BacaanSamarinda

Queen Soya yang Sudah Membuat Gelisah Ratusan Ribu Samarindans

Hari Minggu 5 April 2020 di Pelabuhan Samarinda seperti biasanya kapal KM Queen Soya merapat untuk menurunkan penumpang asal Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel). Namun berbeda dengan sebelumnya, terjadi beberapa gejolak dan kegelisahan dari warga Samarinda atas masuknya penumpang kapal tersebut ke Kota Tepian.
Kami mencoba memahami kegelisahan Samarindans —sebutan untuk orang Samarinda— terhadap masuknya penumpang Queen Soya jurusan Parepare-Samarinda tersebut.

Kita semua tentu sadar dan paham dengan situasi terkini yang terjadi di dunia, bahkan Samarinda dalam pandemi Covid-19 ini. Hampir semua orang paranoid terinfeksi virus ini. Beberapa maklumat bahkan telah dikeluarkan pemerintah untuk dipatuhi. Diantaranya adalah Physical Distancing. Yakni menjaga jarak fisik agar tidak tertular.

Beberapa negara bahkan melakukan lockdown untuk memutus penularannya. Pemkot Samarinda pun melakukan beberapa imbauan terkait pandemi ini. Diantaranya menjaga jarak fisik jika sedang mengantre, praktik cuci tangan yang benar, dan imbauan untuk tidak berkerumun walaupun belakangan hendak dilanggar oleh Wakil Wali Kota Samarinda M Barkati, namun akhirnya diurungkan niatnya. Tapi kita tidak akan membahas hal itu saat ini.

Samarindans sudah merasakan dampak dari pandemi ini. Kebanyakan adalah dampak negatifnya seperti para pedagang yang sepi pembeli, ojek online (ojol) yang sepi penumpang dan berbagai dampak negarif lainnya, sehingga cukup membuat frustrasi terlebih imbauan untuk tetap berada di rumah dan larangan berkumpul.

Rasa frustrasi ini akhirnya terbuncah (walaupun seringnya melalui forum Facebook) manakala melihat rombongan penumpang Queen Soya asal Parepare merapat di Pelabuhan Samarinda pada hari Minggu lalu.

Gelisah? Tentu saja. Apalagi di Sulawesi Selatan termasuk titik klaster penyebaran Covid-19 terdekat dari Samarinda dan beberapa pasien yang positif terinfeksi memiliki riwayat perjalanan dari luar Kaltim. Marah? Pastinya! Di saat Samarindans mematuhi imbauan pemerintah untuk berdiam di rumah dan tidak berkumpul (bahkan ada yang dibubarkan aparat karena makan ayam geprek) di saat itu juga mereka melihat begitu bebasnya arus penumpang yang masuk ke kota Samarinda walaupun dari daerah klaster penyebaran Covid-19.

Pemkot Samarinda sendiri menyatakan sudah melakukan prosedur kesehatan dengan cek suhu tubuh dan mengisi kartu ODP (Orang Dalam Pantauan) serta menghimbau untuk isolasi mandiri selama 14 hari bagi penumpang yang turun dari kapal Queen Soya, bahkan penumpang yang hendak berangkat ke Samarinda pun sebelumnya juga sudah dicek suhu tubuhnya sebelum naik ke kapal. Namun siapa yang bisa menjamin penumpang-penumpang tersebut bebas Covid-19 terlebih ada pasien yang terinfeksi tanpa gejala.

Dari hal-hal tersebut bisa dipahami mengapa linimasa kita dipenuhi gambar kapal Queen Soya dan omelan-omelan khas Samarindans di Minggu sore ini.

Artikel Terkait

Back to top button