awal-awal dipercaya menjadi teman diskusi seorang pemilik klub, dirinya sempat nervous. Karena ini merupakan bentuk tanggung jawab morilnya kepada presiden klub. “Tapi insya Allah saya hanya memberi penilaian sesuai data dan fakta yang saya lihat tanpa ada kepentingan apapun,” terangnya.

Filosofi Borneo FC yang senantiasa memberdayakan pemain muda, sejauh ini di matanya juga sudah berada dijalur yang tepat. “Tinggal bagaimana pemain muda memanfaatkan kesempatan yang Ada. Karena di sepak bola level pro, tidak ada lagi tua atau muda. Yang ada pemain bagus dan tidak bagus,” pesannya.

Ahmad Amiruddin yang kini telah mengantongi lisensi kepelatihan B AFC mau tak mau diwajibkan untuk meningkatkan kualifikasi kepelatihannya. Mengingat setiap musimnya, standarisasi lisensi di sepak bola Indonesia terus meningkat mengikuti induk organisasi sepak bola Asia.

Pada Liga 1 2020 saja, setiap klub wajib memiliki pelatih kepala dengan kualifikasi serendah-rendahnya A AFC. Begitu juga dengan Direktur Teknik di setiap klub yang harus berlisensi A AFC.

Demikian juga untuk dua orang asisten pelatih, seorang wajib berlisensi A AFC dan seorangnya lagi minimal memiliki B AFC. Adapun standar kualifikasi pelatih kiper minimal memiliki lisensi AFC GK Level 1. Sedangkan untuk pelatih fisik atau fitness coach senior, kudu mengantongi AFC B atau sarjana olahraga.

Aware akan hal itu, bos Borneo FC, Nabil Husien Said Amin mengatakan tetap berkomitmen mendukung jenjang kepelatihan Ahmad Amiruddin. Maklum kursus kepelatihan A AFC dan AFC Pro bukan hal yang mudah. Durasinya pun memakan banyak waktu. Jadwalnya juga acap kali bentrok dengan agenda klub. Tak sedikit banyak kinerja seorang pelatih di klubnya terganggu akan hal ini.

Coach Amir ini orangnya ramah dan mau terus belajar. Kami senang bisa bekerja sama dengan dia. Kita akan dukung terus dia untuk bisa ada berada di kualifikasi tertinggi sebagai pelatih, step by step lah ya,” sahut Nabil Husien.

Sebagai informasi, PSSI per tahunnya terus meningkatkan kualifikasi untuk ribuan pelatih di Indonesia. Mereka terus menggeber serangkaian kursus kepelatihan berlisensi dengan instruktur berpengalaman, lokal dan mancanegara di setiap daerah.

Dikutip dari situs resmi federasi, pada tahun 2019 contohnya, PSSI telah melahirkan total 2.442 pelatih di berbagai level. Dimulai dengan lisensi D sebanyak 76 kursus dengan jumlah partisipan 1941 pelatih. Lalu kursus lisensi C sebanyak 15 kali dengan jumlah 360 peserta. Dan lisensi B sebanyak 4 kursus dengan jumlah partisipan sebanyak 94 dan kurus lisensi A sekali yang diikuti total 23 pelatih.

“Sejak 2017, PSSI lewat Divisi HPU PSSI (High Performance Unit) telah mencetak lebih dari 4.000 pelatih mulai dari yang paling dasar lisensi D hingga mereka yang kini berlisensi AFC Pro,” klaim pernyataan resmi PSSI.

Alhasil, menjadi seorang pelatih di Indoneesia sekarang tidak lagi sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Kini jenjang seorang pelatih menangani sebuah tim telah di atur ketat sesuai tingkatannya. Bahkan, kompetisi kelompok umur bertajuk Elite Pro Academy juga memiliki variabel kualifikasinya. Jadi setiap pelatih kepala U-20 maupun direktur akademi tim Liga 1 Elite Pro Academy, diharuskan berliseni B AFC. Hal itu juga wajib bagi pelatih kepala U-18 dan U-16, yang seminimalnya harus mengantongi lisensi C AFC.

“Itulah pentingnya pelatih berlisensi. Beberapa waktu lalu Borneo FC juga pernah bekerja sama dengan PSSI membuat kursus lisensi D nasional untuk pelatih pemula, ya kami sadar dengan semakin banyaknya pelatih berlisensi mutu pesepakbola daerah akan semakin berkualitas,” pungkas Nabil.

Artikel Terkait

Back to top button