MahakamaX

Nostalgia dan Penantian Revival Bioskop Lokal di Samarinda

Di era modern seperti sekarang menonton film sangatlah mudah untuk dilakukan. Bisa melalui TV, laptop bahkan handphone sekalipun. Namun sebelum barang-barang elektronik tersebut membanjiri pasaran, dulu saat ingin menonton film, kita harus ke bioskop. Kata bioskop berasal dari serapan bahasa Belanda: Bioscoop.

Menonton film ke bioskop merupakan suatu hal yang baru bagi masyarakat Samarinda sebagai bentuk hiburan pada sekitar 1950-an. Kehadiran bioskop membawa perubahan sosial dan kultural Samarindans —sebutan warga Samarinda. Salah satunya adalah strategi mencuri hati pasangan yang diidamkan. Mengajak nonton film ke bioskop sebagai salah satu teknik pendekatan personal bisa menjadi pilihan. Saat sebelum era bioskop di Samarinda, pilihan untuk mengajak pasangan mencari hiburan sedikit terbatas. 

Edisi kali ini Mahakama.co mengulas sekaligus mengajak bernostalgia dengan memberikan daftar bioskop yang pernah berjaya pada masanya. Daftar ini merupakan hasil himpun data kami dari berbagai sumber.

1. Bioskop Luxor
Bioskop ini terletak di Jalan Yos Sudarso. Sempat berganti nama menjadi Kutai Theatre. Lalu terakhir menjadi Mahakama. Di zamannya, bioskop yang berhadapan dengan Pelabuhan Samarinda ini merupakan bioskop termewah saat itu.

Mahakama.co
Foto : Bioskop Mahakama. History of Samarinda

2. Bioskop Glory
Bioskop ini diyakini sebagai Bioskop tertua di Samarinda. Sebelumnya Bioskop Glory berlokasi di Jalan Pelabuhan, namun terbakar dan berpindah ke Jalan Pangeran Dipenogoro. Sekarang di tempat yang sama menjadi Gedung Bank Permata.

3. Bioskop Samarindah
Berada di Jalan Panglima Batur yang sekarang masih berdiri dengan nama Gedung Nasional. Sekarang gedung tersebut kerap digunakan pagelaran acara seni dan acara lainnya.

4. Bioskop Wisma Citra
Bioskop kebanggaan masyarakat Samarinda Ilir. Lokasinya cukup terjangkau di Jalan KH Samanhudi. Saat tahun 1992-1993 di bioskop ini masih sempat menayangkan film Saur Sepuh.

5. Kaltim Theater
Terletak di area Red District Samarinda saat itu: Pinang Bebaris. Saat ini sudah menjadi Hotel Ibis dan Mercure. Bioskop ini terletak di lantai 2. Berdekatan dengan Toko Bobo tempat membeli seragam sekolah setiap tahun ajaran baru.

6. Bioskop Parahyangan
Terletak di jantung Kota Samarinda, yakni di simpangan Hotel Mesra. Bioskop Parahyangan merupakan bioskop yang masih eksis di tahun 90-an akhir. Sempat menjadi arena billiard, lalu sekarang sudah berubah menjadi Plaza Mulia. Banyak yang beranggapan bioskop CGV di Plaza Mulia merupakan reinkarnasi dari Bioskop Parahyangan.

7. Bioskop Wira-Wijaya Kesuma
Terletak di Jalan Merbabu. Walaupun cukup kecil, namun lokasinya sangat strategis. Dekat dengan kantor gubernur. Sekarang gedung bioskop ini telah beralih fungsi menjadi balai desa dan sasana bulutangkis.

Mahakama.co
Foto : Bioskop Wira-Wijaya Kesuma. History of Samarinda

8. Bioskop Garuda
Sepesialis menjadi bioskop yang menayangkan film-film dari Asia, seperti film India, film Hongkong dan film China. Bisa dibilang ini bioskop CGV tempo dulu yang ada di Samarinda. Lokasinya berada di Jalan Dipenogoro.

Mahakama.co
Foto : Poster film yang sedang tayang di bioskop Garuda. History of Samarinda

9. Bioskop Cendana
Terletak di Jalan Banggeris. Sekarang beralih fungsi menjadi arena futsal.

Mahakama.co
Foto : Bioskop Cendana. History of Samarinda

10. Air Putih Cinema
Berada di Jalan Antasari yang mana gedungnya saat ini telah berubah fungsi menjadi showroom Honda Semoga Jaya. Tetapi belakangan setelah Honda Semoga Jaya tak beroperasi, untuk sementara gedungnya masih “menganggur.”

11. Bioskop Surya Indah Samarinda Seberang
Merupakan salah satu bioskop yang populer di kawasan Samarinda Seberang. Berdiri di Jalan Bung Tomo, saat ini gedungnya sudah beralih fungsi menjadi arena futsal.

12. Bioskop Angkasa Biru Samarinda Seberang
Salah satu bioskop dengan Gedung yang cukup besar. Berada di Jalan Mas Penghulu, Kelurahan Masjid, Samarinda Seberang. Meski sekarang telah menjadi Gedung KONI Samarinda dan arena bulutangkis serta olahraga lainnya, penduduk sekitar masih menyebutnya dengan bioskop.

Sebenarnya masih banyak lagi bioskop lainnya yang belum masuk daftar di sini, namun kami pilih yang cukup populer pada masa itu.
Beberapa dari bioskop tersebut mungkin bagi dari sebagian Samarindans pernah mengunjunginya dan memiliki kenangan tersendiri dengan bioskop-bioskop tersebut. Seperti saat boomingnya film Ada Apa Dengan Cinta dan Petualangan Sherina yang diklaim sebagai titik balik kebangkitan sinema Indonesia. Namun kemajuan teknologi pada akhir tahun 90-an menuju ke tahun 2000-an membuat bisnis bioskop menjadi lesu manakala video player elektronik bernama VCD Player booming dengan harga yang tergolong murah. Belum lagi pembajakan film yang sangat mudah lalu dijual murah dalam bentuk kepingan VCD. Hal ini turut membuat anjlok bisnis bioskop. Selain itu tayangan stasiun televisi swasta yang mulai merebak juga menjadi salah satu penyebab redupnya minat ke bioskop bagi Samarindans. Satu per satu bioskop-bioskop di Samarinda gulung tikar. Selain juga karena dampak resesi ekonomi yang terjadi di Indonesia juga cukup berpengaruh terhadap matinya bisnis bioskop di Samarinda.

Diantara deretan bioskop tersebut sebagian besar merupakan bioskop dengan layar tunggal. Sementara bioskop yang memiliki layar lebih dari satu (multiplex) hanyalah bioskop Mahakama dan Parahyangan. Seperti Mahakama yang dikelola di bawah PT. Sakalo, perusahaan yang mengelola bioskop-bioskop serta distribusi film di bawah korporasi Samalo Group. Lalu Bioskop Parahyangan yang dikelola CV Kalimantan Jaya Film. Dua bioskop tersebut sempat masih survive sebelum jaringan bioskop nasional mulai memasuki pasar Samarinda. Hal ini seperti yang dituturkan Sandjaja Kosasih, pria yang pernah menjabat sebagai Manajer Operasional di kedua perusahaan tersebut.

Bisnis bioskop kembali bergairah kembali saat jaringan bioskop nasional Cineplex21 masuk ke Samarinda pada 2002. Berlokasi di Mall Samarinda Central Plaza (SCP) saat itu, bioskop yang memakai nama Studio21 tersebut membuka 3 (tiga) studio dengan kapasitas yang lebih besar daripada bioskop yang pernah ada di Samarinda sebelumnya. Bioskop ini juga merupakan bioskop franchise nasional pertama yang membuka studionya di Kalimantan Timur.

Perkiraan bakal sepinya penonton bioskop karena fenomena film bajakan dalam bentuk VCD dan DVD berhasil ditepis Studio21 dengan menawarkan kesan mewah dan nyaman selama menonton film di bioskop. Memang, bioskop lokal Samarinda saat itu, tidak ada aturan baku dalam menonton ke bioskop, seperti larangan merokok dan hal lainnya. Hal itulah yang membuat sebagian orang enggan untuk menonton ke bioskop. Di sisi lain, ini menjadi pembeda jaringan bioskop Cineplex21 dengan bioskop lainnya pada saat itu.

Saat ini bioskop di Samarinda sudah semakin banyak. Tidak hanya didominasi oleh jaringan Cineplex21 saja. Sejak 2019, CGV turut meramaikan bisnis bioskop di Samarinda dengan spesialisasinya menayangkan sinema-sinema Asia dan beberapa film yang tidak tayang dijaringan Cineplex21. Persebaran bioskop di Samarinda saat ini berlokasi di beberapa mall. Ada di BIGMall, SCP, Samarinda Square dan Plaza Mulia. Sementara bioskop-bioskop lokal yang sempat berjaya cukup disayangkan masih belum bisa hidup kembali. Semoga suatu saat nanti ada bioskop jaringan lokal yang bisa kembali revival dengan konsep yang berbeda dengan bioskop jaringan nasional.

Artikel Terkait

Back to top button