Samarinda

Pasar Dayak Dibangun dengan Konsep Sosioteknologi

Kondisi pasar di suatu kota adalah cerminan baik buruknya pelayanan pemerintah daerah kepada masyarakat. Wali Kota Andi Harun dalam satu tahun pertamanya dalam memimpin Samarinda terus berupaya membenahi sejumlah pasar tradisional.

Salah satunya adalah rencana perbaikan dan relokasi Pasar Dayak yang ada di Jalan PM Noor, Sungai Pinang, Kecamatan Sungai Pinang.

Untuk mematangkan rencana ini, rapat kembali digelar pada 9 Agustus 2021. Andi Harun menyampaikan bahwa rapat kali ini membahas rencana teknis pembangunan pasar.

“Jadi yang kita bicarakan tadi sudah teknis. Mulai dari akses jalan utama, pengadaan lahan. Juga ada tambahan jalan akses 6 x 60 m, desain bangunan, jumlah lapak, salurannya, dan tata ruangnya,” terang Andi Harun.

Pembagian tata ruang berdasarkan konsep yang telah dicanangkan yakni konsep pasar tradisional berbalut unsur kesenian.

“Untuk kegiatan pasar dari sisi kerajinan berapa, untuk sembako berapa, kemudian penunjang minimal 50 persen, seperti lahan parkir, saluran air, dan RTH,” bebernya.

Mengenai jumlah pedagang yang akan direlokasi, Andi Harun belum dapat memastikan. Sebab masih dalam tahap konsolidasi dengan pihak-pihak terkait.

“Masih konsolidasi ini. Berapa pedagang yang akan masuk, termasuk juga pedagang pasar Subuh,” jelasnya.

Namun mantan Wakil Ketua DPRD Kaltim ini menegaskan, yang menjadi prioritas mengisi lapak-lapak di pasar baru nanti adalah pedagang yang sebelum telah berdagang di pasar Dayak maupun pasar Subuh.

“Itu (pedagang pasar Dayak dan pasar Subuh) menjadi prioritas,” katanya.

Sementara dijelaskan, Kepala Bidang Cipta Karya PUPR Samarinda Muhammad Cecep Herly menjelaskan, rencana pembangunan pasar baru menggantikan pasar Dayak dan pasar Subuh mengusung konsep sosioteknologi.

“Sosioteknologi itu, teknologinya sebagai media di mana memposisikan masyarakat sebagai subjek pembelajaran yang baik dan bersih,” jelasnya.

Lanjut Cecep sapaanya, tantangan membangun di atas lahan berkontur rawa akan memakan biaya cukup besar.

Namun, dari diskusi yang dibangun bersama tim arsitektur menyiapkan rencana pembangunan dengan biaya murah.

“PU dalam hal ini membantu memberikan masukkan dari sosio engineering tadi,” imbuhnya.

Cecep menambahkan, mengenai kapasitas sesuai desai yang akan dibangun dapat menampung 108 lapak pedagang yang terbagi menjadi 3 kelompok.

“Ada tiga yang kita kelompokkan. Etnis fungsinya  ada display atau ada workshop seperti tenun akan kita fasilitasi, kemudian ada basah kering seperti daging dan ikan, dan kering seperti sembako,” pungkasnya. (advertorial) 

Artikel Terkait

Back to top button