BacaanSeni

Musik Sarana Kian Mendunia

Bermain musik noise experimental jadi jalan bagi dua gadis cantik asal Samarinda, Sabrina Eka Felisiana dan Annisa Maharani untuk bisa merambah dunia. Tidak banyak yang tahu bahwa mereka berdua sudah pernah unjuk kebolehan di luar negeri. Pertama di Insolence of Deafening Definition di Lithe House pada 25 November 2016 silam. Terus yang terakhir di Berlin, dalam rangkaian acaranya CTM Festival di HAU 2, 1 Februari 2019 kemarin.

Annisa atau lebih akrab dengan panggilan Coki bercerita awal mula terbentuknya Sarana karena faktor ketidaksengajaan. “Jadi, yang duluan main noise itu Sabrina. Cuma, pas waktu ada gigs tahun 2015, Sabrina ngajak aku ama Istanara buat main bareng. Terus, nyari namanya juga yang dari akronim nama kita bertiga aja,” celotehnya.

Selepas itu mereka rutin tampil di berbagai event musik tanah air. Dengan prestasi yang sudah diukir itu, apakah ekpektasi sudah sesuai diharapkan? namun bagi mereka ekpektasi pencapaian yang mereka dapatkan itu ibarat air yang terus mengalir. “Ekpektasi sih kayaknya gak pernah muluk-muluk, tapi alhamdulillah ada aja rezekinya,” papar Coki. “Malah kebanyakan pencapaian yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya,” timpal Sabrina yang menyukai King Gizzard itu.

“Jadi yang Sarana bawain ini itu noise/experimental. Jadi, kami berusaha untuk mengeksplor berbagai macam bunyi yang dihasilkan dari alat-alat yang kami punya. Karena kami mainnya berdua, jadinya satu sama lain harus saling mengisi dan melengkapi biar feelingnya makin dapet pas main, tambahnya.

Musik noise experimental memang khas, jadi setiap orang yang memainkan dituntut menciptakan suara yang unik yang bisa mengungah pendengarnya. Oleh sebab itu, improvisasi jadi salah cara untuk menikmati musik yang dihasilkan dari berbagai alat. “Lebih ke improvisasi sih. Karena apa yang kami mainin itu ga bisa kami mainin lagi di pertunjukkan selanjutnya. Kalau aku lebih mengeksplor suara dari vokal, synthesizer dan mainan-mainan kecil kayak bel atau mainan anak-anak. Kalau Sabrina make volca yang disambungkan ke pedal efek,” terangnya.

Di Indonesia, grup sejenis Sarana telah menjamur, namun bagi mereka tidak ada persaingan yang terjadi, pecinta musim noise/experimental bahu membahu saling dukung, apalagi Sarana adalah satu-satunya yang personilnya terdiri dari kaum hawa. “Di Indonesia banyak banget pegiat noise dan experimental, bahkan di Yogyakarta ada festival tahunan namanya Jogja Noise Bombing Festival. Di Samarinda pun juga ada beberapa yang main noise juga tapi yang cewek di sini cuma Sarana,” kicau Coki.

Karena tak banyak orang yang bisa memahami musik ini, sumpah serapah acap kali diterima, yang paling membekas saat mereka disebut sampah. “Kalau kata-kata kurang mengenakan sih banyak banget, haha. Cuma, yang paling diinget banget sih ada yang ngomong kalo apa yang dimainin Sarana itu sampah,” keluh Coki.

Lalu bagaimana cara agar bisa menikmati alunan suara dari pertunjukkan musik noise? “Untuk bisa menikmati sih kayaknya gak perlu ekspektasi yang macam-macam. Cukup ngeliat dan ngedenger sendiri gimana, terus bisa ngesimpulin apa yang bisa didapet. Kalau misalnya ingin betul-betul memahami, ya coba aja mainin alat-alat yang biasa dipake main noise. Aku dulu awalnya nggak tau apa-apa sampai akhirnya pas mulai coba-coba main, akhirnya sampai sekarang belajar terus,” pungkas Coki. (*)

Artikel Terkait

Back to top button