BacaanEkobisSamarinda

Soal Belanja Online, Bontang Mengalahkan Samarinda dan Balikpapan

Geliat E-commerce di Tanah Air terus berkembang pesat. Ditandai dengan semakin menjamurnya platform belanja online yang dengan mudah digunakan.

Pada 2019 lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) telah melakukan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang salah satu hasilnya bahwa tren belanja online disebabkan oleh pertumbuhan pengguna internet di Indonesia. Bahkan budaya belanja online sudah mewabah di daerah-daerah terpencil sekali pun di Indonesia.

Seperti diketahui, Jika dihitung menggunakan persentase, Kabupaten Yahukimo di Provinsi Papua menduduki peringkat kedua di bawah D.I Yogyakarta sebagai kota dengan generasinya yang paling sering menggunakan layanan E-commerce.

Adapun, jika dihitung melalui jumlahnya, kota Depok di Jawa Barat keluar sebagai terbanyak dengan 203 ribu milenial, disusul Jakarta Selatan dengan 193 ribu milenial.

Bahkan Samarinda sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Timur, merupakan kota dengan jumlah penduduk terbanyak di Pulau Kalimantan (812.597 jiwa, tahun 2015) justru tidak bisa menyaingi torehan milenial di kota tetangganya, Bontang. Kota Bontang yang berjarak 121 km di utra Samarinda itu diketahui masuk dalam 10 besar dengan angka 31 persen dari 43 ribu milenial di Kota Taman adalah pembelanja online. Bontang juga mengalahkan Balikpapan, yang disebut-sebut sebagai golden gate Kaltim.

Dengan jumlah penduduk 165 ribu jiwa yang terbagi dalam 3 kecamatan, tradisi berbelanja online ini memang tidak mengagetkan bagi orang-orang Bontang. Maklum gadget adalah barang biasa bagi Bontang yang menyandang status kota terkaya di Indonesia.

“Di Bontang, sudah menjadi kebiasaan yang nyata karena sistem E-commerce sangat memudahkan konsumen dalam berbelanja, dilihat dari segi biaya ongkos kirim dan kecepatan dalam pengiriman juga menjadi nilai tambah,” terang Budiman Septiyanda, selaku pebisnis muda yang bergerak dalam bidang konveksi di Kota Bontang.

Budi menambahkan, di tengah wabah Covid-19 yang tengah menyerang belahan dunia saat ini, menjadi faktor pendukung lainnya terjadi lonjakan dari konsumen. Baik itu dari Milenial, Generasi X, Generasi Z dan Baby Boomers.

“Situasi pandemi juga jadi alasan, yang membuat orang lebih condong melakukan pembelian secara online ketimbang offline di toko-toko yang ada di kota Bontang,” tambah pemuda yang juga pemilik Faraday Store itu.

View this post on Instagram

Free Sticker every purchase 👌 .

A post shared by Faradays Store Bontang ! (@faradays_store) on

Selanjutnya, efek kampanye #DirumahAja yang terus didengungkan banyak pihak selama pandemi disebutkan Budi juga menjadi sebab. Masyarakat Bontang juga diketahui tergolong patuh terhadap protokol kesehatan. Ini karena ketatnya penjagaan yang dilakukan instansi terkait, mengingat banyak aset kekayaan negara di kota ini.

“Atau juga terkait tentang inovasi dan perkembangan model yang lebih cepat update di pusat produksi (Jawa), sehingga konsumen lebih memilih menggunakan fasilitas berbelanja yang lebih praktis, aman dan harga terjangkau,” kata Budi.

Faktor lain, supremasi Kota Bontang juga tergolong peduli dengan geliat anak mudanya. Selain mendukung percepatan pembangunan internet di setiap sudut kota, juga tercatat ada berbagai perusahaan komunikasi nasional yang jaringannya sudah bisa digunakan berbagai jenis smartphone di kota tempat berdirinya perusahaan BUMN: Pupuk Kaltim dan Badak LNG itu. Diantaranya seperti, (3) Tri, Indosat Ooredoo, Smartfren, Telkomsel dan XL Axiata.

Oke, lupakan Bontang dengan pencapaiannya berada di 10 besar dalam hal berbelanja online. Kembali ke Samarinda. Tak mampunya anak-anak milenial Samarinda menyaingi tetangganya, dipengaruhi beberapa faktor. Satu diantaranya, melemahnya inflasi Kaltim. Seperti diketahui, memasuki akhir 2019 lalu Kaltim berada di titik terendah perihal inflasi: 1,25 persen. Atau bahkan persentase ini yang terendah dalam 10 tahun terakhir di Pulau Kalimantan. Nyaris sepanjang tahun lalu hal itu jadi sebab.

Hal itu dianggap sangat terasa bagi kota-kota yang terimbas. Hingga awal Januari lalu tercatat ada 10 kota yang terjadi inflasi dan dua kota di Kalimantan yang mengalami deflasi. Samarinda termasuk yang menjadi inflasi. Meski dalam kenyataannya statistik dari BPS Kaltim justru mencatat daya beli masyarakat tetap stabil di tengah kondisi itu.

Dalam ilmu ekonomi, inflasi merupakan proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-terusan yang berkaitan dengan mekanisme pasar. Ini disebabkan oleh berbagai faktor. Seperti konsumsi masyarakat yang meningkat, lalu meningkatnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi serta spekulasi. Juga termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang.

“Inflasi bisa saja terus terjadi sampai saat ini. Sebagai contoh dari rilis situs Pemprov Kaltim diketahui pada Januari 2020 terjadi inflasi sebesar 0,32 persen dengan tingkat inflasi tahun kalender sebesar 0,32 persen dan tingkat Inflasi tahun ke tahun sebesar 1,64 persen di Balikpapan dan Samarinda. Persentase ini bisa saja bertambah buruk karena pandemi Covid-19 saat sekarang,” kata pengamat ekonomi Kaltim, Suwita Rahmawan.

Rektor Universitas Balikpapan, Piatur Pangaribuan juga turut bicara perihal ini. Disebutkannya, tarif tol Balikpapan-Samarinda (Balsam) yang mulai diberlakukan efektif pertengahan Juni tadi, disinyalir akan memicu inflasi. Ini disebabkan oleh perubahan harga berbagai kendaraan sekitar seperti taksi dan komuditi transportasi yang akan naik.

Seperti diketahui, tarif tol pertama di Kalimantan ini adalah Rp 1.200 per km. Adapun panjang tempuh tol 97,99 km. “Jika itu terjadi, bahan-bahan pokok otomatis akan ikut naik. Jadi yang harus kita lakukan adalah menurunkan dulu tarif ini,” sarannya dikutip dari Tribun Kaltim.

Jika hal ini benar terjadi, tak bisa dipungkuri bahwa hegemoni anak-anak muda di Bontang, akan semakin panjang masa baktinya dibanding dua kota lainnya di Kaltim: Samarinda dan Balikpapan. (*)

Artikel Terkait

Back to top button