Samarinda

Yang Terjadi setelah Mahkota II Ditutup, Ekonomi Masyarakat Terganggu, Macetnya Minta Ampun

Mahakama.co

Longsoran di kolong Jembatan Mahkota II gara proyek diduga kuat menjadi penyebab utama bergesernya pilar utama jembatan. Sehari setelah longsor terjadi, Senin (26/4/2021) Wali Kota Samarinda Andi Harun langsung mengambil keputusan penting untuk menutup sementara Jembatan Mahkota II. Hal ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sembari ditutup, dilakukan kajian teknis oleh Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ). Sampai kapan jembatan yang dibangun sejak 2017 ini akan ditutup, belum dapat diketahui.

Yang jelas, setelah hampir sepekan jembatan itu ditutup masyarakat Palaran dan Sambutan begitu kesulitan. Ekonomi masyarakat di kedua kecamatan itu pun mulai terganggu. “Secara ekonomi tentu pengeluaran bagi pengguna jalan lebih besar,” kata Suwarso saat di konfirmasi melalui via telepon (26/4).

Hal yang sama juga diutrakan Camat Sambutan, Yosua Laden. Salah satu efek penutupan jembatan ini, kata Yosua, warga harus memutar. Artinya ongkos akan lebih besar. Baik Yosua maupun Suwarso berharap penutupan jembatan tidak berlangsung lama. jika hal ini terjadi, maka biaya yang harus dikeluarkan masyarakat juga akan lebih besar.

Melianda, salah satu pekerja perusahaan swasta yang tinggal di Palaran merasakan betul sulitnya beraktivitas setelah jembatan ini ditutup. Maklum, dia bekerja di salah satu perusahaan ready mix di Sambutan. Saat jembatan ini ditutup, dia pun harus memutar lewat Jembatan Mahakam. Dari yang biasanya dia hanya perlu waktu 15 menit untuk sampai tempat kerja, kini dia harus menghabiskan waktu hingga 45 menit. “Bahkan kalau pulang bisa sampai 1 jam,” katanya.

Ini belum termasuk dampak lainnya yang juga dirasakan kelompok masyarakat lainnya, seperti pedagang. Sebenarnya bukan cuma masyrakat Palaran dan Sambutan yang dibuat susah. Wilayah yang berdekatan dengan dua kecamatan itu juga pasti terdampak. Masyarakat Samarinda Seberang yang ingin ke Anggana, Kutai Kartanegara (Kukar) juga harus menempuh waktu panjang. “Padahal biasanya, 30 menit sudah sampai di Anggana,” kata Awaluddin, mahasiswa Politknik Negeri Samarinda (Polnes) yang tinggal di Anggana. Kampus Polnes berada di Jalan Cipto Mangunkusumo, Samarinda Seberang.

Dampak lainnya, kemacetan di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, Jalan RE Martadinata hingga Jalan Gadjah Mada tak bisa dihindari. Kemacetan di sepanjang jalan menyusuri sungai ini terjadi karena semua kendaraan dari dan menuju Samarinda Seberang-Palaran pasti harus lewat Jembatan Mahakam di Jalan Slamet Riyadi, Samarinda Seberang. Menjelang waktu berbuka, kendaraan roda empat bahkan sampai tidak bergerak dalam waktu tertentu akibat macet. Saat Lebaran nanti, tingkat kemacetan dipastikan akan lebih mengerikan lagi. (rasyid)

Artikel Terkait

Back to top button