MahakamaX

Salah Paham Soal Offside dan VAR

Banyak drama yang terjadi pada pertandingan Shopee Liga 1 2019 antara Borneo FC melawan Madura United, Rabu (18/9) sore di Stadion Segiri Samarinda. Laga yang berkesudahan dengan skor 2-1 itu memang berlangsung seru, kedua tim langsung jual beli serangan. Hal inilah yang membuat drama banyak dipentaskan diatas rerumputan. Namun dibalik itu, salah kaprah dalam pemahaman offside dan video assistant referee (VAR) jadi bumbu yang tak terpisahkan.

Seperti diketahui, khalayak ramai banyak membahas hasil dari laga tersebut. Berbagai reaksi baik pro maupun kontra turut menjadi bagian dalam dinamika persuporteran. Dimulai dari dianulirnya gol Borneo FC namun yang paling disorot yakni dua penalti yang didapat tuan rumah.

ONSIDE

Borneo FC sempat unggul lebih dahulu diawal laga saat Sultan Samma mencetak gol. Namun gol tersebut dianulir karena menganggap posisi Sultan Samma dalam posisi offside. Padahal disaat bersamaan terdapat satu pemain Madura United Jaimerson Xavier berdiri didalam gawang.

Padahal dalam IFAB Laws of The Game 2018-2019 diketahui meninggalkan lapangan tanpa izin dari wasit, maka pemain tersebut (tetap) dianggap berdiri di garis gawang sendiri hingga bola out/dikuasai tim ke luar kotak 16. Bahkan merujuk dengan IFAB yang sama ketika seorang pemain meninggalkan lapangan secara sengaja, maka harus mendapatkan peringatan dari wasit. Artinya gol Sultan Samma pada menit ke-3 itu mestinya 100 persen sah.

Itu juga diperkuat dengan kejadian yang sama, dipertandingan lain namun berbeda benua. Kala itu Manchester United melawan CSKA Moscow. Seorang pemain Manchester United keluar area pertandingan, namun tetap dihitung, sehingga gol CSKA Moscow tetap dinyatakan sah. (Lihat Video)

PENALTI

Penalti pertama Borneo FC di eksekusi penyerang asing asal Argentina Matias Conti. Saat itu kedudukan imbang 1-1. Jika gol, Borneo FC unggul. Namun sepakannya hanya mengenai tiang gawang. Ekspresi kekecewaan tampak jelas terpancar diwajah pemain yang telah mengemas total 16 gol itu saat bola memantul keluar meninggalkan area pertandingan.

Tak berselang lama, puncak drama terjadi di penghujung laga, saat penalti kedua kembali diraih Pesut Etam. Nyaris sama dengan proses terjadinya penalti sebelumnya. Di penalti kedua ini, pemain muda asal Ternate Muhammad Sihran Amirulloh kembali jadi aktor. Aksinya meliuk di daerah pertahanan Madura United dijegal paksa di kotak terlarang.

Ditunjuknya penalti pada menit ke-93 itu diprotes secara langsung oleh kubu Madura United, mulai pemain yang mengerumbuni wasit, hingga beragam reaksi official tim di bangku cadangan. Bahkan Laskar Sape Krerab mengancam untuk mogok, dengan menarik seluruh pemainnya ke pinggir lapangan.

Dalam moment ini, seluruh pemain Madura United tak terkecuali Haruna Soemitro (Manajer tim) memaksa wasit melihat rekaman pertandingan agar mengubah keputusan. Madura United berpendapat keputusan memberikan penalti di akhir laga itu tidak tepat dan merugikan mereka. Kapten tim Madura United Asep Berlian juga tampak berusaha terus menghampiri wasit Nusur Fadillah sambil memegang ponsel genggam, namun sang pengadil tetap tak bergeming.

Nusur Fadillah tetap pada pendiriannya, dan tak sedikitpun melirik ponsel pintar itu. Sikap Nusur Fadillah bukan tanpa alasan, pasalnya kompetisi di Indonesia sendiri belum menerapkan aturan tersebut (VAR).

Atas insiden ini, laga ini tertunda kurang dari 10 menit, hingga akhirnya Madura United mau menerima keputusan dan melanjutkan pertandingan. Eksekusi penalti kedua tuan rumah kali ini diambil Lerby Eliandry. Penyerang kelahiran asli Samarinda itupun dengan dingin menceploskan si kulit bundar mengecoh penjaga gawang Madura United, Muhammad Ridho. Penyokong Borneo FC pun bersorak sorai, tambahan satu gol itu tak hanya membuat Pesut Etam meraih kemenangan, namun juga mampu membuat posisi Borneo FC merangsek ke papan atas. (*redaksi)

 

Artikel Terkait

Back to top button