BacaanKomunitasSamarinda

Ngobrol dengan Pemilik Brompton di Samarinda, Sepeda Staf Kerajaan Inggris yang Super Mahal

Harga mahal cuma soal sudut pandang. Buktinya mobil Ferrari tetap banyak yang beli, meski tanpa iklan. Di kelas sepeda kita mengenal Brompton. Sepeda super premium dengan harga selangit. Meski begitu, peminatnya tetap banyak. Bahkan di Samarinda komunitasnya sudah berdiri.

Brompton, produsen sepeda lipat tersohor asal Inggris. Seiring waktu, namanya terus melesat. Di Indonesia, Brompton benar-benar digandrungi banyak orang. Harganya yang tergolong mahal, tak lantas membuatnya sepi peminat.

Bahkan nih, Dari total produksi 50 ribu unit pada 2019 lalu, 5.000 unit atau 10 persennya terjual di Indonesia. Angka tersebut belum termasuk penjualan di pada 2020 yang sekarang sudah memasuki bulan keenam. Apalagi kini budaya bersepeda di tengah pandemi Covid-19 sedang booming. Angkanya pun ditaksir bakal melesat lebih jauh.

Padahal Brompton belum memiliki diler resmi di Indonesia. Toko resmi penjualan Brompton adalah Brompton Junction. Jadi selama ini orang Indonesia yang ingin membeli sepeda lipat yang didirikan oleh Andrew Ritchie pada 3 Juni 1976 itu, harus memesannya lebih dahulu di Singapura.

Lalu, kenapa produksi Brompton hanya 50 ribu unit per tahun? Kenapa juga harganya gila-gilaan dibanding sepeda jenis lain? Ternyata hal ini tidak lepas dari cara bisnis perusahaan yang memakai tradisi kekeluargaan. Sebagai informasi, pada 2019 karyawan Brompton hanya 315 orang. Meski begitu, laba perusahaan mereka telah menyentuh 10 juta poundsterling atau kurang lebih setara Rp 177 miliar (1 pound = Rp 17.700).

Komponen spare part Brompton memakai bahan premium. Ini dilakukan untuk menjaga kenyamanan orang yang mengendarainya. Hal itulah yang menyebabkan sepeda ini mahal. Dari total harga jual itu, 80 persennya adalah spare part, hanya 20 persen lagi diperuntukkan untuk gaji karyawan.

Brompton memiliki keunggulan lain jika dibanding sepeda lipat lain. Sebab produksi sepeda lipat Brompton sebagian besar hand made. Sebelum dipasarkan ke publik, biasanya Brompton lebih dulu digunakan sebagai sepeda bagi para staf kerajaan Inggris.

Sepeda lipat Brompton terbagi dengan berbagai jenis. Yakni S Type, M Type, H Type dan P Type. Setiap tipe memiliki keunggulan dan kelebihan. Menyesuaikan kebutuhan.

“Aku kenapa pakai Brompton? Karena setahu aku Brompton itu punya keunggulan di sisi geometri yang sempurna. Jadi mau dipakai santai, atau dibawa sport juga enak,” urai Selvy Chyntia, selebgram Samarinda yang juga Make Up Artist (MUA).

Di Samarinda sendiri, pemakai Brompton tergolong banyak. Setiap akhir pekan, mereka biasanya menyiapkan waktu untuk bercengkrama sambil mengitari sudut kota. Mereka datang dari berbagai khalayak, pria maupun wanita. Anggotanya mencapai puluhan, dengan background bermacam-macam. Mulai dari pengusaha, politikus, dokter dan banyak lagi.

Fenomena pemakai Brompton di Samarinda harus diakui tak kalah banyak dengan kota besar lainnya. Mahakama.co coba menghubungi Muhammad Fatih, seorang pengguna sepeda Brompton lainnya asal Samarinda.

Menurut Fatih, tujuan bersepeda karena sangat bermanfaat bagi tubuh. Adapun alasannya memilih jenis sepeda lipat, karena dianggapnya lebih efisien dan praktis. “Dan kebetulan yang dipakai Brompton,” urainya.

Lebih lanjut, diceritakan Fatih, Brompton kerap mengeluarkan edisi spesial. Hal inilah yang membuat Brompton berbeda dengan produsen sepeda lipat lainnya.

“Tapi secara keseluruhan sama aja sih. Yang membedakan di edisi khusus biasanya itu warna yang spesial dan diproduksi terbatas dibanding yang basic. Tapi secara pribadi, aku lebih suka edisi yang explorer. Kombinasi warnanya kebetulan aku suka. Dan packaging-nya sangat lengkap. Ada ban luar, ban dalam, tas besar dan tas kecil, dan banyak lagi,” kata Fatih.

Dari penelusuran Mahakama.co, harga Brompton bervariasi. Mulai Rp 16 juta hingga ada yang mencapai ratusan juta. Pemakai Brompton Samarinda terbilang harat. Karena rata-rata yang dibeli seharga antara Rp 30 juta hingga Rp 100 juta.

So, jadi tertarik beli Brompton juga ya? Please, jangan jual ginjalmu ya…

Artikel Terkait

Back to top button