Seni

Presentasi dan Peluncuran Album Musik Eksperimental “RITUAL”

Ritual lahir dari alasan praktis manusia dalam proses mencari kebajikan dan kebenaran dengan segala cara. Proses ini melahirkan suatu pola perilaku yang kontra intuitif dengan logika sebab dan akibat. Dengan ritual, orang-orang terlibat dalam perilaku yang diatur dan terpola dimana tindakan mereka tampaknya tidak menjamin hasil yang diharapkan secara logis. Dalam konteks waktu, Ritual selalu dilakukan dengan sengaja dan pada waktu yang dianggap tepat. Biasanya ritual dilakukan selama krisis, perubahan musim, atau ketika ada perubahan sosial dalam kehidupan mereka. Praktisi ritual secara intuitif ‘merasa’ bahwa ritual harus dilakukan karena adanya konsekuensi tak logis yang akan mereka terima jika gagal melaksanakan ritual tersebut.

Korrie Layun Rampan melalui bukunya yang berjudul ‘Upacara’ melihat bahwa pola perilaku ini membuat manusia hidup dalam proses ritual yang berkesinambungan. Aku sebagai tokoh utama dalam buku ini hidup dan ‘mati’ melalui berbagai “Ritual”. Ritual adalah hidup itu sendiri, kejadian dan pola perilaku disela-sela ritual hanyalah kumpulan elemen subliminal yang hadir untuk menopang dominasi ritual dalam proses kehidupan.

Muarasuara melalui perwujudan karya album ini, berusaha untuk memberikan impresi dan kontekstualisasi terhadap kondisi kota Samarinda hari ini berdasarkan novela ‘Upacara’ milik Korrie Layun Rampan. Pengalaman intuitif ‘Aku’ sebagai praktisi ritual di dalam buku ini, direfleksikan melalui olahan ragam bunyi 4 seniman dari Samarinda dengan 4 track yang secara masing-masing mewakili setiap bagian dari novel ‘Upacara’. Kekuatan utama dalam album ini adalah kontekstualisasi terhadap pengalaman ‘Aku’, yang berusaha disajikan melalui interaksi dalam dimensi ruang & waktu linier dan berulang.


Karya

Judul : Anan La Lumut

Nama Seniman : Volksgeist

Deskripsi Karya :
Karya ini lahir atas dasar impresi, refraksi, refleksi, interaksi dan kontekstualisasi yang dilakukan Volksgeist terhadap salah satu bab berjudul Anan La Lumut. Pengalaman transedensi spiritual tokoh ‘Aku’ pada bab ini, menggugah Volksgeist untuk menyusun satu satuan bunyi dengan tujuan melihat sebuah kesatuan fundamental yang mengakomodir aspirasi dua alam dan masa yang berbeda. Volksgeist secara sadar memasukkan pengalaman pribadinya dalam tiap-tiap hentakan bunyi yang tersaji dalam karya ini. Sebagai sebuah komposisi, karya ini dibuat dalam pendekatan bunyi yang atmosferik dengan menggunakan suara low dan middle-pitch ambience sebagai dasarnya. Perpaduan suara vokal dan alat bebunyian konvensional, seperti gitar dan juga keterlibatan soundscape menjadi kekuatan di karya ini. Satu olahan suara dengan metode Speech Composing juga sengaja dibuat terbata-bata dan tak beraturan sebagai representasi perasaan skeptikal dan kegagapan tokoh ‘Aku’ dalam menyikapi interaksi dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Secara keseluruhan, Volksgeist melalui komposisi bunyi ini berharap dapat menghadirkan sebuah pengalaman spiritual yang relevan dengan konteks bab Anan La Lumut dan konteks kehidupan di era sekarang.


Judul : Balian

Nama Seniman : Ule

Deskripsi Karya :
Karya ini merupakan cara atau upaya untuk mengkontekstualisasikan dari bab berjudul Balian, yang merangkum kejadian atau peristiwa hingga situasi-situasi dari pengalaman tokoh “Aku” ke dalam situasi hari ini, yang juga menjadi bagian dari keseharian kita, yang mana pada situasi tersebut mencakup nilai-nilai yang terus dipermasalahkan. Bebunyian yang diseleksi dan dihadirkan ini diharapkan mampu merepresentasikan gangguan atau distraksi dari arus informasi yang masif, yang di dalamnya terkadang memunculkan keraguan atau kegamangan.


Judul : Kewangkey

Nama Seniman : Sabrina

Deskripsi Karya :
Menggambarkan ambience dari salah satu bab di buku ini yang berjudul Kewangkey lewat media sound, ada suasa sedih, nostalgia, dan lega di dalamnya. Sedih karena kehilangan, nostalgia karena harus mengingat dan membuka kenangan bersama orang yang sudah tiada, dan lega karena keluarga yang ditinggalkan telah melunasi semua proses upacara hingga penguburan tulang belulang ini.


Judul : Pelulung

Nama Seniman : Faturrahman Arham

Deskripsi Karya :
Karya ini terinspirasi dari salah satu percakapan di halaman 128, yaitu saat Kak Usuk memberi nasihat kepada “Aku” yang berkata bahwa “Lelaki-lelaki di daerah ini harus bertarung melawan alam. Perempuan-perempuan di daerah ini adalah perempuan perkasa. Mereka melahirkan anak-anak alam. Tetapi mereka ditantang alam. Siap untuk kalah atau menang.” Dan setelah itu mereka melangsungkan pesta pernikahan yang damai dan tentram. Begitulah definisi dari karya ini yang terbagi ke dalam dua bagian.


Biografi Seniman

Mahakama.co

Faturrahman Arham (Samarinda, 1992) adalah seorang seniman musik eksperimental dari Samarinda, Kalimantan Timur. Ia menggeluti sebuah project Noise dengan Moniker JERITAN dan mengorganisir platform gigs bunyi eksperimental SENANDUNG RUSAK dan record label independen HIRANG RECORDS di Samarinda.

Mahakama.co

Sabrina Eka Felisiana (Balikpapan, 1988) adalah musisi experimental dari Samarinda. Dalam komposisi pada karya-karyanya, Sabrina menggunakan synth-sequencers yang dihubungkan ke beberapa pedal efek. Ia banyak merekam bunyi-bunyi keseharian yang didistorsi. Sabrina mempunyai grup bernama SARANA dan dia adalah co-founder dari Jaringan Records.

Mahakama.co

Syahrullah (Samarinda, 1988) atau akrab disapa Ule adalah seorang seniman dan organisator seni yang lahir di Samarinda. Bersama Lagu Lama Kolektif ia aktif mengorganisir pertunjukan musik dengan panggung sederhana dan menghadirkan band-band dari dalam maupun luar Samarinda. Ia juga tergabung di Sindikat Sinema, komunitas penyuka film yang kerap menyinggahi dan menayangkan film di sudut-sudut kota Samarinda. Sejak tahun 2018, Ule bergabung sebagai partisipan Milisifilem, sebuah platform belajar film dengan fokus pada bahasa visual. Di sana ia mulai mengembangkan ketertarikannya pada seni visual, drawing, dan performance art. Pada tahun 2021, ia melakukan residensi di Makassar Biennale 2021. Pada tahun 2018 dan 2019, Ule aktif menggagas dan berperan sebagai Manajer beberapa Festival seperti Naladeva Film Festival dan Muarasuara Sound Art Festival.

Mahakama.co

Volksgeist (Samarinda, 1994) adalah sebuah proyek solo, menggambarkan pengalaman pribadi dari pemuda asal Samarinda dengan menggabungkan banyak elemen-elemen bunyi yang terinspirasi dari kejadian-kejadian di dunia yang secara kultural mengubah perilaku. Ia juga terinspirasi dari bunyi-bunyi yang hadir di sekitarnya. Volksgeist berusaha menghubungkan konteks kejadian yang pernah terjadi di masa lalu dengan apa yang terjadi di masa sekarang sebagai refleksi bentuk.


Seniman
Faturrahman Arham
Sabrina Eka Felisiana
Syahrullah “Ule”
Volksgeist

Produser
Robby Ocktavian

Mastering
Theo Nugraha

Moderator
Rio Raharjo

Penelitian dan Pengembangan
Samar Project

Visual
Simpultulang (Ilustrasi)
robb_ock (Kolase)

Back to top button