MahakamaX

5 Alasan Borneo FC Bakal Pergi Tinggalkan Samarinda

Borneo FC sudah lima tahun terakhir berkompetisi di hingar bingar sepak bola Indonesia. Selama setengah dekade ini pula mereka merasakan sensasi hebat berlaga dengan klub-klub lain dari seluruh Indonesia. Borneo FC bukanlah klub kaleng-kaleng. Mereka membuktikannya dengan selalu berada di deretan 10 besar tim terbaik di Indonesia beberapa musim kebelakang.

Bahkan, musim 2019 mereka nyaris nangkring di posisi runner up. Borneo FC juga menjadi satu-satunya tim yang mampu membayangi Bali United dalam perebutan gelar juara. Padahal secara materi, katanya tim ini dianggap biasa-biasa aja. Deretan prestasi Borneo FC diatas belum termasuk gelar juara Divisi Utama 2014 dan Piala Gubernur Kaltim 2016.

Musim ini skuad Borneo FC memang tak sementereng musim sebelumnya. Ya dulu, mereka silih berganti mendatangkan bintang-bintang ternama ke Samarinda. Namun diibaratkan sebuah majas; tiketmu adalah nafasku. Borneo FC pun bakal kesulitan berlari kencang tanpa dukungan penuh pendukungnya.

Dan berikut lima alasan yang bisa membuat Borneo FC pergi dari Samarinda;

1. Pengeluaran Besar


Mahakama.co

Tahukah kamu! untuk menghidupi sebuah klub sepak bola tidak semudah memainkan jari disebuah smartphone genggam. Diketahui bahwa, biaya perbulan sebuah klub sepak bola mencapai miliaran rupiah. Konon di Borneo FC, untuk mengaji pemain, staf pelatih, official tim beserta karyawan kantor, katering dan operasional harian saja bisa mencapai Rp 1 miliar perbulannya. Itupun belum termasuk biaya ketika tim melakoni laga tandang, biaya hotel dan transportasi ini memerlukan dana segar mencapai ratusan juta.

Namun demikian, ditengah pendapatan yang minim, pemain bintang dengan harga selangit tetap dihadirkan. Peribahasa “Besar pasak daripada tiang” mungkin cocok disematkan kepada tim ini.

2. Penonton Sepi


Mahakama.co

Pengeluaran yang tinggi untuk menghidupi sebuah klub tak sebanding dengan angka kehadiran penonton ke stadion. Jumlah penonton yang hadir di Stadion Segiri Samarinda selama pergelaran Liga 1 2019 hanya berjumlah 53.913 orang. Atau berada di tiga terbawah bersama Bhayangkara FC dan Kalteng Putra. Ini adalah yang terburuk sepanjang setengah dekade Borneo FC hadir di Samarinda. Angka ini jelas menjadi penghambat pihak sponsor datang menguyur dana segar. 

3. Pemerintah Daerah Kurang Perhatian


Mahakama.co

Berbeda dengan kota lain di Indonesia. Peran pemerintah di Kota Tepian terhadap klub sepak bolanya sangat kurang. Memang dalam Peraturan Mentri Dalam Negeri nomor 32 tahun 2011 dan 39 tahun 2012 terdapat aturan yang melarang penggunaan APBD untuk pembiayaan sepak bola. Namun bukan berarti peran pemerintah daerah dalam menyokong eksistensi klub sepak bolanya turut terhenti. Pemerintah Kota bisa turut serta mendukung dengan cara lain. Contohnya membangun dan merawat infrastruktur penunjang di kota tersebut. 

Di Samarinda yang terjadi justru berbeda. Fasilitas penunjang yang tak kunjung di upgrade serta semrawutnya akses menuju tribun dan berbagai kekurangan di sekitar stadion membuat orang enggan datang. Terutama toilet yang kondisinya sangat buruk. Bau pesing wal ai. Borneo FC bahkan harus mengeluarkan biaya ekstra dari kocek pribadi dengan mengandeng pihak ketiga untuk perawatan rumput lapangan. Imbas dari berbelit-belitnya persoalan ini, membuat Borneo FC juga gagal mendapatkan lisensi dari AFC sebagai klub profesional musim 2019 ini.

4. Tuntutan Tinggi


Mahakama.co

Sebagai satu-satunya tim Kalimantan Timur yang berada di pentas kompetisi tertinggi sepak bola Indonesia, Perjalanan Borneo FC bukan tanpa beban. Tuntutan tinggi terhadap klub ini “berprestasi” disematkan di pundak mereka. Jika melenceng sedikit, siap-siap menerima berbagai sumpah serapah, baik secara terang-terang maupun yang dikemas secara satir. Uniknya, cibiran dan asumsi pribadi itu dilakukan melalui dunia maya bukan. 

5. Terjebak Masa Lalu


Mahakama.co

Borneo FC tidak bisa terlepas dari bayang-bayang masa lampau. Tidak sedikit yang gemar bernostalgia dengan klub sebelumnya, lalu membanding-bandingkan gemerlap euforia dahulu. Meksipun dalam kenyataannya, Borneo FC terus berusaha mengukir prestasi untuk kota Samarinda.

Jika kondisi ini terus terjadi. Dan kehadiran penonton ke stadion tak berubah di musim depan. Tidak menutup kemungkinan, Samarinda akan kembali kehilangan klub sepak bolanya (lagi). Sebagai pengingat, bahwa Putra Samarinda (sebelumnya bernama Persisam Putra) pun dijual ke Bali karena persoalan yang sama. Yakni minimnya dukungan penonton ke stadion.

Artikel Terkait

Back to top button