BacaanSocio Cultural

Siap-siap Ramadan Tanpa Tarawih Berjemaah dan Bukber: Ujung-ujungnya Salat Hari Raya Pun Terancam

Ramadan tahun ini enggak bakal mudah. Bukan karena godaannya yang bakal kelewat banyak, tapi justru larangannya over dosis. Ujung-ujungnya perayaan Idulfitri pun bisa jadi hanya dirayakan seperti hari-hari biasa. Tanpa takbiran keliling dan terancam tanpa salat Id dengan mengumpulkan masa yang besar. 

Padahal, kenikmatan beribadah saat Ramadan hanya bisa dirasakan setahun sekali. Namun pada tahun ini, suasana mendadak religius saat Ramadan mungkin berbeda dari biasanya. Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia menjadi penyabab.

Sebagai negara dengan umat Muslim terbesar di dunia, Indonesia selalu menyambut Ramadan dengan penuh suka cita. Tetapi tahun ini hal tersebut akan banyak berbeda. Anjuran untuk melakukan physical distancing sebagai upaya memutus rantai penyebaran Covid-19 bertentangan dengan pelbagai kegiatan umat Muslim di bulan suci ini. Maklum, selain ibadah yang diperbanyak, imbasnya saat Ramadan kegiatan pun akan bertambah. Seperti berlomba dengan segala macam kebaikan. 

Semenjak pandemi Covid-19 melanda Indonesia, banyak pejabat yang akhirnya memutar otak untuk melindungi rakyat dari wabah yang sampai hari ini sudah merenggut 200 lebih nyawa di tanah air. Salah satunya seperti yang disampaikan Menteri Agama, Fahrur Razi, 6 April lalu.

Mengutip dari Surat Edaran Nomor: 6 Tahun 2020 yang telah disebar luaskan pihak Kemenag, ada beberapa poin penting yang ditekankan Fahrur Razi. Diantaranya menginstruksikan Salat Tarawih dan Salat Id lebih lebih baik dilakukan secara individu. Tetap bisa berjamaah, namun hanya bersama keluarga terdekat. Ya, pada intinya segala aktivitas tetap di rumah saja.

Bahkan untuk tahun ini, Menag juga menegaskan bahwa kegiatan-kegiatan yang di fokuskan di musala dan masjid, untuk sementara ditiadakan dulu. Seperti peringatan Nuzul Quran dan Iktikaf di 10 malam terakhir Ramadan. 

“Surat edaran ini dimaksudkan untuk memberikan panduan beribadah yang sejalan dengan Syariat Islam sekaligus mencegah, mengurangi penyebaran, dan melindungi pegawai serta masyarakat muslim Indonesia dari risiko Covid-19,” ujarnya Menag.

Soal persiapan Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1441 H, seperti takbiran yang hanya boleh dilakukan di masjid atau musala. Bukan di jalanan umum. Khusus untuk pelaksanaan Shalat Id, ia masih menunggu fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait pedoman beribadah di tengah pandemi.

Instruksi yang mengatur perihal ibadah umat muslim di tengah Covid-19 ini disebutnya demi kebaikan semua pihak. Pun demikian Fahrur Razi turut menyarankan agar kegiatan halalbihalal atau silaturahmi ke sanak famili bisa dilakukan melalui media sosial, atau platform komunikasi seperti WhatsApp dan lain-lain dahulu. 

Ia pun berharap kesadaran semua pihak untuk dapat menerima instruksi ini dengan kepala dingin. Agar tidak memantik kontroversi ke depannya. Semoga hal buruk ini lekas berlalu agar Ramadan tetap meninggalkan kesan yang baik di hati setiap umat. 

Artikel Terkait

Back to top button