BacaanSamarinda

Romantisasi Rumah Panggung Penawar Polemik Banjir Samarinda

Masih segar dalam ingatan Samarindans perihal blundernya admin Dinas Pariwisata Samarinda. Eh, belakangan ini terjadi lagi blunder oleh admin Twitter Pemkot Samarinda. Disaat sebagian Samaridans –sebutan warga Samarinda– mengalami musibah banjir, muncul ide untuk memberikan solusi banjir oleh Pemkot dengan mencontoh sebuah rumah di kawasan Pemuda III dengan konsep rumah panggung agar tidak kebanjiran. “Patut ditiru, rumah panggung bebas banjir di Pemuda III” begitulah caption yang ditulis oleh akun tersebut sehingga memantik respon beragam dengan mengesampingkan akhlak terlebih dahulu.

Mahakama.co
Cuitan akun Pemkot Samarinda yang mengundang kontroversi

Tanpa ampun netizen langsung menyambar cuitan tersebut dengan berbagai ungkapan kekecewaan khas Samarindans. Wajar saja mereka kecewa, karena membuat rumah panggung bukan solusi untuk mengatasi kebanjiran yang sudah seperempat abad dirasakan Samarindans. Terlebih lagi menyarankan untuk menirunya, sungguh sangat tidak layak dan bukan merupakan saran yang bijak.

Mengamati reaksi netizen atas tweet tersebut, kami menemukan beberapa komentar yang malah sebaliknya menyarankan Pemkot untuk meniru pengelolaan banjir di kota lainnya, alih-alih menyuruh warganya membangun rumah panggung. Ada pula yang mengomentari secara satir, dengan meminta Pemkot untuk membiayai seluruh renovasi rumah warga yang terdampak banjir untuk diubah menjadi rumah panggung.

Tidak hanya di Twitter, setelah kami telusuri ternyata postingan tersebut juga diunggah di platform Instagram, bahkan dengan caption yang lebih panjang mengutip siaran pers resmi dari Pemkot! Ini berarti postingan tersebut bukan merupakan blunder personal dari si admin, melainkan gambaran buruknya Public Relations yang ditampakkan oleh Pemkot Samarinda.

Mahakama.co

Dalam kutipannya kami rangkum dan menyimpulkan bahwa konsep rumah panggung bukan hal yang baru bagi Samarindans mengingat kota Samarinda yang sudah menjadi subscriber premium account untuk bencana banjir sehingga membangun rumah panggung merupakan bagian dari antisipasi menghadapi banjir. Lebih lanjut dijelaskan bahwa jika ingin melihat rumah panggung bahari masih banyak yang berdiri ada di sekitaran pinggir sungai di Jalan Yos Sudarso, Jalan Pangeran Suriansyah dll, sehingga warga asli Samarinda seharusnya sudah paham soal ini. Dari kesimpulan ini, foto rumah panggung yang dibagikan pada akun Twitter dan Instagram Pemkot tersebut layak dan patut untuk ditiru. What a joke!

Romantisasi rumah panggung oleh Pemkot melalui siaran pers resminya seperti memberikan pesan tersirat bagi kita Samarindans untuk bisa berdamai dengan banjir, terima saja bahwa kota Samarinda sudah subscribe layanan premium bencana banjir hingga entah berapa tahun ke depan. Dan mungkin saja bisa terjadi dimasa mendatang akan ada Peraturan Wali Kota (Perwali) yang mengatur kewajiban untuk membangun hunian berdesain rumah panggung. Pemkot juga lupa yang menjadi masalah bukan saja hunian yang terendam banjir, tapi juga akses jalan yang turut serta tenggelam bersama banjir. Ya kali kalau mau pergi jalan-jalan harus naik ketinting dulu.

Postingan di dua akun resmi Pemkot Samarinda tersebut bisa jadi dianggap remeh oleh sebagian dari pejabat di Pemkot sendiri, tapi dari kaca mata komunikasi publik ini merupakan sesuatu yang cukup fatal. Gagalnya membangun komunikasi terhadap masyarakatnya merupakan cerminan gagalnya manajemen krisis yang harusnya diterapkan oleh Pemkot. Tidak seperti Covid-19, banjir merupakan bencana yang mustinya bisa diantisipasi dengan memberikan kebijakan tepat guna. Namun maaf, kesan yang terlihat seperti Pemkot sedang tidur nyenyak sementara rumah warganya kebanjiran. (*)

Artikel Terkait

Back to top button