BacaanSamarindaSocio Cultural

Samarinda yang Semakin Ramai: Mungkin Corona-nya Tersenyum Lebar Lihat Banyak Kerumunan Orang

Enggak kerja, enggak sekolah dan hanya diminta berdiam di rumah awalnya adalah yang sangat asyik. Tapi kalau imbauan ini sudah berlangsung lebih sebulan apa asyiknya? Bete? Sudah pasti, kan?

Itulah yang sekarang dirasakan sebagian Samarindans —sebutan warga Samarinda.
Puncak-puncak ke-bete-an berdiam di rumah mungkin terjadi bertepatan dengan awal Ramadan. Jangan heran, kalau beberapa hari terahir suasana kota kembali ramai. Padahal larangan berkumpul dan beraktivitas di luar rumah belum dicabut, lho.

Kita harus jujur, kalau bagi sebagian warga anjuran untuk tetap berdiam diri di rumah, sekarang, seolah hanya angin lalu. Imbauan itu kini tak lagi ditaati kebanyakkan orang. Jalanan kini penuh dengan lalu lalang kendaraan. Baik roda empat maupun roda dua, sendirian ataupun bergerombol.  Yang bikin miris, mereka kebanyakkan tak memakai masker. Padahal nih ya, Samarinda termasuk daerah yang sudah dilabeli zona merah. Artinya risiko transmisi penyebaran Covid-19 di ibukota Kalimantan Timur ini cukup tinggi.

Tapi sekarang, sangat mudah dijumpai, Samarindans yang masih berkumpul di tengah kota. Coba lihat di Taman Samarendah. Hampir saban sore hiruk-pikuk aktivitas warga di sana cukup ramai, mungkin bisa juga dibilang padat. Alasan berkumpul beragam. Mulai dari jogging, hingga sebatas haha-hihi untuk berkumpul yang berkamuflase dengan tradisi ngabuburit —menunggu buka puasa. Ini belum termasuk orang-orang “kebal” yang tetap nekat bersepeda secara berkelompok mengitari kota.

Ironi memang, di tengah label zona merah untuk Samarinda, warganya justru cuek bebek. Mau lihat lagi betapa cueknya “urang” Samarinda, coba jalan-jalan ke Lambung Mangkurat saat jelang berbuka. Di ruas ini aktivitas warganya benar-benar berdenyut. Blas… normal, seperti enggak ada pandemi. Biasa saja. Memang biasa macet kan di ruas itu? Ya, dengan mudah dijumpai orang berkerumun melakukan transaksi jual beli. Dilematis memang. Soalnya ini menyangkut piring nasi orang banyak.

“Inilah yang harus menjadi perhatian mendasar pemerintah. Jika hanya sekedar mengimbau, tanpa solusi dan penanganan yang baik, warga juga akan cuek jadinya,” urai Beben, yang sehari-hari bekerja sebagai tukang parkir di ruas itu.

Lambung Mangkurat hanya satu contoh, ramainya warga Samarinda yang keluar rumah. Hingga saat ini, banyak titik di penjuru Samarinda juga nyrais sama. Lihat lagi di Jalan Tenggiri, Jalan Jalan Biawan, Jalan Gerilya dan banyak lagi. Dengan kata lain, seolah-olah orang Samarinda kebal virus. Kalau corona itu bersosok yang memang punya tugas menginfeksi tubuh manusia, mungkin dia akan tersenyum lebar karena misinya akan mudah tercapai.  “Virus Covid-19 ini tidak terlihat. Tapi jangan terlena dan lengah. Secara tidak langsung kita dalam situasi perang,” urai pemerhati sosial, Fajrian Nur Darmansyah.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, Andi M Ishak sudah mewanti-wanti banyak pihak, perorangan ataupun lembaga dan kelompok, agar tak melakukan kegiatan melibatkan banyak orang di tengah pandemi ini. “Pesannya sudah jelas, hindari kegiatan berkumpul. Jika satu atau dua orang dalam kerumunan ada yang terjangkit, maka sangat mudah terjadi penularan virus. Kami pun sulit melacaknya,” urainya.

Geliat warga Samarinda di tengah pandemi Covid-19 semakin hari memang semakin bikin resah. Sikap acuh ini diprediksi bakal meningkatkan risiko jumlah orang yang terpapar Covid-19 bertambah cepat. Hal itu terbukti, di mana 5 pasien positif corona terbaru terjadi dalam sehari, pada 26 April. Artinya di Samarinda sudah ada 15 orang yang positif tertular.  “Juhkan bala kalau pina kayak di Italia,” beber H Abdurahman Rasyid, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Samarinda.

Jika dibanding Balikpapan dan Penajam Paser Utara (PPU), angka pasien terjangkit di Kota Tepian memang bukan yang tertinggi di Kalimantan Timur, namun itu juga bukan alasan untuk tetap bisa keluar rumah tanpa kepentingan yang mendesak. Di Indonesia sendiri secara menyeluruh, orang yang positif terpapar virus corona mencapai 8.882 orang dengan rincian jumlah pasien sembuh sebanyak 1.107 orang dan meninggal 743 orang.

Keadaan ini jelas mengkhawatirkan. Terutama gaya masyarakat Samarinda yang mulai acuh. Dinas Kesahatan Kota Samarinda juga telah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dengan menyediakan pusat karantina bagi pasien dalam pengawasan (PDP). Adapun puncak wabah korona di Kota Tepian diprediksi terjadi dalam 2 dan 4 minggu kedepan.

“(Persiapan yang dilakukan) Salah satunya seperti membuka Rumah Sakit Karantina (Covid-19) di Balai Pelatihan Kesehatan. Rumah sakit ini mampu menampung hingga 80 pasien dalam pengawasan Covid-19, ini ada yang ringan, sedang, dan berat,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda Ismed Kusasih, seperti dilansir Detikcom, Minggu, 26 April.

Artikel Terkait

Back to top button