Dengar Apa?Review

Review Album: ‘Schlagenheim’ dari black midi

Mengawali tulisan review ini, mari kita sedikit melakukan kilas balik pada Juli 2019. Pada shortlist yang dikeluarkan Mercury Prize Awards di 25 Juli, memang ada artis besar yang masuk pada ajang penghargaan musik tahunan untuk album terbaik di tanah Inggris dan Irlandia. Di list tersebut ada Foals, Anna Calvi hingga The 1975. Namun, ada satu nama yang menarik perhatian. Band experimental rock dari Inggris yang baru mengeluarkan album pertamanya juga nyempil di list itu. Mereka adalah black midi.

Siapa memang black midi? black midi adalah Geordie Greep, Matt Kwasniewski-Kelvin, Cameron Picton, dan Morgan Simpson. Dan albumnya, Schlagenheim yang rilis pada 21 Juni 2019 adalah contoh album debut yang mampu menghentakkan siapapun yang mendengarkan. Schlagenheim hadir dengan aura musik indie-rock eksperimental yang kaya dan harmonis. Terdengar jelas memang ego dan luapan idealisme dari band ini yang dituangkan penuh ke album Schlagenheim. 

Di trek pembuka “953”, kita diperdengarkan dentuman drum Morgan Simpson yang tak seirama namun tetap lembut dengan riff-riff gitar yang memacu adrenalin. Ah, tentu sebuah pembuka yang manis saat mendengarkan album ini.

Aura musik rock 90’s sangat kental di album Schlagenheim. Setelah trek pertama, kita akan diperdengarkan dengan “Speedway” dan “Reggae” yang warnanya jauh berbeda dari “953” namun tetap memiliki benang merah didalamnya.

Kemampuan black midi untuk menulis lagu-lagu yang menyelami dan menyelaraskan kembali sinapsis di tiap treknya yang membuat Schlagenheim menjadi hidup namun disaat bersamaan hancur berkeping-keping. Mereka bermain dengan penuh semangat dan enerjik, penuh imajinasi. “Near DT,MI” adalah contoh trek yang dipenuhi dengan oktan tinggi sementara “bmbmbm” yang nampaknya kedepannya akan menjadi anthem band ini adalah ilustrasi dari momen-momen dengan kecepatan yang luar biasa, dengan bahaya yang mengelilingi di sekitar.

Susah untuk menentukan lagu terbaik di album ini karena tiap trek memiliki kekuatannya sendiri. Black midi menggunakan apa yang telah dirintis oleh band-band serupa sebelumnya, namun menyajikannya sebagai sesuatu yang sama sekali baru.

Kini hanya menunggu waktu setelah Schlagenheim. Dengan segala potensi besarnya, hal apa lagi yang akan diberikan black midi selanjutnya? (*redaksi)

Artikel Terkait

Back to top button