MahakamaX

Nostalgia di Citra Niaga dan Mengembalikan Kejayaannya: Coffee Shop Membuat Lorong Gelap Itu Kembali Bercahaya

Kalau Digarap Serius, Citra Niaga Bisa Setara Itaewon di Korsel dan Arab Street Singapura

Sebuah kota sudah selayaknya memiliki ikon sebagai suatu hal yang dapat dibanggakan. Begitu pula Samarinda yang memiliki Citra Niaga sebagai suatu kompleks perdagangan yang unik dan menjadi ikon dari kota Samarinda itu sendiri.

Jika kita mengenang kembali tentang Citra Niaga tentu saja tak lepas dari andil Wali Kota Samarinda saat itu, Waris Husein. Jauh sebelum berdirinya Citra Niaga, dahulu lokasi tersebut bernama Taman Hiburan Gelora (THG). Dibangun pada tahun 1968 dengan konsep memadukan antara perdagangan, hiburan dan ruang publik. Namun dalam perjalanannya THG mengalami kemerosotan dengan menjamurnya pedagang kaki lima (PKL) pada saat itu sehingga kehilangan konsep estetikanya.

Hingga pada 1985 atas inisiasi dari Gubernur Kaltim saat itu, Soewandi dan wali kota Samarinda Waris Husein yang ingin memberikan solusi atas kumuhnya lingkungan di sekitar THG dengan melakukan penataan. But with style, maka dibangunlah Citra Niaga yang sebagian besar mengisi komplek pertokoan itu berasal dari PKL yang mau bekerja sama untuk dikelola bersama Pemkot Samarinda.

Mahakama.co
Area alun-alun dan kios pedagang di Citra Niaga, pada tahun 1989. Sumber: sudutjalan.wordpress.com

Citra Niaga mencapai puncak kejayaannya saat meraih penghargaan Aga Khan Award pada tahun 1989 sebagai bangunan dengan arsitektur unik. Euforia masyarakat saat itu tak terbendung. Bahkan jumlah kunjungan ke Citra Niaga meningkat drastis. Pun juga dengan pendapatan pedagang yang membuka lapak di sana. Selain sukses secara ekonomi, proyek Citra Niaga juga dijadikan sebagai percontohan nasional dalam hal pengelolaan PKL yang merupakan permasalahan lazim di kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Pada 1995 era kepemimpinan Waris Husein berpindah ke Lukman Said sebagai Walikota Samarinda yang baru. Citra Niaga mulai menemui beberapa masalah dan tidak ada penyelesaian yang konkret. Banyak yang berpendapat bahwa Waris Husein mampu memberikan solusi nyata terhadap permasalahan di Citra Niaga saat itu apalagi ia terlibat langsung dalam perencanaan dan konsep Citra Niaga sehingga cukup memahami potensi-potensi konflik yang akan terjadi dan meredamnya.

Beberapa saran Waris Husein kepada Lukman Said pun sudah disampaikan, namun seperti tidak dihiraukan. Kawasan Citra Niaga yang dulu menjadi kebanggaan Samarinda perlahan memudar, seiring meningkatnya kasus-kasus kriminal. Belum lagi para pemangku kebijakan saling lempar tanggung jawab tentang permasalahan yang terjadi di Citra Niaga. Bahkan beberapa media di Kaltim sendiri turut memberitakan perihal tingginya tingkat kriminalitas di Citra Niaga. Seolah memberikan branding buruk kepada masyarakat. Pada akhirnya pesona Citra Niaga meredup hingga sekarang. Ini dikarenakan pengelolaan yang terkesan seadanya.

Mari kita cukupkan masa nostalgia tersebut. Saatnya membahas masa depan dari Citra Niaga. Sebuah gebrakan terjadi pada akhir 2019, adalah Kopi Sajen yang memulainya. Berbeda dari usaha lainnya yang kebanyakan menjual souvenir, sepatu, baju dan handphone. Kopi Sajen membuka coffee shop dengan konsep modern. Sebagai wadah berkumpul dan hangout bersama teman. Belakangan ini bahkan beberapa pengusaha muda mengikuti jejaknya dengan membuka coffee shop, tentu dengan konsepnya masing-masing. Selain Kopi Sajen yang saat ini sudah membuka tokonya ada Lokalo, Kopi Ngegas, Kopi Koma, dll.

Gerakan dari sebagian pengusaha muda yang berani membuka usaha di Citra Niaga sudah sepantasnya diapresiasi. Karena dari pemantauan Mahakama.co, kunjungan ke Citra Niaga terjadi peningkatan semenjak deretan coffee shop yang kami sebutkan di atas mulai beroperasi. Hal ini tentu saja menghidupkan kembali atmosfer Citra Niaga yang sempat terasa mati suri.

Kini lorong-lorong yang biasanya gelap itu kembali bercahaya dengan lampu-lampu dari deretan coffee shop yang mulai bergeliat.

Mahakama.co
Kopi Koma, salah satu tenant coffee shop yang meramaikan Citra Niaga

Kami menghubungi Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Samarinda, Ir Abdurrasyid Rahman dan menanyakan pendapatnya tentang ramainya usaha rintisan coffee shop yang menggeliat di Citra Niaga. Rasyid berpendapat bahwa hal ini merupakan suatu hal yang positif, di mana para pengusaha muda mampu untuk menggerakan dan mengubah ekonomi di suatu daerah. Apalagi menghidupkan lagi sentra ekonomi seperti Citra Niaga yang sempat mati suri. Namun yang musti diperhatikan adalah jenis usahanya.

“Dengan unit usaha yang homogen, potensi lumpuhnya suatu kawasan unit usaha akan lebih besar, karena masyarakat akan merasa jemu”.

Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Samarinda, Ir Abdurrasyid Rahman

Citra Niaga yang saat ini identik dengan unit usaha souvenir akan berdampingan dengan coffee shop. Menanggapi hal ini Rasyid kembali memberikan pendapatnya bahwa hal itu tidak menjadi masalah, seperti mencontoh di Malioboro Jogjakarta di mana pasar Beringharjo bisa berdampingan dengan unit usaha lainnya seperti kuliner, souvenir dan tempat tongkrongan.

Minimnya pengunjung ke Citra Niaga yang terjadi selama ini adalah hasil dari ketidakseriusan Pemkot Samarinda dalam mengelolanya sehingga yang terjadi seolah dikuasai oleh preman.

“Semestinya pemkot mencontoh apa yang dilakukan oleh Malaysia dan Singapore yang gencar mempromosikan objek wisatanya,” saran Rasyid seraya mengakhiri interview kami perihal Citra Niaga.

Dengan ramainya pengusaha muda membuka usaha rintisan di Citra Niaga, hal ini turut memberikan dampak positif yang signifikan terhadap image branding Citra Niaga. Sudah sepatutnya Citra Niaga menjadi plaza (tempat berkumpul) bagi Samarindans —sebutan warga Samarinda— dan layak untuk kita banggakan bersama.

Menghadapi tantangan ekonomi kedepannya Citra Niaga sudah seharusnya memiliki konsep yang baru, dengan mempertahankan arsitekturnya mungkin pengelola juga musti paham dengan apa yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Citra Niaga bisa saja dibuat konsep seperti kawasan Itaewon di Korea Selatan atau Arab Street di Singapore asalkan dengan perencanaan matang dan sinergi dari pemerintah dan pengusaha sehingga bisa menjadikan Citra Niaga bukan hanya sebagai objek wisata tapi penggerak ekonomi dengan kawasan yang unik hasil buah pikir Samarindans. (*)

Artikel Terkait

Back to top button