MahakamaX

Kiprah Balon Walikota Samarinda di Jagat Digital, Main Podcast hingga Bikin Website

Persaingan Merebut Hati Pemilih di Pilwali Samarinda adalah Persaingan Membuat Konten Menarik di Medsos

Tahulah bubuhanmu, jika pengguna media sosial (medsos) di Indonesia mengalami kenaikkan 20 persen. Pada awal 2019 lalu, riset yang dilakukan Wearesosial Hootsuite mendapati bahwa pengguna medsos di Indonesia mencapai 150 juta. Artinya 56 persen dari total populasi orang Indonesia aktif bersosialisasi satu sama lain yang dilakukan secara online.

Bahkan saking pentingnya medsos, Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji, secara terang-terangan meminta kampanye bagi pemilihan kepala daerah (pilkada) yang akan datang di berbagai daerah agar dioptimalkan di medsos saja.

Saran ini bukan tanpa sebab. Gubernur 57 tahun ini menilai pada masa pandemi Covid-19, cara itu disebutnya akan menurunkan risiko orang terpapar Covid-19. Selain medsos, mantan Wali Kota Pontianak itu berujar media elektronik juga bisa digali lebih dalam untuk memaparkan visi-misi calon kepala daerah.

“Efektif itu gunakan medsos, media cetak dan media elektronik lainnya. Jangan mengumpulkan orang ramai-ramai. Fokus saja sampaikan program,” urainya seperti dilansir Kompas TV.

Selain itu, kampanye lewat jejaring media juga bukan hal baru di Indonesia. Sebab pada 2014, kampanye penggunaan medsos melalui platform seperti Facebook, Twitter, dan Youtube, kala itu memiki peranan penting. Bahkan lewat kampanye media, kandidat politik akan terus berinteraksi dengan pendukung dan menerima dukungan dalam bentuk sumbangan dan relawan.

Menurut Berliani Ardha, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Jakarta, dalam jurnal: Social Media Sebagai Media Kampanye Partai Politik 2014, menerangkan kekuatan medsos untuk memengaruhi masyarakat didasarkan secara eksklusif pada aspek sosialnya. Ini berarti interaksi dan partisipasi yang bisa dilakukan melalui kampanye.

Selain itu turut disebutkannya, kampanye pada dasarnya adalah penyampaian pesan-pesan dari pengirim kepada khalayak. Apalagi dengan berkembangnya teknologi internet dan banyak penduduk di Indonesia menggunakan internet serta mempunyai medsos. Kala itu, Indonesia menempati urutan ke-8 di seluruh dunia.

“Penggunaan media sosial itu harus direncanakan, dikomunikasikan dan diprogram untuk meningkatkan kredibilitas partai. Komunikasi organisasi adalah pertimbangan yang penting untuk memastikan cukup interaksi dalam platform media sosial,” terang Berliani Ardha.

Di Samarinda, peran medsos memang tak begitu asing bagi kebanyakkan politisi. Bahkan bubuhan politikus boomers pun dipaksa melek akan media elektronik ini. Termasuk diantaranya tiga pasangan calon yang digembor-gembor bakal meramaikan hingar-bingar pemilihan wali kota dan wakil wali kota Samarinda periode 2020-2025, akhir tahun nanti.

Mahakama.co mengulik kiprah bakal calon wali kota-wakil wali kota Samarinda di jagat digital:

  1. Barkati – Darlis

M Barkati, pria yang kini masih menjabat sebagai wakil wali kota Samarinda ini, memiliki akun Instagramnya @barkatisamarinda02. Akun ini aktif menyebar aktivitasnya sehari-harinya. Interaksi Barkati dengan warga Samarinda juga turut disertakan. Lengkap dengan foto-foto terbaru.

HM Darlis, anak asli Samarinda Seberang ini disebut akan maju sebagai wakil dari Barkati di pilwali Samarinda mendatang. Sosoknya pun tergolong aktif berseliweran di dunia maya. Darlis yang juga Ketua DPW PAN Kaltim ini memiliki akun instagram dengan nama @darlispattalongi23.

View this post on Instagram

Semoga bermanfaat 🙏🏻

A post shared by HM Darlis (@darlispattalongi23) on

Darlis juga sering mengadakan seminar online. Membawa berbagai permasalahan yang hangat diperbincangkan. Beberapa saat lalu Mahakama.co juga telah mengadakan webinar online bertemakan “Tantangan dan Peluang Pengembangan Pembangunan Kawasan Samarinda Seberang.”

Dalam webinar yang juga dihadiri Ketua Hipmi Samarinda, Abdurrasyid Rahman dan Hairul Anwar selaku Dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis Unmul itu, Darlis begitu cekatan dalam mengeluarkan argumentasinya.

Douglas Hagar (2014) dalam Campaigning Online: Social Media in the 2010 Niagara Municipal Elections menuturkan, medsos bisa berkontribusi pada keberhasilan politik. Ini karena media sosial membuat kandidat dalam sebuah pemilihan bisa berinteraksi dengan para calon pemilih dengan skala dan intensitas yang tak bisa dicapai lewat pola kampanye tradisional seperti kampanye dari pintu ke pintu, brosur, bahkan peliputan oleh media cetak dan televisi.

  1. Andi Harun – Rusmadi

Andi Harun dan Rusmadi Wongso. Pengelolaan akun sosial duet ini, lebih banyak diperankan oleh Rusmadi Wongso selaku calon wakil wali kota Samarinda. Sedangkan Andi Harun yang memiliki akun instagram @realandiharun tak seaktif Rusmadi Wongso dengan akun @rusmadiwongso-nya.

Rusmadi yang pada pemilihan gubernur Kaltim lalu berdampingan dengan Irjen Safaruddin berada di peringkat kedua, dibawah pasangan Isran Noor-Hadi Mulyadi sebagai pemenang. Dia emang sadar betul bahwa medsos tempat paling efektif menyampaikan gagasan di era sekarang. Rusmadi juga rajin menerima tantagan on air di acara talk show bertemakan ekonomi dan tata kota dalam balutan podcast dan live streaming. Bicara dari segi biaya, biaya “kampanye” lewat medsos juga jauh lebih murah. Paling-paling, jatuhnya hanya perlu editor handal untuk mengeksekusinya.

  1. Zairin – Sarwono

Pasangan independen ini bahkan tak hanya bermain di medsos, namun juga membuat website dengan domain www.samarindabangkit.com yang dikelola tim relawannya. Di sana dipaparkan profil, visi-misi, lengkap dengan program unggulan keduanya.

Zairin Zain, peraih gelar doktor di Universitas Diponegoro, Fakultas Perikanan Jurusan Manajemen Sumber Daya Pantai ini memiliki akun instagram bernama @zairin__zain. Sama hal seperti calon wali kota dan wakil wali kota sebelumnya, Zairin turut menyertakan foto-foto interaksinya dengan warga Kota Tepian.

Lalu, ada Sarwono, pria kelahiran Balikpapan, 25 Januari 1972 ini adalah mantan anggota DPRD Kota Samarinda. Aktivitas kesehariannya juga bisa dipantau melalui instagram miliknya @Sarwono_smd. Namun, yang disayangkan jika maksud SMD diakunnya tersebut adalah Samarinda, ini jelas sebuah kekeliruan. Sebab, SMD menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) yang sudah diverifikasi dan diterbitkan melalui Badan Standarisasi Nasional (BSN), adalah singkatan untuk Sumedang. Sedangkan, singkatan untuk Samarinda ialah SMR.

Ya semoga saja, SMD yang dimaksud di sini adalah singkatan lain. Misal, SMD yang dimaksud adalah (S)arwono (M)aju (D)ahsyat. Bisa jadi kan! mana kita tahu. Namun sekali lagi, sebagai upaya sosialisasi singkatan Kota Samarinda yang masih terlalu banyak kekeliruan yang dijelentehkan oleh warga maupun pejabat publiknya. Tak ada salahnya, kita saling mengingatkan bahwa singkatan yang benar untuk Samarinda itu SMR.

Namun terlepas dari itu, bisa disimpulkan seluruh calon pemimpin Kota Samarinda dan pasangannya tersebut, masuk dalam katergori politikus yang aware terhadap gaya pandang anak muda terhadap dunia politik.

Medsos juga dinilai unggul sebab memberi kesempatan kepada pemilih untuk bisa melihat dan berdialog dua arah dengan para kandidat. Ini tidak seperti model kampanye tradisional zaman dulu, yang dianggap cenderung searah. Dengan medsos, politik para kandidat dan calon pemilih pun lebih multi arah.

Argumentasi ini diperkuat lagi Survei Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2018 silam, yang menerangkan 60,6 persen anak muda kelahiran 1995-2005 atau yang kita sebut generasi Z telah mengakses berita terkait politik melalui medsos. Sehingga pengelolaan konten medsos yang menarik berpotensi meraih suara terbanyak dalam pesta demokrasi. So, Samarindans, bersiaplah. Sebab nasib Samarinda berada di tanganmu. (*)

Artikel Terkait

Back to top button