BacaanSeni

Musisi Kalimantan Berkolaborasi Dalam ‘Suara dari Borneo’: Pesan Terbuka di Tengah Serangan Pandemik

Kalimantan menjadi pulau yang tak lepas dari paparan Covid-19. Dilaporkan ratusan warga sudah terjangkit virus di pulau terbesar kedua di Indonesia ini. Diprediksi angkanya pun akan terus bertambah, seiring aktivitas warga yang berjalan normal. Jika ini terus berlangsung, wabah ini jelas ibarat bom waktu yang akan menimbulkan kesedihan.

Apalagi, keselamatan nyawa orang banyak tak hanya bisa dibereskan oleh paramedis, kesadaran masyarakat sangat penting dalam memutus mata rantai penyebaran virus ini. Dari hal itu, lewat lagu, mereka coba berbagi pesan. Ingin menyampaikan pengingat bahwa lebih baik di rumah saja.

Berangkat dari kekhawatiran itu, musisi-musisi di Pulau Kalimantan mencoba menyatukan suara. Lewat karya mereka coba memberikan penyejuk rasa lara di tengah banyaknnya kesulitan yang dirasa. Dalam kolaborasi ini, Borneo Pride melibatkan musisi dari berbagai kota di Pulau Kalimantan, seperti Balikpapan, Banjarmasin, Tenggarong, Samarinda, Palangkaraya dan Pontianak dengan tajuk Suara dari Borneo.

Total musisi yang terlibat mencapai 12 orang. Di antaranya, Akbar Haha (Kapital), Jondry (Davy Jones), Novi Umar (Conan DX), Novan (Higgs), Afif (Brotherhood), Dede Rukka (The Superms Punk), Kemal (RideSea) Wai Rejected, Linda (Aphrodite Project), Irene Sugiarto, Kemal Pramadhika, dan Restha Wirananda.

Melihat deretan nama musisi senior yang terlibat, ini jelas bukan kaleng-kaleng. Akbar Haka dan Novi Umar yang sudah malang melintang di belantika musik nasional, merepresentasikan bahwa karya ini sangat sungguh-sungguh. Saat ini, proses perkenalan Suara dari Borneo masih dalam perjalanan, pesan yang akan dibawa nanti diharapkan akan merasuk didalam diri orang Borneo itu sendiri.  “Jujur saya sudah tak sabar menanti lagu ini lahir,” urai Novi Umar, cakap seorang dari musisi yang terlibat dalam postingan instagramnya. 

Hal yang sama juga diutarakan akun instagram Borneo Pride. Mereka menjabarkan meski dalam posisi pahit, tetap harus ada sesuatu hal diperbuat untuk menjadi manis. “Di momen kurang enakkin kayak gini ini, banyak dari kita berprofesi sebagai musisi kehilangan rutinitasnya, jadwal manggung pasti banyak dipostpone, karena eventnya pun pada dipostpone,” urai mereka.

Atas dasar itu, sebuah karya dari anak-anak Pulau Kalimantan ini diharap bisa menjadi pelipurlara. Obat untuk pengusir kesedihan di tengah-tengah posisi sulit ini. “Di tengah memori buruk di awal 2020 ini, Borneo Voice ingin berbuat untuk menjadi memori baik, yang bakal jadi penyeimbang segala memori pahit. Kami saling berkolaborasi, dari timur ke barat, untuk saling mengisi dan melengkapi. Kami akan tetap berkarya untuk kalian semua, kalian tetap di rumah saja ya. Berjanjilah jangan kemana-mana, hingga waktu tiba kita berkumpul lagi,” pungkasnya. 

Artikel Terkait

Back to top button