BacaanSamarindaSport

Setelah 30 Tahun Baru Merasakan Juara, Benarkah karena Didukung Pemprov Kaltim?

Eh, bubuhanmu taulah, Liverpool, klub sepak bola di tanah Britania Raya yang terakhir kali tampil sebagai jawara Liga Inggris pada 28 April 1990 silam. Setelahnya, The Reds konsisten puasa gelar liga domestik hingga 30 tahun lamanya.

Dan musim ini, dahaga gelar itu tertuntaskan. Ya, Liverpool kembali memastikan diri sebagai juara Liga Inggris 2019/2020 setelah Manchester City, pesaing terdekatnya dalam perburuan gelar, tumbang 1-2 dari Chelsea di Stadion Stamford Bridge, pada Jumat 26 Juni 2020 lalu. Dengan hasil ini, sudah dipastikan raihan poin Liverpool tak akan bisa dikejar klub manapun, meskipun kompetisi masih menyisakan beberapa laga lagi.

Momen Liverpool meraih gelar juara ini benar-benar disambut haru penggemar setia mereka. Bagaimana tidak, demi menunggu tim kesayangan mereka angkat trophy lagi, banyak cerita kehidupan yang terjadi.

Diantaranya saat Liverpool terakhir kali juara pada 28 April 1990, kapten Liverpool musim ini, Jordan Henderson, masih belum lahir. Atau lebih tepatnya masih berada dalam kandungan sebab Henderson lahir pada 17 Juni 1990.

“Luar biasa, jujur sulit menjabarkannya dalam kata-kata. Tapi setelah peluit akhir pertandingan, rasanya luar biasa lagi, khususnya karena kami menghabiskan waktu bersama seluruh pemain dan staf,” terang Jordan Handerson, seperti dikutip dari situs resmi klub.

Perjalanan Liverpool musim ini memang sangat luar biasa. Meski sempat dihantui rasa cemas, akibat wacana menyelesaikan kompetisi Liga Inggris tanpa status juara, akibat Covid-19, mental skuad asuhan Jurgen Klop tetap terjaga, hingga akhirnya keluar sebagai jawara.

Dikutip dari SkorID, setidaknya ada beberapa catatan menarik yang di ukir Liverpool musim ini. Diantaranya, The Reds berhasil membubuhkan 18 kali kemenangan beruntun musim ini. 23 kali pertandingan tanpa kekalahan di Stadion Anfield, markas bersejarah mereka.

Lalu, sebelum dihentikan Watford, pada bulan Maret lalu, Liverpool bahkan tak pernah merasakan kekalahan selama 44 pertandingan. Dan dari total 19 trophy juara Liga Inggris yang diraih The Reds, ini didapat dalam 8 dekade berbeda.

“Cheers mate, 30 years of waiting is over (Patut dirayakan, penantian 30 tahun akhirnya berakhir),” sahut Greg Toplis, seorang warga Inggris sekaligus penggemar berat Liverpool yang pernah tinggal di Samarinda.

Keberhasilan Liverpool menjadi juara lagi di kompetisi lokal, memang tengah jadi perbincangan luas. Sampai-sampai, Wakil Gubernur (Wagub) Kaltim, Hadi Mulyadi ikut kehimungan.

Dalam rilis resmi media Pemprov Kaltim, Hadi Mulyadi tampak memberikan selamat, sembari lengkap memakai jersey kebesaran Liverpool. “Selamat Liverpool telah memenangkan Kompetisi Liga Inggris 2019/2020. Terus semangat berolahraga untuk kita semua Jaga kesehatan dan kebugaran,” terang orang nomor 2 di Kaltim itu.

Soal postingan Pak Wagub itu bahkan ada yang saja pelesetkan kalau keberhasilan Liverpool juara karena didukung Pemprov Kaltim. Hahahaha. Ada-ada saja.

Sayang, keberhasilan Liverpool merengkuh gelar juara Liga Inggris musim ini tercoreng akibat ulah sekelompok fans mereka. Sebab, perayaan gelar juara ini dihabiskan dengan pesta berlebihan, apalagi suasana saat ini tengah dalam balutan Covid-19.

Dilansir Daily Star, ribuan pendukung Liverpool berkumpul untuk merayakan pesta juara di Pier Head.

Pier Head adalah sebuah lokasi di tepi sungai di pusat kota Liverpool, Inggris. Lokasi ini terkenal karena merupakan bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO dan disana juga terdapat patung grup band The Beatles.

Di Inggris diketahui ada 159 ribu orang yang dinyarakan positif Covid-19, dengan total 33.086 orang meninggal dunia.

Liverpool sendiri telah mengeluarkan statement keras terkait tingkah laku sebagian fans mereka tersebut. Dalam pernyataan itu mereka menjelaskan bahwa sepanjang pekan lalu, mereka bersama Polisi Merseyside, Dewan Kota Liverpool dan Spirit of Shankly telah bekerja bersama untuk secara konsisten mengingatkan orang-orang bahwa kawasan itu masih terpengaruh secara tidak proporsional oleh pandemi Covid-19.

Mereka lantas meminta orang untuk merayakan kemenangan gelar Liga Premier LFC dengan aman. Sayang, beberapa ribu orang muncul di Dermaga George Pier Head pada hari Jumat 26 Juni kemarin. Sayangnya, beberapa orang memilih untuk mengabaikan pedoman jaga jarak sosial dan risiko keselamatan publik.

“Kota kami masih dalam krisis kesehatan masyarakat dan perilaku ini sepenuhnya tidak dapat diterima. Potensi bahaya dari puncak kedua Covid-19 masih ada dan kami perlu bekerja sama untuk memastikan kami tidak membatalkan semua yang telah dicapai sebagai wilayah selama lockdown. Namun ketika semua aman untuk melakukannya, kita semua akan bekerja bersama untuk mengatur parade kemenangan ketika semua orang bisa berkumpul untuk merayakannya. Sampai saat itu, keamanan kota kami dan orang-orang kami terus menjadi prioritas nomor satu kami,” terang rilis resmi klub. (*)

Back to top button