MahakamaX

Menengok Aktivitas Gigolo di Samarinda: Ada yang Masih SMP, Pelanggannya Wanita dan Pria (1)

Seks. Kata yang sangat tabu jika dibicarakan di muka publik. Namun di balik rasa tabu itu banyak yang berusaha mendapatkan untuk bisa menikmatinya. Seks yang semula hanya menjadi hubungan intim dengan pasangan sah, kini telah bergeser menjadi sebuah transaksi untuk meraup uang. Transaksi ini bisa kita sebut sebagai sebuah industri seks. Ya, kini seks bukan hanya bicara aktivitas hubungan seksual. Seks juga sangat erat kaitannya dengan sebuah industri jual-beli pelayanan seksual. Pelayanan yang dilakukan oleh pekerja seksual ini sangat berkembang. Hal ini ditunjukan dengan mudahnya seseorang mendapatkan pelayanan seksual. Seseorang dapat menerima pelayanan seks saat mendatangi lokasi-lokasi tertentu. Bahkan saat ini juga dapat melalukan pemesanan layanan seks melalui media sosial (Facebook, Line, Instagram, WhatsApp, dll).

Jika saat ini masyarakat masih melabelkan pekerja seks hanya dilakukan oleh wanita, namun pada kenyataannya pandangan ini mulai bergeser. Sejalannya bisnis perindustrian seks, para pelayan seks juga kini diminati oleh para pekerja laki-laki. Sebutan bagi laki-laki yang menjajakkan atau menawarkan jasa/pelayanan seks biasa kita sebut gigolo.

Samarinda sebagai sebuah ibu kota provinsi telah memberikan ruang dan fasilitas publik yang cukup mendukung aktivitas masyarakatnya. Ketersediaan lapangan kerja, fasilitas publik seperti sarana pendidikan, ruang rekreasi, tempat perbelanjaan hingga tempat hiburan malam juga tersedia di kota ini. Menjadikan Samarinda sebagai salah satu lahan yang strategis dalam menjalankan industri jual-beli pelayanan seks. Para penjaja/pekerja seks laki-laki (gigolo) tidaklah semarak pekerja seks perempuan. Gigolo di Samarinda masih cenderung sedikit dibandingkan pekerja seks wanita.

Dalam karya tulis milik Mahrita, mahasiswi angkatan 2012 Program Studi Pembangunan Sosial di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Mulawarman (Unmul), dia menemui lima narasumber yang berprofesi sebagai gigolo di Samarinda dengan ragam latar belakang.

K, seorang karyawan swasta berusia 35 tahun, sudah satu dekade menjadi gigolo. D, seorang model menggeluti pekerjaan sebagai gigolo 4 tahun belakangan. J, 20 tahun, mahasiswa perguruan tinggi yang sudah 4 tahun menjadi gigolo. B, siswa SMA negeri dengan usia 18 tahun, telah 2 tahun menjadi gigolo. J, 14 tahun, seorang siswa SMP negeri yang baru 1 tahun menjadi gigolo.

Dari 5 narasumber tersebut, nampak terdapat dua orang yang masih berstatus “anak”. Dari kelima narasumber tersebut Mahrita dalam risetnya mengklasifikasikan gigolo menjadi dua kategori. Gigolo dewasa dan gigolo remaja. Para gigolo ini mengaku sangat menikmati profesinya. Gigolo dewasa berprofesi seperti itu karena alasan uang. Untuk mencari tambahan demi kebutuhan hidup dan biaya kuliah.

Berbeda dengan gigolo remaja, mereka sebelumnya mengaku hanya ikut-ikutan. Setelah melihat teman yang bisa dengan mudah mendapatkan uang untuk membeli pakaian, belanja di mal dan membeli kuota internet setelah berprofesi sebagai penyalur hasrat seks, tanpa harus berkomitmen.

Karya tulis yang diriset pada November 2018 ini juga menyebutkan masalah penyalur kebutuhan seks yang tidak hanya dirasakan oleh gigolo remaja. Ketiga narasumber lain juga menyatakan kelebihan dari profesi ini yakni mereka dengan mudah dapat menyalurkan kebutuhan seks. Bahkan saat ditanya jika harus memilih profesi mana yang harus dipilih, K, memilih gigolo sebagai profesi yang ingin terus digelutinya

“Banyak sih pekerjaan lain. Tapi gimana ya, saya sudah terlanjur senang dengan pekerjaan ini. Bahkan jika suatu saat nanti saya harus memilih dari kedua pekerjaan ini, saya akan memilih menjadi gigolo. Gigolo itu pekerjaan yang enak. Sudah kebutuhan seksual kita terpenuhui, kita dapat uang juga. Tidak takut sama yang namanya PHK,” kata gigolo yang berusia 35 tahun.

Dalam karya tulis berupa skripsi berjudul: “Dramaturgi Kehidupan Gigolo di Kota Samarinda” ini, disebutkan bahwa gigolo atau pekerja seks pria belum sepopuler pekerja seks perempuan. Jika pekerja seks perempuan identik dengan beberapa lokasi (lokalisasi) tertentu, maka berbeda dengan gigolo. Gigolo di Samarinda belum melakukan kegiatannya secara terang-terangan layaknya gigolo di daerah lain.

Aktivitas gigolo di Samarinda masih cenderung tertutup. Hanya dilakukan oleh segelintir orang saja. Ketika mereka belum mendapatkan pesanan/pelanggan maka gigolo akan pergi ke tempat-tempat ramai seperti mal atau tempat berkumpulnya kaum wanita, cafe dan sejenisnya. Saat mencari pelanggan baik pelanggan wanita ataupun pelanggan pria, gigolo akan berusaha menunjukan diri. Untuk menunjukan bahwa dia gigolo, mereka selalu berpenampilan yang menarik perhatian pelanggan (wanita/pria). Selain berbadan bugar mereka juga biasa menggunakan anting dan selalu membawa handbag. Mereka berpenampilan semenarik mungkin. Berusaha menunjukan bahwa mereka adalah gigolo.

“Memang harus berpenampilan menarik. Menggunakan anting dan membawa handbag. Biasanya sering nongkrong di tempat makan yang ada di mal. Kami jarang sekali dan hampir tidak pernah jalan seorang diri di mal. Kami selalu berkelompok.

Selain itu mereka juga bisa mendapatkan pelanggan dari media sosial dan perkenalan teman ke teman.
“Biasanya via telpon atau chat0\ (WhatsApp, Line, Instagram dan Facebook). Atau biasanya juga dari teman ke teman. Karena gigolo tidak memiliki germo atau mami…”.

Berbeda dengan pekerja seks wanita atau dikenal dengan istilah PSK, gigolo tidak memiliki bos (germo). Hal ini menjadi sebuah kebebasan atau keuntungan bagi gigolo dalam mendaptakan keuntungan saat menjalankan perannya menawarkan jasanya. Uang yang mereka terima dapat langsung dimanfaatkan tanpa harus dipotong ke bos.

Walaupun narasumber menjelaskan tidak pernah mematok harga untuk setiap pertemuan dengan pelanggan, namun terdapat varian harga. Untuk K dan D mereka cenderung memiliki kesamaan dalam melakukan transaksi dan dalam melakukan pelayanan pada para pelanggan. (*redaksi/bersambung)

Penulis: Ratna Purba

Baca Juga: Menengok Aktivitas Gigolo di Samarinda: Semakin “Romantis”, Tarif Semakin Tinggi (2)

Artikel Terkait

Back to top button