MahakamaX

Pandemi Mengubah Cara Kita Bersosial: Yang Setengah Gaptek Bisa “Tergilas” Covid-19

Covid-19. Hampir setiap hari —terutama dalam beberapa bulan terakhir— kerap kita dengar. Liputan tentang jumlah yang terinfeksi, meninggal dan situasi di berbagai daerah setiap hari kita terima dari berbagai media. Namun sadarkah kalian, bahwa virus ini sudah mengubah secara frontal cara kita bersosial.

Saat pandemi ini mulai merambah ke Indonesia, bagi yang bekerja di sektor-sektor perkantoran maupun pendidikan banyak yang menerapkan sistem Work From Home (WFH). Yakni tetap bekerja dari rumah tanpa harus datang ke kantor. Kebijakan ini diberlakukan imbas dari imbauan pemerintah tentang social distancing. Belakangan diubah istilahnya menjadi physical distancing. Tujuannya untuk melarang berkumpul dalam kerumunan.

Harapanya bisa memutus rantai penyebaran virus mematikan ini.
Semenjak WFH, rapat rutin yang biasanya dilakukan dengan tatap muka, beralih menjadi rapat online. Bisa dilakukan via komputer ataupun smartphone masing-masing dari rumah. Situasi seperti ini bagi perusahaan yang bergerak di bidang usaha digital —yang karyawannya melek teknologi— bukan suatu hal yang baru. Mudah saja dilakukan. 

Namun, coba bayangkan bagaimana repotnya mencoba menjelaskan soal kelas online kepada orangtua murid sekolah yang menggunakan smartphone hanya sekadar membuka WhatsApp, Facebook dan Youtube. Lalu kini, tiba-tiba dihadapkan pada penggunaan Google Classroom untuk kelas online anaknya? Sungguh stress dibuatnya.
Itu baru dari sisi orang tuamurid. Bagaimana dengan guru-guru yang belum melek teknologi? Sebagian mungkin ada yang sudah paham, tetapi bagi sebagian lagi yang belum paham, mesti mencari solusi lain agar kelas online tetap berlangsung.

Bagi kita yang terbiasa bekerja dengan efisien, tentu tidak menjadi masalah apabila penerapan teknologi dalam membantu pekerjaan diterapkan menyeluruh ke semua orang. Namun tidak sedikit juga yang bakal mengeluh agar tidak usah buru-buru menerapkan teknologi —kebanyakan generasi boomers yang bersikap seperti ini. Tetapi itu semua harus diterapkan manakala Covid-19 mewabah. Pilihannya antara berinovasi atau habis digilas Covid-19.

Walaupun tidak semua perusahaan dan instansi menerapkan WFH, namun dampak ini tidak hanya terjadi pada dunia industri dan perkantoran saja. Bahkan dalam berkehidupan beragama pun demikian. Kaum Muslim yang biasanya setiap Jumat melaksanakan ibadah berjamaah di masjid, namun dalam masa pandemi ini diimbau untuk salat Zuhur saja di rumah masing-masing. Yang Kristen atau Katolik, bahkan ada yang menggelar misa secara online (link misa online).

Dan ingatkah kalian ketika Najwa Shihab menggelar “konser online” untuk penggalangan dana? Jika hal ini dilakukan di masa normal tanpa pandemi, belum tentu semua musisi dan selebritis tersebut mau untuk menggelar “konser online”.

Bahkan karena masa pandemi ini sudah membuat sebagian besar orang untuk tetap di rumah, menjadikan inspirasi bagi band-band untuk membuat video clip melaluai video conference.

Sadar atau tidak, cara kita bersosial berubah cukup drastis selama masa pandemi ini. Teknologi berperan banyak dalam membantu mendigitalkan cara kita bersosial —selain tentu saja biang masalah semua ini yakni Covid-19. (*)

Artikel Terkait

Back to top button