BacaanKomunitasSocio Cultural

Selain #DiRumahAja, Perang Melawan Covid-19 Bisa Dilakukan dengan Bersepeda, Asalkan…

Ramadan adalah momen paling pas untuk menumpuk pahala. Di Indonesia, puasa biasanya berlangsung 13 jam. Dimulai saat fajar terbit hingga tergelincirnya matahari.

Meski demikian, tak sedikit orang yang tetap berolahraga meski sedang berpuasa. Sebab olahraga diyakini membawa pengaruh positif terhadap tubuh agar tetap bugar dan sehat. Namun tak sedikit pula yang mengganti waktu berolahraga di malam hari.

Nah, tahukah kalian bahwa olahraga pada malam hari di bulan Ramadan sangat dianjurkan. Karena kalau dilakukan siang hari, memiliki risiko lebih serius bagi tubuh hingga menyebabkan dehidrasi.

Selain malam, waktu ideal berolahraga di bulan Ramadan adalah sore hari menjelang waktu berbuka. Sehingga ketika haus atau lapar setelah berolahraga, bisa segera diatasi dengan berbuka yang waktunya berdekatan.

“Olahraga sebaiknya dilakukan di sore hari, waktu menjelang berbuka puasa. Intensitasnya pun perlu disesuaikan dengan kemampuan,” urai Dokter spesialis gizi, dr Saptawati Bardosono, seperti dikutip dari Kompas.com.

Tapi kamu yang tetap pengin melakukan olahraga malam hari, beberapa jenis olahraga yang bisa dilakukan di antaranya olahraga di treadmill hingga bersepeda.

Nah, ngomongin bersepeda, di Samarinda saat ini tren gowes begitu marak di tengah serangan pandemi Covid-19. Pasalnya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada April akhir lalu, telah merilis panduan teknis tentang beraktivitas selama pandemi. Dalam panduan tersebut, WHO menganjurkan masyarakat untuk bersepeda dan berjalan kaki guna menghindari kontak fisik, serta memperlambat pandemi ini.

Mungkin atas dasar informasi itu, sangat mudah dijumpai puluhan orang bahkan lebih, Samarindans –sebutan untuk orang Samarinda– berlalu lalang memakai sepeda di ruas jalan protokol kota untuk berolahraga. Berbagai komunitas sepeda maupun perseorangan, tampak hilir mudik mencari keringat. Alasan mereka memilih malam hari, dikarenakan waktu tersebut dianggap sepi dari aktivitas harian warga. Sehingga penerapan social dan physical distancing masih tetap bisa diterapkan.

“Di bulan Ramadan ini lebih sering gowes di malam hari. Karena selain jalanan sudah sepi, juga lebih enak saja karena kalau siang kan kita masih puasa. Tapi perlu diingat, tetap jaga jarak, pakai masker karena Covid-19 masih mengancam kita, akan lebih baik jika bersepeda sendiri-sendiri saja,” ujar sekretaris Giseli Samarinda, Abdul Giaz. Giseli adalah sebuah komunitas sepeda lipat terbesar di Samarinda dengan jumlah anggota mencapai ratusan.

Perlu diketahui, budaya bersepeda di tengah pandemi memang tak selamanya mengkhawatirkan. Asal sesuai anjuran yang berlaku. Bahkan di banyak negara di Eropa seperti Denmark, Perancis, dan Inggris, kegiatan ini didukung pemerintah setempat.

Asosiasi Bersepeda Inggris (BA) juga bersuara dengan mengatakan sepeda dianggap potensi alternatif selama dan pasca pandemi Covid-19.
Sampai-sampai Perdana Menteri Inggris, Alexander Boris de Pfeffel Johnson atau dikenal dengan Boris Johnson mengatakan, pada masa ini sepeda seharusnya berada di posisi puncak kejayaan. Pasalnya di Inggris, seperti dikutip dari wartakota.com, warga diimbau untuk menghindari transportasi umum jika memungkinkan, ini karena menjaga jarak sosial tetap hal yang utama, terlebih transportasi umum memang dibatasi. “Ini seharusnya menjadi zaman keemasan baru untuk bersepeda,” urai pria 55 tahun kelahiran New York, Amerika itu.

Jadi, gowes di tengah pandemi sebenarnya enggak masalah tapi justru dianjurkan. Ayo gowessss. (*)

Artikel Terkait

Back to top button