Samarinda

1.800 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Kaltim, yang 877 Kasus Terjadi di Samarinda

Mahakama.co

Kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di Kota Samarinda terbilang tinggi. Upaya menghapus kekerasan maupun ekploitasi anak dan perempuan tidak hanya menjadi tugas pemerintah dan aparat penegak hukum. Diperlukan peran serta masyarakat luas sehingga masalah ini bisa diatasi.

Demikian disampikan Wali Kota Samarinda Andi Harun saat melantik Forum Puspa Bungah Gerecek Samarinda, Jumat (12/3/2021).
Forum Puspa Bungah Gerecek sebenarnya sudah terbentuk Februari 2020 silam dengan sejumlah program yang sudah berjalan. Saat ini, organisasi tersebut telah membina 30 orang. Mereka merupakan wanita korban rentenir dan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Sementara itu, ada juga anak-anak telantar, homeless, anak jalanan, anak korban kekerasan, termasuk korban rudapaksa di bawah umur yang ikut dibina organisasi ini.

Melihat hal itu, Andi Harun membuka partisipasi masyarakat untuk ikut menangani persoalan ini. Dia tidak memungkiri jika kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Samarinda termasuk tinggi. Katanya, jangan sampai korban kekerasan ini membuat mereka kehilangan kesempatan untuk menempuh pendidikan dan kehilangan masa depannya.
Ketua Forum Puspa Bungah Gerecek Ahmad Syahir menjelaskan,1.800 kasus kekerasan perempuan dan anak di Kaltim selama periode 4 tahun terakhi, kasus di Samarinda memang mendominasi. Dengan 877 kasus. Dia meyakini angka itu baru yang terungkap di permukaan. Sedangkan masih banyak yang belum terungkap.
Karna itu, edukasi kepada masyarakat sangat penting. Khususnya dalam membuat laporan jika terjadi kasus. “Tapi banyak korban dan keluarganya yang takut melapor,” katanya. Di organisasi ini, SDM dibekali pelatihan keterampilan mandiri kewirausahaan. Adapun Bungah Gerecek diambil dari Bahasa Kutai. Artinya Riang gembira (Bungah) dan Cantik (Gerecek).

Back to top button