MahakamaX

Menengok Aktivitas Gigolo di Samarinda: Semakin “Romantis”, Tarif Semakin Tinggi (2)

Dalam karya tulis milik Mahrita, mahasiswi Program Studi Pembangunan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Mulawarman (Unmul) angkatan 2012, dia menemui lima narasumber yang berprofesi sebagai gigolo di Kota Samarinda dengan ragam latar belakang.

K, seorang karyawan swasta berusia 35 tahun, sudah 10 tahun menjadi gigolo. D, seorang model menggeluti pekerjaan sebagai gigolo 4 tahun belakangan. J, 20 tahun, mahasiswa perguruan tinggi yang sudah 4 tahun menjadi gigolo. B, siswa SMA negeri dengan usia 18 tahun, telah 2 tahun menjadi gigolo. J, 14 tahun seorang siswa SMP negeri yang baru 1 tahun menjadi gigolo.

Setelah mendengarkan cara kerja para gigolo ini, lantas berapa uang yang mereka dapatkan setiap pelayanan? Harga jasa K berada di kisaran Rp 750 ribu sampai Rp 1,5 juta. Sedangkan D di kisaran Rp 750 sampai Rp 1 juta. Aktivitas seks biasa dilakukan di hotel.

Ratna Purba yang melakukan riset pada awal 2019 ini, dalam karya tulisnya menyebutkan bahwa pelanggan yang melakukan aktivitas seks di hotel adalah dari kalangan kelas atas. Bahkan tidak jarang K dan D mendapatkan bonus tambahan ketika pelanggan mereka merasa puas. Selain kalangan kelas atas banyak pula pelanggan yang datang dari kelas menengah. Mereka biasa memilih melakukan aktivitas seks di rumah atau di kos pelanggan.

Dalam karya tulis berupa skripsi berjudul: “Dramaturgi Kehidupan Gigolo di Kota Samarinda” ini disebutkan bahwa untuk bisa menyewa jasa gogilo dapat dilakukan melalui beberapa cara. Yakni dapat melakukan perkenalan dari teman ke teman. Dapat pula dilakukan melalui chat via Facebook, WhatsApp dan lainnya “Biasanya via telpon atau chat (WhatsApp, Line, Instagram, dan Facebook). Atau biasanya juga dari teman ke teman. Karena gigolo tidak memiliki germo atau mami seperti perempuan PSK pada umumnya,” kata gigolo yang berusia 35 tahun.

Selanjutnya, penawaran harga berbeda datang dari informan lain, J. kata J dia mendapatkan Rp 500 sampai Rp 750 ribu. Bahkan harga ini dapat turun sesuai permintaan sang pelanggan. J sangat jarang mendapatkan ibu-ibu kelas atas. Hal ini jelas terlihat dari standar harga yang diberikan. Aktivitas yang diberikan oleh J biasa dimulai dari janjian di salah satu mal. Menemani makan atau nonton di bioskop, baru melanjutkan aktivitas seksual. Aktivitas seksual biasa dilakukan di rumah atau di kos pelanggan.

Selanjutnya B dan J yang masih menyandang status sebagai pelajar, mereka cenderung melakukan aktivitas sebagai gigolo bukanlah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun sekedar mencari tambahan uang jajan. Standar harga yang mereka dapatkan pun relatif lebih murah, dibandingkan gigolo lain. Hanya berkisar Rp 350 ribu sampai Rp 500 ribu mereka sudah dapat menjalankan peran sebagi gigolo.

Dari semua narasumber yang ditemui Mahrita pada November 2018 silam, diketahui bahwa gigolo yang disewa tidak selalu harus melakukan hubungan seksual dengan para pelanggannya. Terdapat pula beberapa pelanggan yang hanya menyewa jasa mereka hanya untuk sekedar teman jalan, teman makan dan teman nonton di bioskop.

Saat melakukan hubungan seksual para pekerja seks akan banyak mendapatkan tip ketika pelayanan seks yang diberikan memuaskan pelanggan. J menerangkan bahwa hampir setiap melakukan hubungan dia selalu mendapatkan tip atau uang tambahan dari pelanggan. Pelayanan J dimulai dengan melakukan hal-hal romantis saat melakukan kencan, baik di tempat makan, cafe, bioskop sampai pada pelayanan seks. Bahkan, semakin romantic pelayanan, tip yang mereka dapat juga bisa semakin tinggi. (*redaksi/habis)

Penulis: Ratna Purba

Artikel Terkait

Back to top button