ReviewMakan Di Mana?

Depot Sama Ria, Kenangan Bepe dan Rombongan Timnas saat Makan di Sini: Tinggalkan KTP karena Lupa Bawa Uang

Tulisan ini berawal dari twit Bambang Pamungkas tentang betapa ia tidak bisa melupakan coto makassar yang dimakannya pada 2007 silam di Samarinda. Mahakama.co mencoba menelusuri informasi mengenai coto ini. Dalam twit-nya, Bepe hanya menyebutkan soal lokasinya yang berada di dekat Pelabuhan Samarinda. Akhirnya kami menemukan depot tersebut. Namanya: Depot Sama Ria. Lokasinya tidak jauh dari Pasar Subuh di jalan Yos Sudarso, Samarinda. Depot ini menjual coto makassar sejak 1971. Mungkin saja menjadi depot coto makassar tertua yang masih bertahan di Samarinda.

Saat kami mengkonfirmasi Bepe —sapaan akrab Bambang Pamungkas— ia menuturkan bagaimana depot ini memiliki kenangan tersendiri baginya. Bepe yang saat ini sudah tak lagi aktif bermain sepak bola —namun masih aktif sebagai manajer di klub Persija— menggeluti hobi memasaknya dan membuat video blog tentang acaranya tersebut bernama The Nekat Chef. Apa yang menjadi kenangan Bepe, mungkin kombinasi antara porofesinya saat itu dan kegemarannya terhadap kuliner.

“Jadi saat itu saya beserta rekan-rekan lain sedang training center (TC) bersama Timnas di Samarinda pada tahun 2007 untuk persiapan Piala Asia,” terang Bepe memulai cerita. Memang saat itu Timnas sedang persiapan menuju Piala Asia dan juga infrastruktur stadion di Kaltim sedang berjaya, karena sedang dalam persiapan menuju perhelatan akbar Pekan Olahraga Nasional (PON) 2008 yang akan digelar di Kaltim.

“Setelah selesai latihan pagi kami ada berdelapan sepakat untuk pergi keluar hotel untuk mencari makan. Akhirnya kami singgah dan makan coto makassar di Depot Sama Ria. Saat udah selesai makan ternyata kami semua tidak ada satupun yang membawa uang,” seloroh Bepe seraya tertawa mengingat kejadian tersebut.

“Akhirnya kami tinggal KTP sebagai jaminan bakal membayar makan kami, saat itu KTP Hamka Hamzah yang jadi jaminan.”

Pantas saja Bepe tak bisa lupa akan momen tersebut karena ya lucu aja pergi makan tapi enggak bawa uang, hahaha. Namun apabila ditinjau dari sisi psikologis apa yang dirasakan Bepe tentang kenangan tersebut bukanlah aneh.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Professor Psikologi dan Ilmu Otak di Universitas Massachusetts, Susah Whitborne (ya, namanya susah, bukan susah dalam kata Indonesia) menjelaskan bahwa “Memori makanan lebih sensoris dibanding memori lain karena melibatkan kelima indra.

Jadi ketika anda benar-benar terlibat dengan stimulus maka efeknya lebih kuat. Memori makanan bersifat nostalgia karena ada konteks yang lebih luas menyertainya”.

Setelah berbincang-bincang dengan Bepe kami pun lantas menyambangi Depot Ria untuk uji rasa. Dari segi tampilan cukup berbeda. Kuahnya lebih gelap. Mangkuk penyajian juga lebih besar. Potongan daging dan jeroannya besar. Sangat puas jika kalian memang penikmat coto makassar.

Disajikan dengan tambahan garam dan sambal. Disuguhkan dengan 3 buah ketupat berukuran sedang. Jika kurang bisa minta tambah lagi ketupatnya.

Total yang kami harus bayar hanya 28 ribu rupiah saja dengan minuman es teh (harga tahun 2020). Yup, depot ini kami rekomendasikan sebagai tujuan kuliner yang sangat layak untuk dikunjungi apabila kalian berada di Samarinda. (*)

Artikel Terkait

Back to top button