MahakamaX

Social Distancing Semakin Berantakan? Mungkin Sudah Memasuki Fase Terserah

Saat virus Covid-19 mulai menyerang Tanah Air, cara masyarakat dalam berinteraksi sosial berubah. Social distancing dikampanyekan, belakangan dibuah atau ditambahkan dengan istilah physical distancing. Istilah work from home juga dipopulerkan. Tidak ada aktivitas di kantor-kantor.

Sekolah diliburkan entah sampai kapan. Perusahaan untuk sementara ditutup. Pusat peribadatan, pusat perbelanjaan, pusat hiburan, rumah makan dan tempat-tempat yang berpotensi menimbulkan perkumpulan orang, semuanya ditutup demi memutus mata rantai Covid-19.

Suasana kota seketika sepi. Tidak ada lagi kemacetan, sekalipun di jam-jam sibuk. Semua orang memilih di rumah. Kalau pun ada yang keluar pasti dengan protokol kesehatan yang ketat.

Tapi itu dulu. Saat social distancing masih baru-baru diterapkan. Saat itu pun jumlah pasien positif Covid-19 di Kaltim masih hitungan jari. Di Samarinda bahkan masih satu orang, sejak diumumkan pertama kali 18 Maret silam.

Jelang Ramadan, akhir April lalu, lambat laun jantung kota mulai berdenyut kembali. Beberapa pusat perbelanjaan ada yang dibuka. Yang pertama adalah Mal Samarinda Central Plaza. Menyusul mal lainnya. Masjid yang sempat tidak mengadakan salat jumat berjamaah, kini “diam-diam” mulai salat berjamaah lagi.

Puncaknya adalah keramaian warga berburu takjil di Jalan Lambung Mangkurat. Sampai-sampai kemacetan di ruas jalan itu begitu panjang. Tidak ada lagi istilah social distancing. Padahal saat itu, Samarinda memasuki fase puncak penyebaran pandemi ini. Seperti yang disampaikan Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda dr. Ismed Kusasih saat peresmian RS Karantina Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes), beberapa waktu lalu.

Keramaian di Lambung Mangkurat mendadak viral. Meme yang membandingkan kondisi Filipina, Malaysia, Italia dan Lambung Mangkurat di Samarinda (Indonesia) saat menghadapi Covid-19 seoalah menjelaskan jika negara ini tidak pernah takut menghadapi virus asal China tersebut.
Masyarakat pun seperti terbelah. Ada yang tetap disiplin menerapkan social distancing. Tapi tak sedikit juga yang melanjutkan “bersemedi” di dalam rumah. Tapi mereka yang bersemedi ini pun lambat laun juga goyah. Kalau berdiam seminggu sampai 4 minggu mungkin tahan, tapi kalau sudah hampir 2 bulan cuma di rumah aja, siapa yang tahan? Memangnya lagi dipenjara.

Akhirnya, kelompok masyarakat yang disiplin pun imannya goyah. Memilih keluar rumah juga. Bersosialisasi kembali seperti biasa, meski masih diliputi oleh rasa khawatir.

Di tengah kegamangan warga dan terpecahnya sikap masyarakat, pemerintah seolah memberikan teladan yang kurang baik. Aturan yang sempat melarang semua jalur penerbangan justru dianulir. Ini membingungkan. Di satu sisi penerbangan tetap diperbolehkan. Padahal sejumlah daerah melakukan pengawasan ketat terhadap arus keluar masuk warga. Bahkan tak sedikit daerah yang melarang keras warga lain masuk.
Alasan pelonggaran PSBB sejumlah daerah katanya demi aspek ekonomi, tapi ekonomi yang mana?

Perlahan namun pasti aktivitas masyarakat sebenarnya mulai normal kembali, kecuali pedagang kecil yang masih harus lebih lama menderita. Pedagang kecil menjadi kelompok masyarakat yang paling dikorbankan. Kafe-kafe di tepi jalan misalnya, pasti langsung didatangi petugas tat kala ada keramaian sedikit. Begitu juga dengan aktivitas pasar malam di sejumlah wilayah di Samarinda yang ditutup total sejak dua bulan terakhir. Padahal di sektor ini sedikitnya ada 500 kepala keluarga yang menggantungkan hidupnya. Ini sesuai data yang disampaikan Dinas Sosial Samarinda seperti dilansir dari koran Samarinda Pos. Dalam keterangan Sekretaris Dinas Sosial Samarinda, Ida Nursanti, bahwa data penerima bantuan dari pemerintah ada tambahan sekitar 500 untuk pedagang di pasar malam.

Ketika pasar malam masih ditutup dan beberapa kafe dan tempat makan juga ditutup, mal atau pusat perbelanjaan mulai berdenyut lagi. Memang dengan standar protokol kesehatan yang ketat. Tapi tetap saja kerumunan tak bisa dihindari. Apalagi sekarang warga sedang sibuk-sibuknya berburu kebutuhan lebaran.

Nah, kalau sudah begini kampanye social distancing di tengah upaya menahan laju pandemi sepertinya sudah mulai diabaikan. Samarinda atau mungkin Indonesia mungkin sudah memasuki fase terserah, di mana ngomongin Covid-19 sudah begitu membosankan, kini saatnya beraktivitas normal, tentu dengan kenormalan yang baru. Toh, sikap masyarakat dan pemerintahannya sama saja. Sama-sama “mucil”. (*)

Artikel Terkait

Back to top button