MahakamaX

Di Tengah Ancaman Kepunahan, Kemunculan Pesut Mahakam Viral di Dunia Maya

Studi Tentang Pesut Mahakam, Petakan Lokasi Penyebarannya yang Konon Tinggal 81 Ekor

Jagat maya twitter heboh oleh video sekelompok pesut yang berenang riang di perairan Sungai Mahakam yang berwarna cokelat. Dalam video berdurasi 54 detik itu, si perekam juga tampak semringah bisa melihat sekaligus mengabadikan momen langka itu.

Dalam video yang dibagikan pertama kali oleh akun twitter @BahriBpp, kawanan pesut tampak bolak-balik bermain di bibir pinggiran Sungai Mahakam. Belakangan diketahui bahwa lokasi pengambilan video berada di Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Hal itu diperkuat dengan dialek dalam video tersebut, yang menggunakan bahasa Kutai, Tanah Hulu. Menurut, @txt_tenggarong, bahasa Kutai terbagi dalam tiga aksen: Kutai Tanah Hulu atau disebut juga Kutai Kota Bangun; Kutai Muara Ancalong; dan Kutai Tenggarong. Kutai Tenggarong merupakan bahasa kutai terbanyak yang digunakan.

Viralnya video Pesut Mahakam ini membuat berbagai media mengangkatnya. Sampai-sampai, menjadi trending topik di platform Twitter. Maklum, Pesut Mahakam merupakan hewan mamalia yang terancam punah.

Jika orang Kalimantan Timur kegirangan dengan kemunculan pesut, lain halnya dengan sebagian orang yang percaya bahwa ini adalah tanda bahwa kejadian besar akan terjadi. Sebab, menurut akun Twitter @BlackAnchor10 dalam mitologi kuno (Babat Tanah Jawi), ketika makhluk lain yang bukan alamnya masuk untuk berenang, itu berarti akan ada suatu pertanda yang akan terjadi.

“Semoga pertanda itu Covid segera berlalu. Karena hewan liar sudah bisa hidup di dua alam,” ujar pemilik akun Twitter @BlackAnchor10. Meski sebenarnya Pesut Mahakam sendiri adalah lumba-lumba air tawar.

Dilansir dari wikipedia, pesut atau lumba-lumba air tawar adalah marga mamalia air yang menghuni wilayah perairan tawar di India, Indocina, Filipina, Kalimantan dan Australia.

Lebih spesifik, pesut sering tampak terlihat di perairan Sungai Mahakam. Hal itu diyakini membuat namanya melekat dengan sebutan Pesut Mahakam. Pesut Mahakam memiliki panjang seukuran tinggi manusia dengan berat 12,3 kg saat lahir dan 123,5 kg ketika sudah dewasa.

Dua klub sepak bola ibukota Kalimantan Timur, Persisam Putra Samarinda dan Borneo FC Samarinda juga mengabadikan Pesut Mahakam sebagai ikon klub. Hal itu terbukti dengan disertakannya Pesut Mahakam di logo kedua klub tersebut. Tak hanya itu, keduanya juga menyertakan nama pesut dalam penyebutan julukan mereka. Pesut Mahakam untuk julukan Persisam Putra dan Pesut Etam untuk julukan Borneo FC.

Sebagai informasi, Pesut Mahakam juga menjadi maskot resmi Kota Samarinda. Bahkan di Kota Samarinda, sering dijumpai patung pesut di beberapa titik kota. “Pemilihan nama Pesut Etam sebagai julukan Borneo FC, ini untuk mengambarkan bahwa kami membawa nama daerah. Pesut Mahakam adalah nama hewan mamalia di Sungai Mahakam. Sedangkan Etam itu artinya: kita atau kami dalam bahasa Kutai. Sehingga penamaan Pesut Etam lebih bermakna,” ujar Reza Katamsi, Vice Marketing Borneo FC.

Lebih lanjut perihal pesut, dalam kesempatan ini, Mahakama.co lantas menghubungi Donny Fahrochi, seorang Samarindans yang pernah meneliti dan mempersentasikan Pesut Mahakam sebagai subjek dan hidrofon dalam objek skripsinya.

Dalam persentasi bertajuk “Monitoring Mamalia Bawah Air dengan Sistem Sonar SSBL Pasif di Sungai Mahakam,” sekaligus menjadi judul skripsinya itu, diketahui bahwa hasil peneliannya, selain bisa mengetahui perihal informasi tentang cara kerja SSBL pasif, juga dapat mengetahui data pola sebaran pesut di DAS Mahakam di Desa Sangkuliman, Kalimantan Timur. “Yang lebih penting bisa membantu literatur untuk konservasi pesut untuk ke depannya,” terang lulusan Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Mulawarman (Unmul) tersebut.

Penelitian ini berada di titik koordinat 0º14’15.744” LS 116º33’35,658” BT. Dengan memakai analisis data bio-sonar serta frekuensi k30-130 kHz hingga puncak frekuensi 80-100 kHz. “Dalam peneliatian saya bersama Dr Eng Idris Mandang, kami memakai peralatan 3 array SSBL. Array pertama dan ketiga, 3 hidrofon. Array kedua, 4 hidrofon. Penguatan 50dB/30 dB. Untuk Jarak pengamatan dari 0 sampai 500 meter. Dengan metode perhitungan konfigurasi sistem dan horizontal lalu diukur dengan 2 array. Lalu data diproses, diterjemahkan menggunakan fortran dan ditampilkan di matlab,” terang pria yang pernah menjabat Kepala Departemen Tim Nasional PSSI tersebut.

Apa yang dilakukan Donny Fahrochi dalam penelitiannya itu tak sia-sia. Sebab ia mampu memetakan persebaran secara 3 dimensi. Yang mana datanya diolah dari perekaman sistem berupa data CSV. Selain itu, sistem ini mampu memetakan pola sebaran pesut. Bahkan setelah memfilter, diketahui pula bahwa pola sebaran pesut lebih sering terlihat di antara 20-40 meter dengan kedalaman 0 sampai 10 meter dibawah permukaan sungai. Atau berada sangat dekat dengan titik pengamatan awal. “Dari sini juga bisa disimpulkan bahwa, trayek dan persebaran pesut yang menunjukkan eksistensinya di perairan Sungai Mahakam,” paparnya.

Niat Donny melakukan penelitian ini setidaknya membatah tuduhan bahwa orang asli Kaltim tak peduli dengan kelangsungan pesut. Ini juga jadi gambaran, sekaligus jawaban bahwa, masih ada kok, Samarindans yang peduli sedemikian jauh perihal ekosistem pesut Mahakam. Penelitian ini sendiri telah dipersentasikan di 2 tempat. Yakni pada “International Sympsium On Human Development and Sustainable Utilization of Natural Resources in Asian Countries and The 6th Korea-Thailand-Indonesia Joint Symposium On Biomass utilization and Renewable Energy” di Balikpapan, Juli 2012 dan di The 7th National Radar Seminar AndThe 2nd International Conference On Radar, Antenna, Microwave, Electronics And Telecomunications (ICRAMET), Surabaya, 27-28 Maret 2013 itu.

Sebagai simbol lumba-lumba air tawar di Provinsi Kalimantan Timur, upaya konservasi habitat pesut di Sungai Mahakam bukan tidak ada. Ya, setidaknya, ini menjadi angin segar dibalik kabar kepunahannya.

Dikutip dari Mongabay, area konservasi untuk Pesut Mahakam terus diperluas. Bahkan, Edy Damansyah, selaku Bupati Kabupaten Kutai Kartanegara dikabarkan telah menandatangani SK Pencadangan Kawasan Konservasi Perairan Habitat Pesut Mahakam seluas 43.117,22 hektar.

Yayasan Konservasi Rare Aquatic Sepsies of Indonesia (YK RASI) dalam rilisnya menerangkan jumlahnya pesut hingga Mei 2019 disebutkan hanya tersisa sebanyak 81 individu. Polusi suara akibat tingginya frekuensi kapal hilir mudik, serta geliat industri, juga sampah hingga jaring merupakan ancaman bagi habitat pesut. “Selama ini, angka kematian pesut di Sungai Mahakam mencapai 66 persen,” kata Danielle Kreb, Peneliti RASI.

Dengan telah dikeluarkannya SK pencadangan kawasan konservasi oleh Bupati Kukar, kabar kematian pesut yang memiliki nama latin Orcaella brevirostris di Sungai Mahakam tidak terdengar lagi. Selain itu, SK perihal ini bisa dijadikan langkah awal guna memperoleh status suaka dari Kementerian Kelautan dan perikanan (KKP). (*)

Back to top button