BacaanSocio Cultural

Rapuhnya Persepsi Laki-Laki Indonesia soal Maskulinitas: Anti K-Pop hingga Larang Istri Berkarir

“Pacar kamu ganteng? Baik? Kaya? Tapi diusik dikit maskulinitasnya rapuh. Takut warna pink, geli sama cowok Korea, perlakuin pacar kayak samsak emosi aja.”

Begitu bunyi cuitan akun @margianta sebagai partisipasi dalam template cuitan yang belakangan ramai: pacar kamu ganteng? Kaya? Bisa gak kayak gini?

Tak dimungkiri, perbincangan tentang peran gender 5 tahun ke belakang semakin sering terjadi. Orang-orang mulai ngeh tentang perbedaan gender dan kodrat biologis. Bermunculan istilah-istilah baru atau fresh ideas untuk menjelaskan hal-hal tersebut lebih jelas. Selain itu, juga untuk memastikan, permasalahan hari ini ya harus diselesaikan dengan cara zaman ini, bukan lagi dengan cara usang. Memang, adanya fresh ideas itu tidak selalu positif, ada juga yang negatif.

Salah satu yang muncul adalah maskulinitas rapuh. Konstruksi gender oleh masyarakat tentang sosok laki-laki yang kita anut adalah laki-laki tidak menyukai warna pink, tidak biasa dengan produk kecantikan, dan melakukan hal-hal keras yang membutuhkan kekuatan fisik. Tak sering kita mendengar kalimat seorang Ibu kepada anak laki-lakinya, “anak cowok enggak boleh nangis!”

Pembiasaan tersebut membuat kita tidak heran apabila ada cowok yang geli, bahkan membenci aktor dan anggota-anggota boygroup dari Korea. Tampilan fashion yang beragam dan kosmetik yang digunakan pria Korea bukan hal tabu di sana. Kepedulian pria Korea terhadap fisik dianggap menggelikan. Padahal, seperti penggunaan lipbalm saja, ternyata digunakan karena cuaca di Korea.

Nah, ini yang lebih parah: ogah melihat bintang K-Pop membuat sebagian orang tidak ingin berpacaran dengan cewek yang menggemari K-Pop. Mereka terlanjur punya prasangka bahwa cewek-cewek berekspektasi agar memiliki pasangan seganteng idol K-Pop adalah salah satu penyebabnya. Harusnya, ditanyakan dulu. Karena, masih banyak kok perempuan yang bisa membedakan hobi dan kenyataan.

Akibat dari konstruksi sosial tadi, warna merah jambu yang sebenarnya bebas nilai malah dijauhi sebagian laki-laki. Laki-laki yang menangis di depan umum akan dihakimi lelaki yang lemah. Menjadi manusia yang berperasaan harusnya enggak bikin kamu sungkan menunjukkan apapun emosimu. Belum lagi menyinggung soal laki-laki yang enggan membantu pekerjaan rumah. Atau lebih parah: melarang pilihan sang istri untuk berkarir.

Ramai orang-orang bereaksi akan kampanye laki-laki juga bisa yang beberapa waktu lalu diinisiasi sebuah start-up khusus pemberdayaan perempuan: Queensride. Kampanye itu mengajak laki-laki terlebih yang sudah berkeluarga untuk memotret dirinya sambil mencuci piring. Mengutip ucapan founder Queensride, Iim Fahima Jachja, “Anda mendapat didikan keluarga tidak melihat kerjaan based on gender, bukan berarti menutup mata mayoritas keluarga di Indonesia masih patriarki, cowok engga boleh masuk dapur.”

Perbedaan persepsi tentang maskulinitas menyebabkan perasaan takut. Takut dianggap tidak jantan. Tentu saja, orang-orang tidak hanya di Korea sana punya konsep maskulinitas lain. Yang tidak serapuh: pakai lulur untuk membersihkan kotoran-kotoran tubuh adalah kegiatan perempuan dan kasus-kasus lain yang sudah disebutkan di atas.

Kenapa harus takut dan kenapa harus ogah? Balik lagi ke bagaimana cara kita hidup berdampingan dan memperlakukan orang lain dengan keunikannya masing-masing. Enggak perlu marah-marah dan melakukan hal-hal keras atau punya perasaan geli dan benci. Let’s make life easier, by minding our own business and be kind. (*)

Artikel Terkait

Back to top button